
"Al, apa menurutmu Elenora dan James akan baik-baik saja?" Cladia berkata sambil menatap ke arah Ornado yang baru saja menuliskan pesannya tentang tugas mencari celorot sekarang juga untuk Cladia.
Dan komentar banyak orang yang mengaku belum mendapatkannya, dan merasa kesulitan untuk menemukan celorot di tengah malam seperti ini, membuat Ornado sedikit menghela nafasnya, dan menuliskan pesan untuk menaikkan lagi penawaran bonus tambahan yang akan mereka terima jika berhasil menemukan celorot, meskipun hanya satu saja.
Yang meskipun hanya satu, tapi harus dipastikan bahwa makanan itu masih dalam kondisi bagus dan segar, sekaligus enak rasanya, sehingga tidak mengecewakan Cladia.
Pertanyaan dari Cladia membuat Ornado mengalihkan pandangan matanya dari layar handphonenya, dan menatap lembut ke arah Cladia.
"Memang apa sih yang ada di pikiranmu sakarang? Apa yang bisa terjadi diantara dua orang yang saling mencintai? Memang menurutmu apa yang bisa terjadi pada mereka amore mio?" Ornado berkata dan dengan sikap gemas mengacak pelan rambut di kepala Cladia.
Setelah itu, dengan tangan yang sama Ornado berusaha merapikan rambut Cladia yang baru diacaknya tadi.
"Kalau aku melihat mereka berdua, aku tahu sejak lama mereka saling memendam perasaan cinta di antara mereka satu sama lain. Sejak dulu mereka berdua sudah seperti itu. James sejak dulu sudah memiliki ketertarikan kepada Elenora, hanya saja, dia tidak pernah mau mengakuinya secara terus terang dan terbuka, karena kejadian di masa lalu." Ornado berkata sambil meringis, dengan wajah terlihat sedang mengingat kejadian di masa lalu.
“Tapi Al, jika James benar-benar mencintai Elenora sejak dulu, kenapa sekarang dia terlihat seperti membenci Elenora?” Pertanyaan Cladia membuat Ornado menarik nafas panjang, sebelum akhirnya memandang ke arah Cladia yang sudah seperti anak kecil sedang menanti orangtuanya untuk membacakan cerita dongeng sebelum tidur.
“Ceritanya panjang. Orang yang terlalu dalam mencintai, jika disakiti... dalam waktu singkat, mungkin rasa cinta yang besar situ akan berubah menjadi sebuah sakit hati dan kebencian. Apalagi orang yang menyakitinya sampai detik ini tidak pernah memberikan penjelasan kenapa dia tega menyakitinya hari itu. Mungkin itu yang terjadi pada James.” Ornado berkata sambil mengelus lembut punggung Cladia, yang menyandarkan tubuhnya di samping kursi yang diduduki oleh Ornado.
"Apa Elenora pernah menyakiti hati James sampai sedemikian parah?" Dengan wajah penasaran, Cladia memandang ke arah Ornado yang sedikit tersenyum geli melihat tingkah istrinya.
"Aku baru tahu kalau teranyata kamu senang bergosip ya." Ornado berkata sambil mencubit kecil puncak hidung mancung Cladia yang langsung tersenyum dengan wajah malu-malu karena sindiran dari Ornado.
"Bukannya begitu Al... aku hanya...."
"Aku hanya bercanda. Aku tahu karena kamu begitu perduli dengan Elenora, makanya kamu merasa begitu penasaran tentang gadis polos itu. Apa itu artinya kamu juga akan selalu penasaran tentang aku?" Ornado berkata sambil tersenyum lebar ke arah Cladia yang langsung meringis.
"Aku penasarasan tentang kamu bukan karena perduli padamu. Tapi karena aku begitu mencintaimu, satu-satunya pria yang membuatku begitu ingin tahu detail apapun tentangmu. Membuatku begitu penasaran, karena cintamu yang sungguh luar biasa untukku." Cladia berkata pelan sambil tangan kirinya terulur ke arah leher Ornado, dan bergelayut manja di sana.
