
Untung saja gelas yang dipakai untuk pesanan take away berupa gelas yang terbuat dari plastik, sehingga tindakan James tidak membuat gelas itu bersuara keras saat menyentuh meja, apalagi sampai pecah atau rusak.
Tapi melihat gelas itu masih utuh setelah James meletakkannya dengan sedikit kasar, akhirnya dengan sikap gemas, James justru meremas gelas itu hingga penyok dan tidak berbentuk, untuk kemudian dilemparkannya ke lubang tempat sampah yang terlihat ada di dekat meja kasir, tepmat orang biasa membuang kertas bekas struk, bekas tagihan.
(Roll paper atau yang biasa kita kenal dengan kertas struk merupakan kertas bukti pembayaran yang biasanya dipakai di restoran, supermarket, pom bensin, atau minimarket. Bahan baku struk ini sendiri dibuat dengan khusus menggunakan berbagai macam jenis kertas. Mulai dari kertas NCR, kertas HVS, atau kertas thermal).
Hal itu membuat pelayan maupun petugas kasir yang melihat tindakan James, tubuh mereka tersentak karena kaget dengan sikap James yang selama ini dikenal tidak pernah marah di depan umum.
Apalagi tanpa mengucapkan sepatah katapun, akhirnya James pergi keluar meninggalkan kantin karena tidak tahan lagi melihat bagaimana manisnya senyum Elenora saat berbincang dengan teman-temannya.
Ah, lebih tepatnya, saat berbincang dengan Dodi dan Alex, dua nama pria yang beberapa waktu ini terdengar sering terlihat bersama Elenora dan Tina, terutama di jam-jam makan siang mereka di kantin.
“Panggil saja Elenora sekarang ini, kami harus membahas persiapan besok. Kamu juga ikut saja dengan Elenora ke kantorku. Supaya dia bisa belajar banyak darimu tentang bagaimana dan apa saja yang harus disiapkan saat aku melakukan meeting dengan pihak luar.” Akhirnya setelah mengingat sekilas kejadian tadi di kantin, James kembali mengulang perintahnya kepada Audrey untuk membawa Elenora ke kantornya sekarang juga.
“Baik Pak James.” Audrey segera menjawab perintah James tanpa berani bertanya-tanya lagi, setelah mendengar James kembali mengucapkan perintahnya dengan nada terlihat jelas dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik saat ini.
Setelah Audrey mengiyakan perintahnya, dengan gerakan sedikit kasar, James membuka pintu kantornya dan menutupnya dengan gerakan sedikit keras, menimbulkan kesan suara bahwa dia sedang membanting pintu kantornya.
Tindakan James sukses membuat Audrey maupun Dea yang masih duduk di kursi kerjanya terhenyak sambil menutup kedua mata mereka karena kaget.
“Eh, Audrey, apa yang sudah dilakukan oleh Elenora sehingga pak James terlihat marah? Padahal pak James bukan tipe pemimpin yang mudah marah.” Mendengar pertanyaan Dea, Audrey hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Aku juga merasa penasaran tentang hal itu. Bisa-bisanya Elenora membuat pak James semarah itu wajahnya.” Mendengar perkataan Audrey, tiba-tiba saja Dea menyungingkan senyumnya.
“Karena Elenora sudah membuat pak James marah, mungkinkah… pak James membatalkan rencananya untuk mengajak Elenora bersamanya dan menggantikannya dengan yang lain?” Perkataan Dea spontan membuat Audrey menolehkan kepalanya dan meandandang ke arah Dea dengan dalam-dalam.
“Apa… kamu masih berharap kamu yang akan diajak pak James untuk pergi?” Tanpa merasa malu ataupun canggung, Dea langsung mengangguk-anggukkan kepalanya di depan Audrey yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa? Apa salahnya sedikit berharap kesempatan itu datang padaku secara tiba-tiba karena tindakan bodoh Elenora yang sudah ebrani menyinggung pak James? Memang dia siapa? Berani-beraninya bertingkah terhadap pak James.” Dea berkata dengan senyum menyeringai terlihat di wajahnya.
