My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BEREBUT BARANG BERHARGA



James berusaha mengucapkan perkataannya tanpa nada tinggi, tapi Elenora dengan erat masih tetap memegang kemeja putih milik James yang ternoda itu.


“Aku akan mencucinya James. Maaf karena sudah mengotori pakaianmu tanpa sengaja.” Elenora berkata sambil tangannya tetap memegang erat pakaian James.


“Tidak perlu mencucinya, biarkan saja.” James langsung menanggapi perkataan Elenora dengan tangannya berusaha menarik pakaian itu, dan berusaha membuatnya lepas dari tangan Elenora.


“Biarkan aku mencucinya agar tidak lagi merasa bersalah karena sudah mengotori pakaianmu.” Jawab Elenora.


“Lupakan rasa bersalahmu, aku sudah memaafkannya.” Ucap James cepat.


“Kalau begitu, biarkan aku mencucinya sebagai tanggungjawabku.”


“Tidak perlu bertanggung jawab untuk hal seperti itu.”


"James, jika terlalu lama noda itu akan sulit hilang. Aku harus mencucinya sekarang."


"Biarkan saja. Kalau nanti nodanya tidak bisa hilang, biar aku buang saja."


"Tapi James... ini pakaian mahal, sayang sekali kalau...."


"Elenora, please, fokus saja dengan meeting kita, lupakan tentang pakaian itu. Sudah terlanjur kotor. Mau diapakan lagi? Berikan saja padaku."


“James, tolong dengarkan aku.”


“Elenora, kamu yang harus mendengarkanku.”


“Tapi James…”


“Tidak ada tapi-tapian, aku yang akan mengurusnya sendiri.”


Setelah mereka cukup lama saling beradu pendapat masing-masing, James berkata sambil menyentakkan tangannya yang memegang pakaian itu cukup keras, sehingga Elenora yang kaget tanpa sadar melepaskan pegangannya dari pakaian itu.


Bahkan karena kerasnya sentakan tangan James, tubuh Elenora hampir saja terjerembab ke depan dan menabrak tubuh James.


Namun dengan cepat, Elenora langsung memaksakan dirinya untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke depan, padahal tanpa sadar, kedua tangan James sudah bersiap untuk menangkap tubuh Elenora yang hampir saja terjatuh ke arahnya.


"Kamu siapkan saja meeting kita yang hampir dimulai." James berkata sambil membawa pakaiannya ke arah lemari.


Begitu sampai di dekat lemari, James melirik ke arah Elenora yang sedang menyalakan laptop miliknya.


Begitu James yakin Elenora tidak sedang menatap ke arahnya, dengan cepat James meraih kopernya, dan memasukkan pakaiannya yang terkena noda pelembab bibir Elenora itu ke dalam koper dengan buru-buru, seolah takut ada orang yang melihat dan mengambil pakaian itu darinya.


James melakukan itu untuk memastikan agar pakaian itu tidak tertinggal, dan tetap ada bersamanya saat dia kembali dari liburannya.


“Biar aku saja yang membantu istriku!” Perintah yang terdengar begitu tegas langsugn diucapkan oleh Ornado begitu salah seorang pengawal berusaha membantu Cladia naik ke helikopter.


Dengan cepat Alex yang ada di dekat petugas keamanan yang masih baru bergabung tepat sebelum mereka ditugaskan ke Bali, langsung menarik tangan laki-laki itu.


“Ingat satu hal selama bekerja di perusahaan Bumi Asia. Jangan pernah mendekati, apalagi menyentuh ibu Cladia dengan alasan apapun, kalau kamu tidak ingin dipecat saat ini juga. Yang boleh berada di dekat ibu Cladia dan menyentuhnya hanya pak Ornado, dan kakak kandungnya, pak Jeremy.” Alex berbisik ke arah laki-laki itu.


“Baik pak Alex. Maaf saya tidak tahu tentang itu, saya hanya ingin membantu bu Cladia.” Laki-laki itu segera menanggapi perkataan Alex.


“Sebenarnya, jangankan mendekat atau menyentuh, jika ada yang berani menatap ke arah bu Cladia terlalu lama, pak Ornado tidak segan-segan akan memberi pelajaran orang itu. Jadi, ingat itu dan jangan coba-coba melakukan hal seperti itu kalau kamu masih ingin hidup dengan tenang.” Perkataan Alex selanjutnya, membuat laki-laki itu melirik sekilas ke arah Cladia yang sudah berada di dalam helikopter bersama Ornado yang sedang memasang sabuk pengamannya.


