My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
INGIN MENGGANTIKAN ELENORA



Audrey langsung tersenyum dan mengerucutkan bibirnya ke depan sebelum membalas perkataan dari Dea.


"Aku lebih suka bukan aku yang diajak. Apa kamu tahu, pak James pergi bersama pak Ornado dan tamunya. Pak Ornado adalah bos yang tidak pelit jika itu menyangkut masalah gaji dan bonus. Tapi kamu tahu, pak Ornado bukanlah orang yang seramah pak James. Beliau lebih banyak diam dan bicara seperlunya di depan pegawai seperti kita ini. Aku tidak bisa membayangkan jika harus ikut perjalanan bersama pak Ornado yang dikenal hanya mau tersenyum manis di depan bu Cladia saja. Belum lagi, dengar-dengar tamu yang akan pergi bersama mereka adalah keluarga kerajaan Gracetian, yang rajanya dikenal keras dan arogan. Sepertinya, sifatnya hampir mirip dengan pak Ornado. Ih... bisa mati berdiri aku menghadapi para pria tampan tapi berwajah dingin dan tatapannya mematikan." Dea sedikit tertawa mendengar kata-kata Audrey yang sudah seperti orang yang sedang curhat.


"Benar juga...." Audrey menanggapi perkataan Audrey sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Aku tahu itu, tapi aku tetap saja ingin menjadi yang dipilih pak James untuk membantunya selama mereka pergi bersama. Pasti menyenangkan sekali bisa pergi berlibur dengan para pemimpin dan pria-pria yang bukan hanya tampan, namun juga tajir melintir itu.


Dea berkata dalam hati sambil membayangkan satu persatu wajah tampan dari Ornado, James, dan juga raja Gracetian, Alvero Adalvino.


Dea membayangkan wajah tampan Alvero yang sering dilihatnya di televisi maupun media sosial.


Siapa yang ingin melewatkan kesempatan berharga untuk bertemu dengan para laki-laki hebat di satu waktu dan tempat yang sama? Jika itu aku, aku pasti akan dengan senang hati mengambil kesempatan itu. Agar aku juga bisa memamerkan did epan banyak orang, pengalaman berhargaku itu. Pengalaman yang mungki seumur hidup hanya  bisa aku dapatkan sekali saja.


Dalam hati Dea berkata, dengan tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat begitu ingin menggantikan posisi Elenora.


Sebelum Audrey mengatakan bahwa tamu yang akan datang ditemui oleh Ornado dan James adalah Alvero, Dea sempat mencuri dengar dari seseorang tentang siapa tamu istimewa yang akan datang dan berlibur bersama dua pimpinan tertinggi di perusahaan Bumi Asia itu, beberapa hari lalu.


Dan begitu mengetahui bahwa itu adalah Alvero Adalvino beserta keluarga besarnya termasuk pangeran Enzo yang juga dikenal memiliki ketampanan yang luar biasa, tidak jauh dari sepupunya, Alvero… membuat Dea semakin tidak suka begitu mendengar bahwa Elenora sudah ditunjuk oleh James untuk menemaninya pergi bersama Ornado dan Alvero.


"Apa sebenarnya.... kamu ingin menggantikan posisi Elenora untuk pergi bersama pak James?" Pertanyaan Audrey yang tiba-tiba diucapkan dengan memotong perkataan Dea, sukses membuat wajah Dea yang sedang melamun, menjadi memerah dan salah tingkah.


"Bukan begitu maksudku..."


"Ayolah, tidak perlu pura-pura. Semua juga tahu kalau kamu terlihat begitu jelas menyukai pak James. Dan sebenarnya bukan hanya kamu. Sebagian besar gadis lajang yang ada di perusahaan ini juga mengagumi pak James. Hanya saja kami cukup tahu diri untuk tidak bermimpi terlalu tinggi." Audrey yang berdiri di samping Dea yang duduk di meja kerjanya, berkata sambil memandang ke arah Dea sambil tersenyum.


Audrey bukanlah gadis yang bisa dibilang jelek, atau bahkan dibilang pas-pasan.


