My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RENCANA PINDAH KE KANTOR SANJAYA



Ornado tahu pasti, kantor Cladia memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kantornya yang super luas sekaligus super mewah, karena bagaimanapun, Cladia bukan orang nomer satu di perusahaan Sanjaya, yang ditempati oleh Jeremy sebagai orang nomer satunya.


Akan tetapi Ornado sudah bisa membayangkan bagaimana nyamannya dia bisa bekerja bersam lagi dengan istri tercintanya seperti sebelumnya.


Meskipun itu di kantor Cladia yang memang tidak luas, tapi tertata rapi dan terasa nyaman bagi Ornado yang sudah seringkali mengunjungi Cladia saat bekerja di kantornya di perusahaan Sanjaya.


Hal itu juga yang selama ini membuat Ornado begitu betah dan sering-sering mengunjungi Cladia di kantornya selama Cladia diminta bantuannya untuk sementara waktu oleh Jeremy di Sanjaya selama Jeremy dan Niela sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Lagipula bagi Ornado, dimanapun tempatnya dan kapan saja waktunya, Tempat dan waktu terbaiknya adalah saat ada sosok Cladia yang ada di sampingnya.


“Memang kenapa kalau tempatnya sempit? Selama itu bersama dengan orang yang kamu cintai, justru tempat yang sempit akan menjadi tempat favoritmu, yang justru akan kamu cari setiap ada kesempatan. Kamu akan mengerti hal seperti itu setelah kamu menikah nanti.” Ornado berkata sambil tertawa, sedang Jeremy hanya bisa meringis mendengar perkataan Ornado yang bisa dia duga kemana arah pembicaraan Ornado barusan.


“Apa kamu yakin bisa nyaman bekerja di kantor Cladia Ad?” Jeremy tetap bertanya kembali untuk memastikan Ornado akan baik-baik saja dengan kantor Cladia, sekalian untuk mengalihkan perhatiannya sendiri dari godaan Ornado sebelumnya.


“Tenang saja Jer, bahkan jika kamu hanya memberikan ruangan padaku sebesar 2 kali 2 meter saja sebagai kantorku, aku tidak akan keberatan asal ada amore mio bersamaku di tempat sempit seperti itu. Kamu bisa mencobanya kelak jika sudah menikah. Dan jika mengalami kesulitan, kamu bisa belajar dariku. Dengan senang hati aku akan memberikan pelajaran gratis tanpa biaya sepeserpun.” Lagi-lagi Ornado tetap melanjutkan godaannya kepada Jeremy yang langsung berdehem keras, sengaja agar Niela yang baru saja mendekat ke arahnya tidak mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Ornado padanya barusan.


“Tidak, terimakasih Ad, aku pasti bisa melakukannya tanpa harus mengganggu waktumu untuk memberiku pelajaran privat. Oke, silahkan lanjutkan waktu bersenang-senangmu bersama Cladia dan yang lain. Aku juga banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang.” Jeremy buru-buru menutup pembicaraannya dengan Ornado yang langsung tersenyum geli mendengar bagaimana kerasnya usaha Jeremy untuk menghentikan godaannya.


“Oke Kakak Ipar, silahkan lanjutkan kesibukanmu di sana, dan aku akan menyibukkan diriku dengan amore mio.” Ornado berkata dengan senyum geli masih menguasainya.


Akhirnya, setelah mendengar kata-kata Ornado, Jeremy buru-buru menutup handphonenya, sebelum Ornado semakin menjadi dan mengolok-oloknya habis-habisan, tanpa dia memiliki kesempatan sedikitpun untuk membalas setiap godaan Ornado padanya.


“Al….” Suara lembut yang memanggil nama kesayangan istrinya itu mau tidak mau membuat Ornado tersentak kaget.


“Eh iya amore mio? Kenapa menyusulku kesini?” Ornado berkata sambil berjalan mendekat ke arah Cladia yang langsung tersenyum manis.


“Kenapa Al? Apa kamu sedang menghubungi seseorang yang aku tidak boleh tahu siapa itu? Laki-laki? Perempuan?” Cladia bertanya dengan senyumnya yang berubah menjadi senyum menggoda ke arah Ornado yang langsung membalasnya dengan senyum geli.


“Ist… seambarangan saja kamu ini. Mana ada hal seperti itu?” Ornado langsung menjawab pertanyaan Cladia dengan bibirnya yang langsung mengecup bibir Cladia sekilas, membuat beberapa orang yang ada disana, terutama para petugas keamanan yang bertugas, langsung mengalihkan pandangan mata mereka, berpura-pura tidak melihat tindakan tuannya pada nyonya besar mereka.


Belum lagi, setelah mencium sekilas bibirnya, Ornado tidak juga menjauhkan wajahnya dari Cladia, justru menggerakkan bibirnya kea rah telinga Cladia dan menempel di sana, setelah sebelumnya dengan sengaja, saat berpindah dari bibir Cladia ke telinga Cladia, Ornado sengaja menggeser wajahnya dengan membiarkan hidung mancungnya menempel dan bergeser pelan dari hidung Cladia, pipi dan akhirnya bagian atas daun telinga Cladia, tanpa membiarkan hidungnya menjauh sedikitpun dari kulit wajah Cladia.


“Amore mio… apa kamu sedang cemburu sekarang?” Bisikan pelan dari Ornado dengan nada begitu menggodanya, membuat Cladia menarik nafas panjang.


Ah… sepertinya aku sudah melakukan kesalahan besar, dengan membangunkan sesuatu yang seharusnya aku biarkan tidur dengan tenang untuk sementara waktu.


Cladia berkata dalam hati dengan senyum meringis, apalagi dilihatnya tatapan mata Laurel yang baru saja mengerling ke arahnya, ikut menggodanya.


Ist, apalagi itu maksud Laurel, sepertinya dia senang sekali karena Al sudah membuatku tidak berkutik seperti ini.


Cladia berkata dalam hati dengan mata sedikit melotot ke arah Laurel yang justru dengan buru-buru mengalihkan pandangan matanya setelah sebelumnya meringis ke arah Cladia.


“Cemburu? Buat apa cemburu terhadap laki-laki yang jelas-jelas hanya bisa memandang ke arahku saja? Kalau kamu berani membuatku cemburu, sepertinya malam ini terpaksa kamu tidur tanpa mendapatkan pelukan seperti biasanya.” Ornado sedikit melotot mendengar kata-kata Cladia yang tidak seperti biasanya, mulai berani.


“Amore mio, sepertinya kamu sudah mulai nakal ya.” Ornado berkata sambil mengacak pelan rambut Cladia, membuat Enzo yang sedari tadi melihat tindakan Ornado pada Cladia, dan dari arah lain berjalan ke arah mereka sambil membawa segelas minuman dingin, dengan sengaja mendekati mereka berdua.


“Ad, masih siang ini, bisa tidak kalian tidak terus menerus melakukan hal seperti itu di depan para lajang seperti aku ini. Entah kamu, entah Dave, apalagi Alvero, selalu membuat tubuhku panas dingin karena melihat kemesraan kalian. Ck ck ck ck, kalian bertiga benar-benar ahlinya dalam menyiksa kami para lajang, dengan memberikan pertunjukan erotis dengan pasangan kalian.” Enzo berkata dengan nada bersungut-sungut, pura-pura kesal.


“Hei! Sembarangan saja bilang kami erotis!” Ornado langsung memukul lengan Enzo dengan gerakan yang pura-pura memukul sungguhan dengan tenaga penuh, membuat Enzo menanggapinya dengan pura-pura meringis, dan langsung pergi menjauhi Ornado.


# # # # # # #


“Haist! Benar-benar membuatku stress!” James mengomel sambil memandang ke arah berkas-berkas laporan keuangan yang tergeletak memenuhi meja kerjanya.


“Kalau begini terus, kapan aku bisa segera pulang dan bertemu Ele?” James kembali mengomel sambil menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sandaran kursi kerjanya dengan wajah frustasi.