My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
HANYA MENCINTAIMU



Di tempat lain Gavino langsung mematikan layar handphonenya setelah mengirimkan pesan terakhirnya untuk Elenora.


Hanya laki-laki bodoh yang tidak menyadari bahwa Elenora bagaikan permata yang tersembunyi di dalam lumpur. Akupun sebenarnya terlalu lama dalam ketidaktahuanku, sehingga butuh waktu tidak sebentar sampai akhirnya aku sadar bahwa Elenora adalah gadis yang patut untuk dikejar dan diperjuangkan.


Gavino berkata dalam hati sambil membayangkan bagaimana cantiknya Elenora tanpa kacamata tebalnya dan juga baju yang kedodoran seperti yang biasa dia pakai.


Beberapa waktu lalu Gavino sempat mendapatkan foto Elenora tanpa sengaja ketika mereka sama-sama menghadiri meeting penandatanganan kontrak kerjasama antara perusahaannya dengan Grup Xanderson.


Entah angin darimana, saat itu dengan keisengannya Gavino yang sejak bertemu kembali dengan Elenora sebagai admin yang menghubungkannya dengan Grup Xanderson membuatnya cukup tertarik dengan sikap dan karakter gadis itu, mencoba melakukan pengeditan terhadap foto Elenora, dengan menghilangkan kacamata tebal miliknya, mengubah tatanan rambutnya sekaligus mengganti pakaiannya.


Dan alhasil, kegiatan iseng Gavino menyebabkan dia sendiri melongo begitu melihat bagaimana foto Elenora yang terlihat begitu cantik setelah dia menghilangkan semua atribut yang biasa dikenakan oleh Elenora untuk menyembunyikan kecantikannya.


"Benar-benar permata langka yang begitu indah. Sayangnya dia sengaja menyembunyikan keindahan yang dia miliki." Gavino bergumam pelan sambil kembali tersenyum.


# # # # # # #


Begitu memasuki kamarnya, Ornado yang melihat Cladia sedang duduk di kursi, di dalam kamarnya yang menghadap ke arah taman mawarnya langsung tersenyum.


"Apa yang sedang kamu pikirkan amore mio? Apa kamu melamunkan aku? Kenapa belum tidur? Sebegitu rindunya kamu padaku setelah berpisah denganku tadi?" Ornado menundukkan tubuhnya, memeluk tubuh Cladia sambil berbisik lembut di telinga Cladia yang lagnsung menoleh dan dengan sedikit mendongak memandang ke arah Ornado, yang langsung mengecup singkat namun lembut bibir Cladia.


"Kamu sudah pulang Al? Kenapa pestanya cepat sekali berakhir?" Ornado langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Cladia.


"Pestanya masih berlangsung hingga sekarang. Tapi, tentu saja aku harus cepat pulang, karena sedari tadi makanku terasa tidak nyaman sama sekali." Mendengar perkataan Ornado, Cladia langsung menggerakkan kursinya yang memiliki roda dan menghadap ke arah Ornado.


"Kenapa? Jangan katakan kalau makanan yang disuguhkan Dario tidak menggugah selera makanmu. Atau... asam lambungmu naik? Sejak kapan kamu memiliki  masalah dengan asam lambung? Apa kamu baik-baik saja Al?" Melihat wajah khawatir Cladia dan mendengar begitu banyak pertanyaan dari bibirnya yang terlihat begitu menggoda bagi Ornado untuk mengecap rasa manisnya, membuat Ornado tertawa kecil.


Dengan gerakan pelan Ornado meraih sandaran kursi yang diduduki Cladia, menggerakkannya sedikit agar posisi Cladia benar-benar tepat berada di hadapannya.


Setelah itu dengan kedua tangannya memegang erat lengan kursi yang sedang diduduki Cladia dengan tubuh yang membungkuk, membuat tubuh Cladia berada dalam kungkungan kedua lengan kokoh Ornado, dan jarak wajah keduanya menjadi sedemikian dekatnya.


Apalagi wajah Cladia sedang mendongak menatap ke arah Ornado, membuat wajah mereka tepat berhadap-hadapan saat ini.


Wajah Ornado yang begitu dekat dengannya saat ini membuat Cladia bisa melihat dengan jelas indahnya mata biru, lentiknya bulu mata, mancungnya hidung dan juga... seksinya bibir Ornado yang sedang tersenyum lembut kepadanya saat ini, membuat debaran jantungnya semakin menggila.


