
Serafina yang jatuh terduduk sambil menyandarkan dahinya di kedua lututnya hanya bisa menangis, mendengar bagaimana nasibnya di masa depan sudah ditetapkan oleh orang-orang yang sekarang sedang berkumpul di ruang tamu, membicarakannya.
Dan yang lebih membuat Serafina merasa putus asa, karena salah satu orang yang memutuskan masa depannya adalah James Xanderson, sudah bisa dipastikan dia tidak akan bisa mengelak dari nasib buruk yang akan menimpanya, karena tidak mungkin baginya untuk melawan seorang James.
Satu-satunya harapannya jika ingin selamat, dia harus meminta bantuan pada orangtua James, yang pasti akan mendukung James karena posisi Elenora sekarang adalah menantunya, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk meminta bantuan mereka.
Dan yang lain adalah Ornado. Tapi mengingat bagaimana Ornado selama ini tidak pernah bersikap ramah padanya, Serafina sadar, meskipun dia berlutut di depan pria tampan berwajah dingin itu, Ornado tidak akan tergerak untuk menolongnya.
Baik orangtua Elenora dan Elenora sendiri hanya bisa menerima rencana James untuk Serafina tanpa bisa mengajukan keberatan ataupun protes.
# # # # # # #
“Sial! Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu mengumpulkan kami di sini dan menghajar kami tanpa alasan?” Salah satu dari preman yang pernah mencoba memperkosa Elenora berteriak dengan wajahnya yang terlihat berantakan, dengan memar di sana sini karena dihajar oleh seseorang yang mengenakan masker, sehingga para preman itu tidak bsia mengenali siapa ornag yang sudah menghajar mereka dengan membabi buta begitu orang itu datang ke sebuah gedung dimana para preman itu berkumpul.
Beberapa jam sebelumnya, para preman itu tiba-tiba ditangkap, diculik dan disekap oleh orang-orang yang tidak mereka kenal.
Ada yang sengaja diambil paksa dari rumahnya, ada yang di tempatnya bekerja, dan juga ada yang sedang ada di jalan, tiba-tiba saja dua orang berpakaian hitam, mengenakan masker dan kacamata hitam, tiba-tiba saja menyeret mereka ke dalam sebuah mobil van dan membawa mereka pergi dengan paksa.
Begitu mereka berada di dalam mobil, seseorang langsung menutup mata dan mulut para preman itu dengan kain hitam, sehingga mereka tidak tahu kemana mereka di bawa.
Selain itu, kedua tangan mereka juga diikat di belakang punggung mereka dengan cukup erat.
Setelah beberapa waktu perjalanan, mereka dihalau masuk ke sebuah ruangan berukuran besar, yang merupakan sebuah gudang yang sengaja dikosongkan.
Untuk beberapa lama, mereka dibiarkan dalam keheningan dan rasa takut, juga khawatir, karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan hal buruk apa yang akan menimpa mereka.
Dalam keheningan, karena mereka tidak bisa berbicara, akibat mulut mereka yang diikat dengan kain, dan juga dalam kegelapan, karena mereka tidak bisa melihat dengan mata yang tertutup, mereka terlihat semakin gelisah.
Sampai pada akhirnya mereka mendengar suara pintu yang terdengar di geser, dan dari suaranya mereka bisa mengira-ira bahwa pintu itu berukuran cukup besar.
“Buka mata dan mulut mereka!” Suara seseorang yang memerintah dengan suara tegas terdengar menggema di ruangan yang besar dan lengang itu.
Beberapa orang di dekat laki-laki yang baru datang itu segera melepaskan mata dan mulut para preman itu, tapi tidak dengan tangan mereka, yang tetap dibiarkan terikat.
Begitu mata dan mulut mereka dibuka, para preman itu saling berpandangan satu dengan yang lain, mencoba mengenali satu dengan yang lain, karena beberapa dari emreka memang sudah tidak lagi saling menjalin komunikasi.
Akan tetapi karena beberapa waktu sebelumnya mereka memang pernah berada dalam satu kelompok, tentu saja mereka saling mengenal satu dengan yang lain.
Dengan padangan heran, mereka saling berpandangan, karena tidak mengerti kenapa ada orang yang berusaha mengumpulkan mereka di tempat ini.
Setelah beberapa saat saling berpandangan, mereka semua mengarahkan pandangan matanya pada seseorang yang sedang berdiri tegak di depan mereka dengan kedua tangan terlipat di depan perutnya.
Dari penampilannya, cara laki-laki yang mengenakan masker di depan mereka itu, dan juga beberapa orang yang berdiri di belakangnya dengan sikap siaga, para preman itu tahu bahwa laki-laki yang sekarang sedang ada di depan mereka itu bukan laki-laki sembarangan.
“Tuan, apa yang Tuan inginkan dari kami? Kenapa Tuan membawa kami ke tempat ini dan dengan cara aneh seperti ini?” Pertanyaan dari salah satu preman yang sepertinya merupakan orang yang paling vokal, membuat laki-laki itu mendekat, dan tanpa di duga oleh orang yang bertanya, tiba-tiba laki-laki itu langsung memukul wajah preman itu dengan keras tepat di wajahnya.
“Supaya kalian bisa membayar lunas hutang kalian bertahun-tahun yang lalu!” Laki-laki itu berteriak sambil memukul para preman yang lain dengan satu pukulan yang keras.
“Lepaskan ikatan mereka!” Dengan lantang laki-laki itu kembali mengeluarkan perintahnya, dengan pandangan mata tajam yang menunjukkan kemarahannya.
Begitu ikatan tangan para preman itu dilepas, dengan membabi buta, laki-laki itu langsung menghajar mereka semua tanpa ampun.
Setelah mereka bebas bergerak dan bebas melihat sekaligus memaki dan mengumpat, mereka berusaha melawan laki-laki itu, bahkan mereka berusaha mengeroyoknya.
Sedang para pria berbadan tegap yang menyertai pria yang menghajar mereka itu, tetap berdiri di tempat mereka tanpa bergerak atau berniat membantu, karena perintah yang mereka dapat, agar mereka tidak ikut campur sama sekali ketika tuan mereka itu menghajar para preman itu.