My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SELALU BERSIKAP MESRA



“Al, aku baik-baik saj…”


“Amore mio, apanya yang baik-baik saja. Sudah ya, tenang saja, aku akan segera membawamu ke kamar dan memeriksa kakimu. Dave, Laurel, aku pergi dulu. Maaf, aku tidak bisa melanjutkan acara obrolan kita malam ini. Sepertinya Cladia  butuh istirahat, dan aku harus menemaninya. Selamat menikmati liburan kalian. Aku duluan.” Tanpa menunggu tanggapan dari Dave maupun Laurel, Ornado langsung melangkah pergi dengan Cladia dalam gendongannya, yang mau tidak mau akhirnya melingkarkan kedua lengannya ke leher Ornado untuk berpegangan, agar Ornado juga merasa nyaman saat menggendongnya.


Meskipun saat ini Cladia sedikit menyembunyikan wajahnya di dada Ornado karena merasa malu melihat puluhan mata memandang ke arah mereka berdua saat ini, tapi tetap saja wajah Cladia tampak begitu memerah.


Tindakan romantis Ornado itu tentu saja membuat banyak orang yang ada di sekitar sana, berpapasan dengan mereka berdua, termasuk para pelayan dan petugas keamanan melihat mereka sambil tersenyum dan mulai saling berbisik-bisik, membicarakan betapa manisnya tindakan Ornado terhadap istrinya.


Bagi beberapa wanita yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo dengan perasaan ikut senang sekaligus iri melihat bagaimana romantis dan sayangnya Ornado terhadap istrinya itu.


Hah... tidak jadi melanjutkan obrolan kita malam ini? Untunglah... dengan begitu aku bisa bersama mo cuisle lebih lama lagi malam ini. Akan banyak waktu berdua dengannya menikmati kebersamaan kami. Sepertinya liburan ini benar-benar liburan yang menyenangkan setelah terakhir kami berlibur ke Irlandia waktu itu. Dan aku yakin, Ornado pun sedang ingin menghabiskan malam indah hari ini, berdua dengan Cladia saja.


Dave berkata dalam hati sambil melirik ke arah Laurel yang masih tersenyum, dengan mata masih memandang kepergian Ornado yang menggendong tubuh Cladia, tanpa perduli dengan tatapan mata orang-orang yang sedang melihat ke arah mereka.


“Apa kamu juga ingin aku menggendongmu seperti Ad menggendong Cladia mo cuisle?” Laurel langsung tersentak kaget mendengar bisikan mesra dari Dave yang tiba-tiba saja sudah menempelkan bibirnya di telinganya.


“Eisttt… tidak Tuan Shaw. Terimakasih. Aku lebih memilih untuk berjalan sendiri. Kamu bisa melakukannya setelah kita berdua dalam kamar kita. Bahkan lebih dari sekedar menggendongku.” Laurel berkata sambil tertawa kecil dan berjalan ke arah kamar mereka.


Sedang Dave memilih berjalan di belakang sosok Laurel sambil tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang selalu terlihat ceria itu.


Bukannya Dave tidak suka berjalan berdampingan dengan Laurel, tapi adakalanya, Dave merasa senang bisa berjalan di belakang sosok istrinya, agar dia bisa mengawasi sekaligus menjaga istrinya dari belakang dengan baik.


Hal yang sebenarnya selalu dilakukan Dave sejak 7 tahun yang lalu, meskipun Laurel sempat berusaha melarikan diri darinya saat itu.


Tapi tidak pernah sekalipun Dave membiarkan Laurel berjalan sendiri selama 7 tahun itu, selalu ada di sekitar Laurel untuk dapat melindunginya.


"Al, turunkan saja aku." Cladia berbisik pelan begitu dilihatnya mereka berdua sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dengan yang lain, termasuk Dave dan Laurel yang sudah berbelok ke arah lain, menuju arah kamar mereka sendiri.


Mendengar permintaan Cladia dengan wajah memohonnya, Ornado bukannya meluluskan keinginan Cladia, tapi justru sedikit mengangkat tubuh Cladia sehingga semakin ke atas, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Cladia.