Sebuah tindakan Cladia yang sukses membuat Ornado menahan nafas dan berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang seringkali menggila saat Cladia menyentuhnya dengan mesra seperti sekarang ini.
"Al..." Panggilan pelan dari Cladia yang terdengar begitu lembut langsung membangunkan Ornado dari angan-angannya yang sudah kemana-mana tadi.
"Eh, ya, kenapa amore mio?" Melihat bagaimana salah tingkahnya Ornado saat ini membuat Cladia tersenyum sambil tangannya terulur, mengelus wajah suaminya, lalu bergerak ke arah leher Ornado dan menariknya agar mendekat ke arahnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan barusan Al? Kita masih di jalan sekarang. Ceritakan padaku tentang James dan Elenora di masa lalu, dan angan-anganmu barusan bisa segera kita jadikan kenyataan setelah kita sampai di resort." Bisikan yang begitu pelan dari Cladia yang sungguh mulai berani menggodanya, membuat Ornado menggigit bagian bawah bibirnya dan memandang ke arah Cladia dengan tatapan gemas.
"Sepertinya sekarang kamu mulai nakal ya. Siapa yang mengajarimu? Apa Bee yang melakukannya?" Ornado membalas bisikan lirih Cladia sambil mengecup mesra kening wanita tercintanya itu dengan sepenuh hati, dengan senyum penuh cinta tersungging di bibirnya.
"Ti amo Al." Bisikan lembut dari Cladia membuat senyum di wajah Ornado semakin melebar.
"Ti amo tanto anche io amore mio. Sono tutto tuo." (Aku juga sangat mencintaimu amore mio. Aku milikmu sepenuhnya). Ornado segera membalas ungkapan cinta Cladia untuknya sambil tanpa henti mengecupi puncak kepala Cladia yang sedikit menggeliatkan tubuhnya karena merasa geli dengan tindakan Ornado padanya.
"Ayolah Al, sekarang, ceritakan dongeng tentang James dan Elenora." Cladia langsung mengucapkan permintaannya setelah berhasil melepaskan diri dari Ornado yang langsung tertawa melihat tingkah istrinya.
"Dongeng? Sembarangan saja kamu ini...." Ornado berkata mencubit pelan pipi Cladia yang langsung tertawa kecil.
Bagi Cladia, rasanya sungguh membahagiakan bisa bercanda sesuka hatinya terhadap Ornado. Satu-satunya pria dimana dia bisa merasa nyaman dan tidak merasa takut berada di dekatnya, menikmati keberadaannya dengan penuh cinta.
"James dan Elenora? Hmmmm... aku harus mulai darimana ya?" Ornado berkata sambil mencoba mengingat kembali tentang banyak hal yang sudah terjadi antara Elenora dan James di masa lalu.
"Aku dan James mengenal Elenora karena kedua orangtua kami memiliki hubungan cukup dekat sebagai teman. Hanya saja, karena sampai aku berusia dua belas tahun tinggal di Indonesia bersama mama, aku hanya sesekali bertemu dengan Elenora dan keluarganya." Ornado memulai ceritanya tentang masa lalunya bersama James dan Elenora.
"Ketika aku kembali ke Italia, beberapa kali kami sempat berlibur bersama, yang diikuti oleh keluarga kami dan keluarga Elenora. Tapi karena kesibukan belajarku waktu itu, tidak banyak hal yang bisa aku lakukan bersama mereka. Lagipula, hanya kamu satu-satunya gadis yang ada dalam pikiranku, membuatku malas berhubungan dengan gadis lain kalau tidak ada kamu di sana bersamaku." Cladia langsung tersenyum mendengar perkataan manis dari Ornado, yang di setiap saat, di setiap kesempatan, selalu mengutarakan rasa cintanya kepada Cladia, bahkan saat mereka sedang membicarakan tentang kisah cinta orang lain seperti sekarang ini.