My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
HAMPIR SAJA CELAKA



Dario merupakan orang yang tanpa ragu, akan menyiksa orang yang tidak disukainya atau dianggapnya sudah melakukan kesalahan padanya, tanpa ampun dan belas kasihan sedikitpun.


Bahkan didikan Alberto yang selama ini begitu berusaha mendidiknya dengan baik, tidak berhasil mengubahnya menjadi orang yang tidak dipenuhi dengan rasa iri dan dengki.


Dengan bertambahnya usia, justru Dario menjadi sosok yang menyembunyikan sidat kejam dan semena-menanya dengan wajah dan senyum ramah yang selalu dia pertontonkan di depan banyak orang.


Sejak kecil, setelah kelahiran Ornado, Alberto sadar sepenuhnya bahwa Dario merasa tersaingi dan tidak bisa menyayangi Ornado seperti seorang kakak menyayangi adiknya.


Meskipun Alberto berkal-kali mengatakan kepada Dario, bahwa dia juga menganggap Dario seperti anak kandungnya sendiri walaupun saat itu hadir Ornado untuknya, Dario bahkan hanya menganggap perkataan Alberto sebagai angin lalu, dan dia sendiri terus hidup dalam rasa marah, tidak terima, iri, benci yang tanpa sadar menyiksa dirinya sendiri.


Sekali, ketika Dario masih kecil, Alberto pernah menemukan bagaimana tiba-tiba Dario yang diam-dima menyelinap di kamar bayi Ornado, dan dengan sengaja mengambil paksa bantal yang ada di kepala bayi Ornado yang belum genap berusia setahun, yang sedang tertidur lelap dalam keranjang bayinya.


Setelah melihat bayi Ornado tetap tertidur setelah dia menarik bantal dari kepalanya, Dario mengangkat bantal itu tepat di atas kepala bayi Ornado, berniat menutup wajah Ornado dengan bantal itu, agar bayi kecil itu kehabisan nafas.


Begitu Albero melihat itu, dengan cepat Alberto masuk ke dalam kamar dengan pura-pura berdehem dengan cukup keras, untuk kemudian melangkah mendekat ke arah Dario.


Tindakan Alberto membuat Dario tersentak kaget dan menjatuhkan bantal itu di ranjang bayi. Jatuh tepat di perut bayi Ornado yang tampak masih begitu menikmati tidurnya.


Sehingga tidak menyadari bahwa dia baru saja terselamatkan dari rencana jahat di Dario.


"Ah, kamu sedang ada di sini nak? Apa kamu sedang meninabobokan adikmu?" Alberto berkata sambil tersenyum ke arah Dario kecil yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya menyadari perbuatannya hampir saja diketahui oleh Alberto.


"Iya Pa." Dario menjawab pelan sambil menundukkan kepalanya, berusaha menghindarai tatapan mata Alberto ke arahnya.


"Anak baik, kamu harus selalu menjaga dan menyayangi adikmu, seperti kami juga berdua juga menyayangimu. Adikmu masih sangat kecil. Kamu harus selalu menjaganya agar dia jauh dari bahaya. Ketika adikmu sudah lebih besar sedikit nanti, kamu akan memiliki teman bermain. Bukannya itu akan mengasyikkan?" Alberto berkata sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Dario.


Pertanyaan Alberto saat itu hanya direspon Dario dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi Alberto bisa melihat bagaimana saat itu Dario bahkan tidak menunjukkan wajah menyesal sedikitpun.


Walaupun saat itu Alberto tidak memarahi Dario, tapi setelah itu Alberto mulai merencanakan bagaimana cara agar Dario untuk sementara waktu tidak berada di dekat Ornado.


Kebetulan beberapa waktu kemudian Alberto harus pergi ke Italia untuk waktu yang cukup lama, untuk mengurus bisnisnya, sehingga Alberto memutuskan untuk membawa Dario dengannya ke Italia, sedang istrinya dan Ornado tetap tinggal di Indonesia.


Apalagi orangtua kandung Dario terus meminta agar Dario kembali kepada mereka sejak kelahiran Ornado.