“Jangan terlalu berharap, apalagi saat ini hanya dugaan kita kalau Elenora sudah membuat marah pak James, jangan-jangan ada yang lain yang membuat pak James marah, dan pak James berencana untuk meminta Elenora untuk membantu membereskannya.” Audrey langsung berusaha kembali mengingatkan Dea.
“Ah, tidak mungkin kalau bukan dia.” Dea langsung menjawab perkataan Audrey sambil melambai-lambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri.
“Perasaanku mengatakan bahwa memang Elenoralah yang sudah berani membuat pak James marah.” Kata-kata Dea yang diucapkan dengan penuh percaya diri membuat Audrey hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaya.
“Terserah apa katamulah. Sekarang aku harus pergi memberitahu Elenora dan mengajaknya menemui pak James sebelum beliau bertambah marah.” Audrey berkata sambil bersiap untuk bergegas pergi menyampaikan perintah James kepada Elenora.
Semoga kesempatan emas itu benar-benar datang padaku.
“Audrey!” Sebelum Audrey benar-benar pergi dari kantornya, tangan Dea langsung mencekal tangan Audrey.
“Kenapa Dea?”
“Audrey… beri kabar aku ya kalau kamu sudah tahu apa yang sedang terjadi antara pak James dan Elenora. Dan kalau memang benar besok Elenora tidak jadi….”
“Aku tahu. Jika memungkinkan aku akan mengajukan namamu sebagai asisten pengganti pak James.” Dengan cepat Audrey langsung memotong perkataan Dea, karena dia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Dea darinya, sehingga membuat Dea tersenyum senang.
“Tenang saja, kalau pak James mengajakku, aku akan dengan tegas menolak, sehingga kesempatan itu bisa kamu miliki.” Audrey kembali mengucapkan kata-kata yang membuat senyum Dea semakin melebar.
“Terimakasih banyak Audrey.” Dea mengucapkan kata-katanya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di atas kepalanya, membuat Audrey hanya bisa tersenyum geli.
“Tapi jangan terlalu berharap. Aku tidak yakin itu akan terjadi. Oke, aku harus segera pergi mencari Elenora.”
“Cari saja di kantin, tadi dia dan Dodi berada di sana untuk makan siang bersama. Saat ini mungkin mereka masih berada di sana.” Dea segera memberikan info yang dia tahu sebelum Audrey pergi menjauh.
“Oke, terimakasih infonya, aku akan mencoba kesana sambil menghubunginya lewat telepon.” Audrey berkata sambil dengan langkah-langkah cepat keluar dari kantor Dea yang masih mengulum senyumnya.
# # # # # # #
Sepanjang Audrey melaksanakan perintahnya untuk segera mencari Elenroa dan membawa gadis itu ke kantornya, James tampak berjalan mondar-mandir di dalam kantornya sambil beberapa kali terdengar suara helaan nafasnya.
Ist… kenapa aku jadi seperti orang bingung gara-gara Elenora? Dan membayangkan bagaimana dia bersikap dan tersenyum begitu manis di depan kedua laki-laki itu, rasanya membuatku ingin memberikan perintah agar dia mengganti jam istirahatnya, sehingga mereka tidak bisa melakukan pertemuan lagi di jam istirahat mereka.
James mengomel dalam hati sambil berhenti, berkacak pinggang dengan kedua tangannya sambil kepalanya menatap ke arah langit-langit kantornya.
Namun hanya beberapa detik kemudian, James tampak kembali terlihat berjalan mondar-mandir lagi.
Hah! Tapi itu tidak mungkin, Dodi dan Elenora bekerja dalam satu kantor, apa gunanya aku mengalihkan waktu istirahat Elenora. Mereka tetap saja bisa saling mengakrabkan diri selama di kantor. Kalau aku memindahkan Dodi secara tiba-tiba… itu juga tidak mungkin. Orang lain pasti akan mempertanyakan alasan pemindahan itu.
James berkata dalam hati, sambil salah satu tangannya memijat keningnya, berharap tindakannya itu bisa membuat otaknya segera menemukan cara lain untuk membuat Dodi tidak bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Elenora.