My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
MAKAN SIANG TIDAK BIASA



"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku janji akan selalu menemanimu, selalu berada di sampingmu Tuan Shaw." Laurel berkata sambil menyilangkan jari telunjuk dan tengahnya di depan Dave yang dengan gemas langsung merengkuh kepala Laurel dan meletakkannya di dadanya, setelah itu Dave menarik nafas panjang sambil tersenyum.


"Mo cuisle, kamu selalu saja membuat duniaku terlihat cerah dan menarik untuk dijalani. Terimakasih untuk saat-saat dimana kamu selalu ada di sampingku. Dan aku harap kita memiliki kesempatan menikmatinya untuk waktu yang lama, hingga kita berdua menua bersama." Dave sengaja membiarkan kepala Laurel bersandar di dadanya, dengan tangan Dave sibuk mengelus-elus kepala istrinya, sambil menciumi kepala Laurel yang sebagian wajahnya menempel pada dada Dave, tampak menyunggingkan senyum bahagia karena tindakan Dave.


"Ah! Ya!" Tiba-tiba saja Laurel sedikit tersentak dan menjauhkan tubuhnya dari Dave karena ingat tentang sesuatu yang mendesak baginya.


"Hei! Hati-hati! Gerakanmu yang terlalu lincah bisa membahayakan si kecil dalam perutmu." Dave langsung mencengkeram lengan Laurel, mencegahnya untuk melompat turun dari kursi bar yang didudukinya.


Mendengar teguran Dave, Laurel langsung meringis. Menghentikan rencananya untuk benar-benar melompat turun dari kursi, sambil mengelus pelan perutnya yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilannya.


"Mo cuisle.... Kenapa harus buru-buru seperti itu? Kasihan bayi dalam perutmu, dia pasti ikut kaget karena gerakan mamanya yang tiba-tiba seperti tadi. Kamu ini, sepertinya seringkali lupa kalau kamu sedang hamil." Sebuah senyum dengan sikap salah tingkah terlihat menghiasi wajah Laurel yang mendapatkan teguran dari Dave.


Karena sejak awal kehamilannya, Laurel, seperti tidak merasakan banyak perubahan pada dirinya, membuat Laurel kadang lupa diri bahwa dia sedang hamil, sehingga beberapa kali bertindak dengan gerakan lincah seperti wanita normal yang sedang tidak hamil.


Walaupun seperti perkataan Laurel kepada Ornado, bahwa dia tidak merasakan ngidam, tapi sikap Laurel yang seringkali tidak sadar diri bahwa dia sedang mengandung, membuat Dave harus ekstra dalam mengawasi tindakannya, seperti yang baru saja hampir terjadi.


Bahkan para rekan-rekan kerjanya harus sering mengingatkan Laurel karena dalam kondisi hamil, masih saja terlihat gila kerja dan kadang melupakan waktu untuk beristirahat sejenak di tengah kesibukannya.


"Ma... maaf Dave." Laurel bergumam pelan dengan wajah terlihat tidak nyaman karena merasa bersalah.


"Mo cuisle, aku senang dan bersyukur sekali melihat bagaimana sehatnya kondisimu saat hamil. Karena tidak semua wanita mendapatkan anugrah seperti kondisimu sekarang ini. