My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
MEMINTA BATUAN PADA AHLINYA



Cladia.... Jelas saja, di dunia ini hanya ada satu orang itu saja yang bisa membuat Ornado mengesampingkan ego dan harga dirinya demi membuat kebahagiaannya tercapai. Ornado yang tidak pernah mau menjalin hubungan dan dekat dengan wanita manapun selama ini…. Siapa lagi kalau bukan Cladia, satu-satunya wanita yang bisa membuat Ornado yang hebat itu bertekuk lutut seperti itu.


Alvero berkata dalam hati sambil menahan sebisa mungkin tawanya yang benar-benar hampir meledak karena perkataan dari Ornado yang terdengar sedang kebingungan.


Suatu kejadian langka, karena bagi Alvero yang mengenal dekat Ornado, sahabatnya itu selalu bisa menguasai keadaan apapun yang terjadi di sekitarnya.


Tapi jika itu tentang Cladia, dia terlihat seperti seorang pria biasa lainnya, dengan perasaan cinta matinya pada wanitanya.


"Sepertinya istri tercintamu sedang meminta hal yang mustahil darimu ya? Kenapa kamu tidak berterus terang saja kalau memang kamu tidak pernah sekalipun berada di dapur, bahkan sekedar masuk ke ruangan yang dinamakan dapur itu?" Alvero bertanya dengan senyum lebar yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Ornado.


Masalah Ornado justru membuat Alvero ingin menggoda habis-habisan sahabatnya itu, karena jarang-jarang orang mendapatkan kesempatan dapat menemukan kelemahan Ornado.


"Ist... bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal seperti itu, sedangkan istriku memintanya dengan wajah dan pandangan mata memohonnya. Bisa-bisa dalam beberapa hari ini aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan wajah sedih dan kecewanya." Kali ini Alevero tidak lagi bisa menahan tawa gelinya mendengar keluh kesah dari Ornado barusan.


"Please Alvero. Jangan menertawakan aku. Aku benar-benar serius. Lebih baik aku melakukan yang aku bisa meskipun hasilnya tidak jelas, daripada membuat istriku kehilangan senyum manisnya untukku." Ornado berkata sambil menghela nafasnya.


"Kamu ini ada-ada saja Ad. Kenapa sih tidak berterus terang padanya memang kamu tidak pernah melakukan hal seperti itu? Apa istrimu adalah tipe  wanita yang galak? Tidak mau menerima masukan dan penjelasan dari orang lain?" Perkataan Alvero diucapkannya sambil kembali mengambil sikap serius.


"Sembarangan saja. Kamu tahu, istriku orang yang pendiam, baik hati, lembut dan anggun. Kamu boleh membandingkan dia dengan para putri di Gracetian. Dan aku jamin, entah itu kecantikan ataupun sikapnya tidak akan kalah dengan kalian para bangsawan." Alvero kembali menyungingkan sebuah senyum mendengar perkataan Ornado yang menunjukkan protesnya karena dia mempertanyakan kepribadian Cladia.


"Jangan marah Ad, aku hanya berpikir kenapa kamu tidak mau berterus terang kepada istrimu dan menyiksa dirimu sendiri." Alvero berkata dengan nada santai.


"Cih, kamu ini. Seperti orang yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang. Kamu tahu istriku orang yang sangat pengertian, tapi masalahnya, beberapa waktu ini setelah hamil, dia seringkali meminta hal-hal yang sedikit aneh. Aku sudah berkonsultasi kepada dokter kami, dan dia bilang, itu memang pengaruh dari hormon kehamilannya." Alvero sedikit menahan nafasnya karena baru ingat bahwa istri Ornado juga sedang hamil.


Hal itu membuat Alvero langsung maklum bahwa Ornado begitu bersikeras untuk menuruti keinginan istrinya walaupun mungkin kadang itu terlihay aneh atau sebenarnya begitu sulit untuk dilakukannya.


Sekilas Alvero melirik ke arah Deanda yang terlihat sudah kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya sambil menunggu Alvero menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Ornado.


