My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SEDIKIT HARAPAN BAGI ELENORA



Eh, apa kali ini aku sudah keterlaluan memberikan perintah kepada Elenora? Hah, kenapa aku jadi merasa begitu bersalah? Ini hanya sebuah kejadian kecil, tidak sebesar kesalahan Elenora padaku hari itu.


Lagi-lagi James teringat hari itu kembali, dan dengan cepat James mengalihkan pandangan matanya karena takut hatinya mulai goyah dan merasa kasihan sekaligus merasa bersalah kepada Elenora.


Tapi saat ini, James masih saja berpikir untuk tidak membiarkan Elenora keluar dari kamarnya, dan ingin menahan Elenora lebih lama lagi.


"Apa yang bisa aku lakukan lagi untukmu?" Pertanyaan dari Elenora membuat James langsung menoleh kembali ke arah gadis itu.


"Duduk saja di situ dulu, biar aku memesan sendiri kopi untukku." James berkata sambil meraih minuman dingin yang tadinya akan dia minum sambil menunggu Elenora datang kembali dengan kopi pesanannya.


"Minumlah terlebih dahulu." Akhirnya James menyodorkan minuman dinginnya kepada Elenora yang dilihatnya masih berkeringat, dengan kulit wajahnya yang putih mulus, berubah kemerahan karena kepanasan.


Mendengar perintah dari James, Elenora langsung duduk di hadapan laki-laki itu, karena jujur saja dia cukup lelah setelah berlarian ke sana kemari dengan khawatir demi segelas kopi yang sesuai dengan keinginan James.


Meskipun dandanan dan tampilan wajahnya seperti gadis dari pelosok kampung yang terpencil, orang harus mengakui bahwa kulit wajah Elenora benar-benar mulus, meskipun tanpa make up yang mengakibatkan wajahnya kadang terlihat sedikit pucat.


James berkata dalam hati sambil mengamati Elenora yang sedikit menghela nafasnya sambil menerima sodoran botol berisi minuman dingin dari James.


"Ter... terimakasih." Karena memang merasa begitu kepanasan, tanpa ragu Elenora membuka botol minuman yang disodorkan oleh James kepadanya dan segera meneguknya.


Mendengar suara tegukan air yang mengalir masuk ke dalam tenggorakan, diminum oleh Elenora, dan juga wajah Elenora yang terlihat puas dan segar karena minuman dingin itu, tanpa sadar membuat James tertegun.


Elenora saat ini sedang memejamkan matanya, begitu menikmati kesegaran minuman yang sedang diteguknya, sehingga James bisa melihat bulu matanya yang tebal dan melengkung dengan indahnya di balik kacamata tebalnya.


Cantik... gadis itu benar-benar terlihat cantik saat ini....


James berkata dalam hati dengan pandangan matanya menatap ke arah Elenora tanpa berkedip sama sekali. Untuk beberapa saat ke depan, bahkan James terlihat diam mematung sambil terus memandangi ke arah Elenora yang awalnya tidak sadar kalau James sedang menatapnya tanpa berkedip.


Setelah meneguk lebih dari setengah botol berisi minuman dingin itu, Elenora yang awalnya sedikit mendongakkan kepalanya sambil matanya sedikit terpejam, akhirnya secara perlahan meluruskan kembali kepalanya, dan membuka kedua matanya.


Karena itu, Elenora bisa melihat bagaimana saat ini James terlihat sedang menatapnya dengan senyum yang tanpa sadar tersungging di bibir James.


"Ehem...." James langsung berdehem kecil dan mengalihkan pandangan matanya karena sedikit kaget, dengan tiba-tiba Elenora membuka mata dan melihat ke arahnya.


"Ma.. maaf. Aku betul-betul sangat haus barusan." Elenora segera meraih tissue yang ada di depannya dan mengelap bibirnya, merasa tidak enak melihat James yang dalam pandangan matanya sedang tersenyum karena menertawakan tindakannya barusan.


Sedangkan bagi James sendiri, tanpa sadar bahwa laki-laki yang sedang duduk di depan Elenora saat ini sudah semakin sulit menahan dirinya untuk tidak semakin jatuh cinta pada gadis yang ada di depannya itu.