Ibu Cladia memang sangat cantik, pasti banyak pria yang akan jatuh cinta dan terpesona padanya pada pandangan pertama karena kecantikannya. Mungkin karena itu pak Ornado begitu melindunginya.


Laki-laki itu berkata dalam hati sambil dengan cepat mengalihkan pandangan matanya dari Cladia, karena mengingat peringatan tegas dari Alex tentang bagaimana Ornado yang tidak pernah membiarkan laki-laki lain menatap kagum ke arah istrinya untuk waktu yang lama, termasuk para pekerja laki-laki di bawahnya.


“Sebenarnya, kita mau pergi ke pantai mana Al? Kenapa kita harus mengendari helikopter? Apa tidak bisa dicapai dengan perjalanan darat saja?” Cladia berkata sambil menatap ke arah tangan Ornado yang sedang memasangkan sabuk pengaman untuknya.


“Sabarlah sebentar lagi amore mio, nanti kamu juga akan tahu. Yang pasti, kamu tidak akan menyesal melihat keindahan tempat yang akan kita datangi kali ini.” Ornado berkata sambil memberikan kode kepada pilot untuk bisa memulai penerbangan mereka.


“Tunggu aku!” Sebuah suara teriakan yang terdengar melengking terdengar dari arah selatan, membuat Ornado dan Cladia langsung menoleh, dan pilot mengurungkan niatnya untuk menerbangkan helikopternya.


Sosok Serafina yang rambut dan pakaiannya terlihat berantakan, juga sedang berjalan cepat ke arah mereka berdua sambil terpincang-pincang karena kakinya yang kebas akibat tidak bisa bergerak selama di dalam mobil tadi, membuat Ornado dan Cladia mengernyitkan dahinya, dengan wajah herannya.


“Al, kalau tidak salah… bukankah itu Serafina? Kalau iya, kenapa penampilannya terlihat begitu berantakan? Bahkan aku hampir tidak bisa mengenalinya.” Ornado yang mendengar perkataan Cladia hanya bisa menahan senyum gelinya melihat keadaan Serafina.


Apa James berhasil memberi pelajaran Serafina? Wah… cepat bertindak juga si James kali ini. Kalau nanti aku bertemu dengannya, aku akan mengucapkan selamat untuk kesuksesan rencana pembalasannya terhadap Serafina. Sepertinya James benar-benat jengkel dengan Serafina.


Ornado berkata dalam hati sambil berdehem kecil, agar Cladia tidak melihat dia begitu ingin tertawa terbahak-bahak melihat berantakannya penampilan Serafina, yang baru pertama kalinya dia lihat Serafina seperti itu.


“Ad! Tunggu aku!” Serafina mendekat ke arah helikopter yang ditumpangi oleh Ornado dan Cladia, memegang pintu masuknya, dengan nafas terengah-engah.


“Apa aku boleh ikut bersamamu?” Dengan wajah memohon, Serafina meminta ijin kepada Ornado.


Awalnya, Ornado ingin mencari alasan agar Serafina sedikit lagi mendapatkan pelajaran yang berharga, dan jika saja bsia, menghalangi gadis itu dengan segala cara untuk bisa ikut pergi ke pantai tujuan mereka.


Namun melihat sosok Cladia di sampingnya, yang tadi pagi sudah memberikan peringatan keras padanya, Ornado hanya bisa meringis dan mambatalkan niatnya.


Di helikopter yang ditumpangi Ornado saat ini, terdapat 12 kusi penumpang yang berisikan dia, Cladia, Alvero dan sitrinya, serta beberapa orang dari kerajaan Gracetian, termasuk beberapa anggota keluarganya dan juga kedua pengawal kembarnya.


Ornado melirik ke arah belakang, dan melihat semua kursi yang ada penuh terisi, membuat Ornado tersenyum lega.


“Serafina, helikopter ini sudah penuh, sebaiknya kamu naik ke helikopter lain, yang akan membawa mereka yang lain.” Ornado berkata tanpa memberikan kesempatan bagi Serafina bergabung dengannya dalam satu helikopter yang sama.