Alvero tahu betul bagaimana hormon kehamilan seseorang kadang memang membuat orang emosi dan moodnya begitu gampang berubah dan tidak bisa dia kendalikan, termasuk Deanda yang Alvero ingat beberapa waktu lalu bersikeras ingin menikmati buah belimbing karena tanpa sengaja melihat foto buah belimbing ketika dia sedang mencari destinasi wisata yang indah di Indonesia, untuk wacana kunjungan mereka berlibur saat berlibur ke sana nanti.


Alvero sengaja melakukan hal itu untuk Deanda karena tidak tahan melihat bagaimana mata Deanda yang melihat ke arah layar komputernya yang sedang menampilkan gambar belimbing dengan wajah terlihat begitu menginginkan buah itu, secepatnya.


"Ah, ya, aku melupakan itu Ad. Aku lupa kalau istrimu sedang hamil. Kalau begitu, apa boleh dikata.... sebagai suami yang baik, sebisa mungkin kamu harus menuruti keinginan istrimu. Kasihan bayi dalam perutnya kalau kamu menolak keinginannya. Karena mau percaya atau tidak, kadang itu bukan keinginan pribadi istrimu, tapi mungkin itu permintaan dari bayi dalam perutnya. Beberapa waktu ini aku juga mengalami hal yang sama karena kehamilan permaisuriku. Ha ha ha." Alvero mengakhiri kata-katanya dengan tawa geli, membuat Deanda yang awalnya sedang mengamati formula baru dari devisi R&D langsung menoleh ke arah Alvero dan ikut tersenyum.


Yang mulia selalu saja terlihat gembira jika menerima panggilan telepon dari sahabatnya yang satu itu.


Deanda berkata dalam hati sambil kembali fokus dengan perkerjaannya.


"Justru karena itu, sekarang kamu harus membantuku. Entah seperti apa nanti hasilnya, sekarang jelaskan dengan cepat padaku cara membuat nasi goreng." Ornado berkata sambil sedikit membuka pintu kamar mandi tempatnya berada sekarang.


Dari celah lubang pintu, Ornado mencoba mengintip Cladia yang sedang mengobrol dengan kepala pelayan.


Huft... untung amore mio masih sibuk mengobrol dengan kepala pelayan sehingga tidak mencariku karena curiga aku terlalu lama di kamar mandi.


Ornado berkata dalam hati sambil menutup kembali pintu kamar mandi dengan sepelan mungkin agar tidak ada yang menyadari dia baru saja mengintip keluar sana.


“Sekarang katakan padaku secepatnya Alvero. Bagaimana caranya untuk membuat nasi goreng?” Dengan nada terlihat tidak sabar, Ornado segera menanyakan tentang bagaimana memasak nasi goreng kepada Alvero.


“Jenis nasi goreng seperti apa yang kamu inginkan? Nasi goreng versi negara mana yang akan kamu masak?”


“Haist, yang manapun, aku mana mengerti soal itu. Mau dari negara antah berantah atau negara manapun, asal enak tapi tidak sulit untuk membuatnya. Dan yang pasti, sebisa mungkin berikan padaku sebuah resep anti gagal.” Alvero langsung tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan dari Ornado.


“Resep anti gagal? Yang benar saja,  bisa-bisanya kamu meminta hal  seperti itu dariku. Aduh Ad, itu semua tergantung siapa yang mengerjakannya. Resep biasapun bisa menjadi luar bisa di tangan orang yang berbakat dan memiliki kemampuan memasak. Kalau kamu yang tidak pernah menginjakkan kakimu di dapur seumur hidupmu, resep termudahpun aku tidak berani menjamin hasilnya.” Alvero berkata dengan tawanya yang semakin keras.


“Hist, kamu benar-benar sahabatku bukan sih? Sepertinya kamu senang sekali bisa menertawakanku seperti itu. Kalau aku bisa memasak sepertimu, sepertinya kamu tidak akan memiliki hal yang bisa diandalkan lagi untuk mengalahkanku. Dan aku akan membuatmu secepatnya lengser sebagai raja Gracetian.” Kalau bukan karena Ornado adalah sahabatnya baiknya, Alvero akan tersinggung mendengar ancaman Ornado, tapi saat ini Alvero justru tertawa begitu keras karena baginya Ornado justru terlihat begitu menggelikan hari ini, demi untuk membuat Cladia merasa senang.