Entah sudah berapa kali mereka berada dalam posisi yang begitu dekat, tapi bagi Cladia, kehadiran Ornado dengan tatapan dan senyum lembut juga penuh cinta kepadanya selalu saja berhasil membuat hatinya terbang tinggi dipenuhi dengan kebahagiaan, sekaligus membuatnya sadar sepenuhnya bahwa dia begitu mencintai suaminya itu, meskipun untuk saat ini karena traumanya dia belum bisa bersikap bebas sepenuhnya saat berada di dekat Ornado.


"Bagaimana aku bisa makan dengan tenang jika aku lidahku terus-terusan tergigit karena ada seseorang yang terus menyebutkan namaku dan menginginkan aku untuk segera pulang ke rumah, agar bisa menemaninya." Ornado berkata kepada Cladia dengan wajahnya yang sengaja menunjukkan pandangan menggoda kepada Cladia.


Tindakan Ornado sukses membuat wajah Cladia memerah dan wanita cantik itu bertusaha untuk segera mengalihkan pandangan matanya dari wajah suaminya yang masih dengan senyum menggodanya sedang menatapnya.


"Kamu ada-ada saja Al. Padahal aku tidak memanggil-manggil namamu. Itu hanya perasaanmu saja." Cladia menanggapi perkataan Ornado tanpa berani menatap ke arah Ornado, yang sikap mesranya selalu berhasil membuatnya selalu salah tingkah dan menahan nafasnya karena sulitnya menahan gejolak di dalam dadanya saat berada di dekat Ornado.


"Benarkah begitu? Ternyata istriku ini tega sekali ya. Jauh darimu membuat aku seperti ayam kehilangan induknya, yang kebingungan dan tidak tahu harus pergi kemana, hanya bisa berteriak keras, berharap induknya mendengar suara panggilannya, dan segera datang kepadanya. Berada di tempat lain, aku menjadi sakau hanya dengan memikirkan bahwa kamu jauh dariku, membuatku tidak bisa menikmati betapa cantiknya wajah istriku." Ornado berkata sambil menggerakkan salah satu tangannya ke dagu Cladia, dan menggerakkan wajah Cladia yang awalnya miring agar menatapnya kembali, sehingga mata mereka saling beradu pandang.


"Tidak bisa menyentuh rambut indahmu." Setelah Cladia menatapnya kembali, Ornado menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut hitam legam Cladia yang terurai.


"Tidak bisa mencium bau harum tubuhmu." Ornado berbisik pelan sambil hidung mancungnya bergerak menciumi leher jenjang Cladia yang tubuhnya sedikit tersentak kaget, tapi sebentar kemudian tubuhnya kembali tenang setelah Ornado mengelus lembut punggungnya, membuat Cladia merasa begitu nyaman.


"Dan aku merasa begitu rugi tidak bisa menikmati bibirmu yang selalu terasa begitu manis dan membuatku ketagihan." Setelah Ornado kembali berbisik pelan, bibirnya langsung bergerak ke arah bibir Cladia dan mulai menciuminya dengan penuh perasaan cinta.


Tidak butuh waktu lama untuk Ornado membuat Cladia ikut terlarut dalam kemesraan yang dia bawa, sehingga tanpa sadar, Cladia mengalungkan kedua lengannya ke arah pinggang Ornado yang masih dalam posisi membungkuk di hadapannya yang sedang duduk dan mencium bibirnya tanpa henti.


Sebuah senyum tersungging di wajah Ornado melihat bagaimana eratnya pelukan kedua lengan Cladia pada pinggangnya saat ini.


Ornado merasa begitu bahagia melihat bagaimana Cladia yang semakin hari semakin terlihat nyaman dan seringkali mengikuti kemesraan yang dia bawa, dan perlahan mulai terlihat jelas ikut membalas tindakan mesranya.


Seperti saat ini, perlahan namun pasti, Ornado memperdalam ciuman mereka, dan dengan sengaja mengeskplore bibir Cladia sambil tangannya yang satu terus mengelus tengkuk dan punggung Cladia agar dia merasakan cinta yang begitu besar dari Ornado melalui sentuhannya, dan berharap Cladia semakin berani menunjukkan ekspresi cinta kepadanya.


Cladia, satu-satunya wanita yang mampu membuat Ornado sebagai laki-laki hebat itu rela melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan untuk orang lain, dan juga satu-satunya wanita yang keberadaannya selalu membuat dadanya berdegup kencang, hatinya berbunga-bunga, seluruh otot-otot pada tubuhnya bereaksi, dan yang pasti, satu-satunya wanita yang mampu membangkitkan gairahnya, karena hanya Cladia yang dianggap Ornado sebagai seorang wanita baginya.