"Amore mio, kali ini aku tidak akan memenuhi permintaanmu. Atau kamu memang sengaja sedang ingin menggodaku dengan wajah memelasmu itu?" Cladia langsung melotot mendengar perkataan Ornado yang sedang memasang senyum manis di wajahnya.


"Al..." Hanya satu kata itu yang diucapkan oleh Cladia untuk menyampaikan protesnya kepada Ornado.


Meskipun hatinya merasa sangat bahagia dengan perkataan Ornado yang terdengar begitu manis, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kikuk dan malunya kaena setiap orang yang berpapasan dengan mereka langsung terlihat kaget dan mengulum senyumnya.


Walaupun tentu saja mereka tidak ada yang berani berlama-lama memandang ke arah Ornado dan Cladia yang merupakan tamu penting dari resort ini, apalagi berani membicarakan kejadian yang mereka lihat dengan suara keras.


"Al, aku..." Cladia berusaha kembali menyatakan keinginannya untuk turun dari gendongan Ornado yang langsung berdehem pelan dan menundukkan kepalanya, memandang ke arah wajah istrinya yang terlihat begitu memerah.


"Kalau kamu terus meminta turun, bukan hanya menggendongmu, bahkan aku akan menciummu di depan semua orang sambil menggendongmu." Kali ini perkataan Ornado yang disertai ancaman sebuah hadiah berupa sebuah ciuman membuat Cladia langsung terdiam seribu bahasa, tanpa berani mengatakan apa-apa lagi.


Cladia yang sudah mulai hafal dengan sifat dan karakter Ornado tahu apsti bahwa laki-laki yang begitu suka menggoda dan bersikap mesra padanya itu selalu serius dengan apa yang sudah dikatakannya.


Apalagi jika hal itu berkaitan dengan bagaimana dia memamerkan kemesraan dan sisi romantisnya tanpa perduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya.


Melihat Cladia yang memilih untuk diam dan pasrah setelah di mengeluarkan ancaman untuk menciumnya, membuat Ornado mau tidak mau tersenyum geli.


Amore mio, kamu sungguh terlihat begitu menggemaskan sekaligus menggoda dalam waktu bersamaan. Andai saja kamu tahu, saat ini aku begitu menahan diriku agar tidak menciummu sampai puas sekarang juga.


Ornado berkata dalam hati sambil melangkah masuk ke dalam kamar, setelah penjaga yang sedang bertugas di sekitar tempat itu melihat Ornado datang dengan posisi menggendong tubuh istrinya.


Begitu sampai di kamar dan pintu sudah tertutup kembali, Ornado segera berjalan menuju tempat tidur, meletakkan tubuh istrinya dengan begitu hati-hati seperti meletakkan sebuah barang yang harganya begitu mahal dan mudah pecah, yang dijaganya dengan segenap hatinya.


Begitu Cladia sudah terbaring di atas tempat tidur, kedua tangan Ornado bergerak ke samping kanan dan kiri tubuh Cladia, menahan tubuhnya dengan talapak tangannya menempel di atas tempat tidur.


Tindakan Ornado menyebabkan posisi tubuh Cladia yang terbaring terkungkung, tepat di bawah tubuh Ornado, diantara kedua lengan kokohnya.


"Terimakas.... mmphhh." Belum selesai Cladia mengucapkan terimakasihnya kepada Ornado, laki-laki yang sedari tadi terus memandangi wajah istrinya dengan tatapan intens penuh kerinduan itu langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cladia.


Dan tanpa membiarkan Cladia meneruskan kata-katanya, dengan cepat namun penuh dengan kelembutan, Ornado mencium bibir Cladia dengan begitu mesra.


Cladia yang awalnya merasa kaget sedikit tersentak kaget, namun beberapa detik berikutnya, kedua tangan Cladia kembali melingkar di leher Ornado, bahkan mulai mengelus punggung dan tengkuk Ornado dengan kedua tangannya, lalu mulai membalas dengan sepenuh hati ciuman mesra yang diberikan suaminya itu.