My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RENCANA TERBANG KE IRLANDIA



Dan bukan hanya itu saja, Cladia tahu bahwa Alberto, sebagai papa angkatnya Dario, bahkan selalu memberikan dukungan padanya, seperti kepada anak kandungnya sendiri.


Sayangnya, Dario yang sejak awal begitu iri dan cemburu pada Ornado, tidak bisa melihat semua kebaikan Alberto sebagai sesuatu yang harusnya dia syukuri dan jaga dengan baik.


Kami bahkan tidak pernah dekat dan jarang sekali bertemu, aku tidak tahu kenapa Dario ingin menikahiku. Al… aku sungguh bersyukur waktu itu mama dan papa tidak memenuhi permintaan Dario untuk menggantikan perjodohan kita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika bukan kamu yang menjadi suamiku. Aku benar-benar wanita yang paling beruntung memilikimu sebagai pendamping hidupku.


Cladia berkata dalam hati sambil melirik ke arah Ornado yang dia tahu, meskipun dia sempat bercanda dengan James, tapi dari mata birunya, Cladia tahu bahwa Ornado sedang memikirkan banyak hal di dalam otaknya.


Semakin hari, Cladia semakin mencintai suaminya itu, tapi di sisi lain, dia semakin takut kehilangan laki-laki itu, apalagi mendengar bagaimana kejamnya Dario, membuat Cladia cukup khawatir dengan keselamatan Ornado.


Ah, Al... kira-kira apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu? Kamu yang selalu melindungiku selama ini. Ada kalanya, aku ingin melindungimu juga. Andaikata bisa, aku akan rela melakukan apapun untukmu.


Cladia berkata dalam hati sambil tangannya tiba-tiba bergerak ke arah tangan Ornado yang ada di pangkuannya, dan menggenggamnya dengan begitu erat, membuat Ornado lansung menoleh, dan membalas genggaman tangan Cladia sambil tersenyum.


# # # # # # # #


"Aku akan segera terbang ke Irlandia." Dave berkata pada Bryan yang menghubunginya langsung begitu mendengar ada masalah di perusahaan mereka yang ada di Irlandia.


"Aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini. Lagipula, jika dulu aku diam saja ketika dia bekerjasama dengan Devan, kali ini aku akan bersikap tegas padanya." Dave kembali menyambung kata-katanya.


"Baik Kak, aku akan melakukan apa yang sudah kamu rencanakan sebelumnya. Aku harap semuanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan harapan kita. Kak Laurel apakah berencana ikut?" Bryan langsung menjawab perkataan Dave sambil memandang ke arah foto-foto yang tergeletak di atas meja kerjanya.


"Kamu tahu bagaimana keras kepalanya kakak iparmu itu. Begitu mendengar orang yang akan kita hadapi ini berhubungan dengan Devan, dan merupakan orang yang sudah menyokong Devan waktu itu, dia justru terlihat bersemangat untuk ikut kesana." Dave berkata sambil melirik ke arah Laurel yang langsung meringis mendengar bagaimana suaminya menyebutkan tentang dirinya yang keras kepala.


Tapi seorang Laurel, bukanlah sosok yang mudah dihadapi oleh Dave jika dia sudah menginginkan sesuatu.


"Aku sudah pastikan kandungannya dalam kondisi sehat dan siap untuk perjalanan jauh. Lagipula kamu tahu kakak iparmu sangat lincah dan aktif, seringkali lupa kalau dia sedang hamil." Dave berkata sambil melirik ke arah Laurel yang sedikit melotot mendengar kata-kata Dave.


"Kalau begitu kalian berdua semoga aman dalam perjalanan. Aku harap masalah ini bisa kita selesaikan dengan baik. Oke Kaka, aku akan segera mengurus semuanya seperti rencanamu, sampai ketemu lagi." Bryan mengakhiri panggilan teleponnya pada Dave yang tubuhnya langsung tersentak karena tiba-tiba saja, dirasakannya seseorang sedang memeluknya dari samping, dengan wajahnya yang mendongak menatap ke arahnya.


"Keras kepala? Terlalu aktif dan lincah? Sering lupa kalau sedang hamil?" Laurel berkata pelan, dengan tangannya yang mengelus perut suaminya yang mau tidak mau menahan nafasnya karena tindakan istrinya itu.


Bagi Dave, sentuhan jari jemari Laurel di perutnya merupakan sentuhan mematikan baginya, karena bagian tubuhnya itu adalah titik sensitifnya, yang kan langsung membangkitkan gairahnya dalam hitungan detik jika Laurel melakukan itu padanya.


Dan sialnya, seorang Laurel, begitu tahu dimana letak titik lemah Dave, sehingga seringkali Dave dibuat kewalahan oleh tindakan Laurel tersebut.


Meskipun Laurel mengelus perut Dave yang masih tertutup rapat dengan pakaiannya, dan juga snelli dokternya yang berwarna putih bersih, tapi sentuhan itu sudah membuat aliran darah Dave mulai terasa cepat dengan dada yang mulai berdegup kencang.


"Ah... maksudku... mungkin hampir semua wanita hamil seperti itu, mo cuisle..." Dave berkata pelan sambil berusaha menyingkirkan jari jemari lentik milik Laurel dari otot-otot perutnya, sebelum bagian tubuhnya yang lain ikut bereaksi, sehingga dia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidka membawa istrinya ke tempat tidur.


Sedangkan sebentar lagi, dia harus melakukan satu tindakan operasi yang sudah dijadwalkan, dan tidak bisa ditunda, sebelum dia berangkat ke Irlandia siang ini bersama dengan Laurel yang sejak awal sudah bersikeras untuk ikut pergi dengannya.


"O ya? Dari yang aku dengar, sepertinya itu sifat-sifat yang kamu sebutkan untuk orang yang bernama Laurel. Atau kamu memiliki kenalan lain yang bernama Laurel selain aku?" Laurel berkata dengan tangannya yang tetap berusaha bertahan di perut Dave dan melakukan gerakan-gerakan yang membuat Dave akhirnya menggerakkan tubuhnya ke samping, sedikit menjauhi Laurel, agar tubuhnya bisa mengendalikan diri dari godaan Laurel.