Gadis itu memiliki kecantikan di atas rata-rata dan selalu tampil modis, didukung oleh sikap ramah dan baik hatinya, membuat banyak rekan-rekan baik senior maupun juniornya menyukai gadis itu.


Karena sikapnya yang bukan hanya supel, tapi juga kemampuannya dalam bidang kesekretariatan, juga membuat para pemimpin di tempat itu seringkali menjadikan Audrey role model bagi pegawai yang lain.


(Dalam teori kepemimpinan, secara sederhana arti dari kata role model adalah teladan. Menurut Wikipedia, role model adalah iperson who serve as an example, whose behavior is emulated by others; atau seseorang yang memberikan teladan dan berperilaku yang bisa diikuti oleh orang lain).


Sedang Dea, dia juga tidak bisa dibilang jelek atau biasa-biasa saja.


Audrey dan Dea juga sebenarnya tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat.


Akan tetapi karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka saling berhubungan dan bekerjasama, membuat mereka berdua sering bertemu dan mau tidak mau ada komunikasi yang terjalin diantara mereka berdua.


"Aku dengar bahkan sebenarnya keluarga pak James juga golongan keluarga yang kaya raya dan memiliki bahkan memiliki perusahaan sendiri. Hanya saja entah kenapa pak James memutuskan untuk ikut bergabung dengan Grup Xanderson." Audrey berkata dengan nada pelan, sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


Meskipun apa yang sedang dibicarakannya tentang James bukan pembicaraan mengeneai keburukan atau kejelakan James, tapi Audrey cukup tahu diri bahwa sebenarnya tidaklah etis membicarakan seorang pemimpin di belakangnya.


“Aku juga sudah mendengar banyak rumor tentang itu.” Dea berkata pelan.


“Sepertinya itu bukan sekedar rumor, berungtungnya gadis yang akan menjadi istri pak James kelak….”


“Audrey!” Sebuah panggilan dari James yang tiba-tiba saja berjalan dari arah lain, membuat Audrey hampir saja melompat karena kaget.


“Eh, i… iya Pak James.” Dengan cepat Audrey menggerakkan tubuhnya, agar bisa menatap lurus ke arah James yang semakin mendekat ke arahnya, untuk kemudian berdiri di depan pintu kantornya yang tertutup rapat.


“Panggil Elenora untuk datang ke kantorku sekarang juga.” Audrey sedikit mengernyitkan dahinya mendengar perintah dari James yang tidak seperti biasanya.


Jika itu James, dia yang terbiasa menghormati jam istirahat para pegawainya, tidak akan pernah memberikan pertah saat jam istirahat masih berlangsung.


Tapi siang ini, sepertinya perintah James untuk meminta Elenora datang ke kantornya merupakan sebuah perintah yang harus dilaksanakan secepatnya.


Aneh sekali, di jam istirahat seperti ini, tiba-tiba pak James ingin Elenora ke kantornya? Apa Elenora sudah membuat kesalahn besar yang membuat pak James marah? Atau ada kebutuhan mendesak sehingga pak James membutuhkan Elenora untuk membantu mengerjakannya? Ahhh…. Nasib Elenora benar-benar buruk. Dengan kemampuannya yang pas-pasan sebagai sekretaris, justru menjadi asisten pak James yang walaupun ramah dan jarang terlihat marah tapi merupakan orang yang perfeksionis.


Audrey berkata dalam hati, mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya sudah terjadi.


“Maaf Pak James, hanya mengingatkan saja… Bukankah ini masih waktu istirahat karyawan pak?” Dengan sikap ragu, dan coba-coba, Audrey mengatakan kepada James untuk mengingatkannya bahwa ini masih di jam istirahat untuk para pegawai di perusahaan itu.


Waktu yang sebenarnya merupakan hak mereka, yang biasanya tidak akan pernah diminta oleh para pemimpin perusahaan itu termasuk James, membuat Audrey emrasa begitu penasaran kenapa James hari ini meminta Elenora untuk menemuinya di tengah-tengah jam istirahatnya.