"Eh, tidak apa-apa, habiskan saja. Atau kamu mau aku mengambilkan sebotol lagi untukmu?" Elenora langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat mendengar penawaran dari James, karena hal itu justru membuatnya merasa tidak sopan pada James, sehingga Elenora merasa tidak enak hati.


Padahal barusan James benar-benar tulus menawarkan kepada Elenora untuk mengambilkan minuman dingin lagi.


"Eh, tidak... tidak apa-apa." Dengan sikap gugup James berkata sambil tangannya tanpa sadar meraih gelas berisi kopi di depannya dan langsung meminumnya dengan sekali teguk, membuat Elenora sedikit melongo.


Tadi dengan jelas Elenora mendengar bahwa James tidak mau meminum kopi dari starbuck karena dia mengatakan kopi itu kurang panas.


Tapi sekarang dengan sekali teguk, James justru menghabiskan kopi yang dipesan Elenora dari restoran milik resort yang mereka temapt sekarang, sedangkan kopi itu tadinya dikritik oleh James, karena tidak sesuai dengan seleranya.


Sial! Kenapa aku jadi gugup seperti ini di depan Elenora?


James yang setelah meneguk habis kopi di depannya baru sadar tentang apa yang barusan dia lakukan, mengomeli dirinya sendiri dalam hati.


"Apa perutmu akan baik-baik saja meminum kopi yang sudah tidak panas itu?" Dengan hati-hati Elenora bertanya kepada James dengan wajah terlihat khawatir.


"Ah, semoga tidak apa-apa, ternyata enak juga sesekali meminum kopi yang tidak terlalu panas. Tidak perlu repot meniupnya dan membuat lidah mati rasa jika sebelum suhu yang tepat kita memaksakan diri untuk meminumnya." James menjawab pertanyaan Elenora sambil meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong ke atas meja.


Dan perkataan James cukup membuat Elenora bingung, karena kopi itu bukan sekedar tidak terlalu panas, tapi pasti sudah sedingin suhu ruang.


"James, apa kamu masih ingin aku memesan kopi yang baru untukmu?" Elenora yang merasa bersalah karena berpikir bahwa James terpaksa meminum kopi yang tidak disukainya itu langsung menawarkan diri untuk kembali memesan kopi untuknya.


"Haist, aku sudah meminum 2 shot kopi jenis espresso, dan kamu masih menawarkan kopi lagi untukku? Kamu ingin aku tidak bisa tidur semalaman? Apa kamu mau menemaniku di sini semalaman nanti?"


Upst! Kenapa lidahku berkata sembarangan seperti itu? Sungguh memalukan!


James berteriak dalam hati begitu sadar apa yang baru diucapkannya di depan Elenora.


Bahkan James hampir saja menggerakkan telapak tangannya untuk menutup bibirnya yang sudah lancang, berani mengatakan hal yang bersifat privasi dan intim seperti itu kepada Elenora.


Pertanyaan James yang diucapkannya tanpa berpikir panjang membuat wajah Elenora langsung menunjukkan timbulnya semburat merah di wajahnya yang berkulit putih mulus.


Sedang James, dengan sikap salah tingkah segera mengalihkan wajahnya dari jangkauan tatapan mata Elenora yang sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas, sehingga dia bisa memastikan bahwa saat ini wajahnya pasti memerah.


Perkataan James tadi, sungguh membuat jantung Elenora berdetak keras dan tangannya terasa basah dan dingin secara tiba-tiba, berharap bahwa meskipun tanpa ada niat serius mengatakannya, James mulai menaruh perhatian padanya sedikit demi sedikit.


"Ehem...." James berdehem pelan untuk menetralisir suasana canggung yang tiba-tiba tercipata diantara mereka karena kata-kata James sebelumnya.


Mendengar deheman pelan dari James, Elenora sedikit mendongakkan kepalanya dan memberanikan diri menatap ke arah James yang sedang memandangnya dengan sikap serba salah.


"Kalau... memang tidak adalagi yang bisa aku kerjakan... aku permisi kembali ke kamarku." Kata-kata Elenora seolah menyadarkan James kembali dari angan-angan tidak jelasnya.