Hal itu menyebabkan Alberto akhirnya menyerahkan perawatan Dario kembali sepenuhnya kepada kedua orangtua kandung Dario, meskipun secara keuangan, dan semua kebutuhan Dario dari hal yang paling kecil, semuanya tetap di tanggung oleh Alberto, bahkan seringkali, beberapa waktu sekali Dario akan tinggal di mansion Alberto, untuk menemani Alberto.


Sehingga untuk beberapa waktu sampai Ornado berusia dua belas tahun, tidak banyak kontak antara Dario dan Ornado, karena Alberto hanya sesekali mengajak Dario mengunjungi istrinya yang ada bersama Ornado di Indonesia.


Untuk beberapa saat Dario berusaha keras untuk menerima kehadiran sosok Ornado sebagai adiknya, sampai pada akhirnya dia tidak tahan lagi ketika tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Alberto dan kedua orangtua James, bahwa sejak awal Ornado dan Cladia memang sudah dijodohkan.


Hal itu membuat Dario yang kala itu masih berusia remaja memutuskan untuk meminta modal kepada Alberto dan pergi ke luar dari kota Roma untuk memulai bisnisnya sendiri.


Selama beberapa tahun setelah meninggalkan Kota Roma dan sempat hilang kontak dengan keluarganya, akhirnya Dario kembali dengan membawa kesuksesan sebagai pengusaha muda di bidang make up dan obat-obatan.


Perilaku Dario yang kadang melakukan tindak kekerasan atau sesuatu yang melanggar hukum, seringkali menyebabkan Dario terlibat masalah.


Dan selama ini, hanya Dantelah, orang kepercayaan Dario, yang tahu dan mengenal dengan detail siapa sosok Dario yang sebenarnya.


Karena itu, Dante selalu menjadi orang pertama yang dipanggil oleh Dario untuk membereskan segala hal di sekitar Dario, termasuk apa yang baru saja terjadi.


# # # # # # #


“Apa?” Dea membulatkan matanya dengan sempurna, dan wajah terlihat tidak terima, begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Audrey kepadanya tentang tugas yang diperintahkan oleh James kepadanya.


Salah satu orang yang berpengalaman di bidang kesekretariatan itu baru saja meminta kepada Dea untuk menggantikan Elenora mengurus file-file yang sudah ditandatangani oleh James agar didistribusikan kepada masing-masing departemen yang membutuhkannya.


Dan pekerjaan itu harus dilakukan oleh Dea karena alasan besok pagi, Elenora dan James akan pergi bersama Ornado dan istrinya untuk berlibur bersama keluarga besar kerajaan Gracetian yang datang mengunjunginya sebagai seorang teman.


“Kenapa denganmu? Ini perintah langsung dari pak James. Kenapa kamu terlihat kaget?” Audrey yang selama ini tidak mengetahui bagaimana seorang Dea yang begitu antipati dengan keberadaan Elenora yang dianggapnya terlalu mudah mendapatkan posisinya sebagai asisten James, tampak mengucapkan kata-katanya sambil meletakkan tumpukan berkas yang dia maksud ke atas meja kerja Dea.


Kenapa Elenora? Kalau saja itu Audrey, aku bisa lebih menerima itu daripada gadis culun itu yang diajak oleh pak James.


Dea berkata dalam hati sambil menatap ke arah Audrey yang terlihat bersiap untuk kembali ke kantornya.


"Kenapa Elenora yang diajak oleh pak James? Bukannya kamu Audrey?" Dea sengaja memancing pertanyaan dengan menanyakan pada Audrey, kenapa bukan dia yang diajak, padahal sebenarnya dalam hati, Dea betul-betul tidak terima karena merasa harusnya dia yang diajak oleh James.


Audrey langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar pertanyaan dari Dea.


"Memangnya kenapa? Bukannya Elenora memang sekretaris pribadi pak James? Ya memang seharusnya dia yang diajak oleh pak James." Dengan santainya Audrey menjawab pertanyaan dari Dea.


"Ah, tidak apa-apa, hanya saja... kalau saja kamu yang ikut, pasti akan lebih banyak membantu pak James karena pengalamanmu yang jauh lebih banyak daripada Elenora yang masih baru." Dea mencoba menjelaskan alasannya kepada Audrey dengan berusaha tidak menunjukkan alasan dia yang sebenarnya, dan justru menggunakan nama Audrey untuk membuat niatnya tidak terbaca oleh Audrey.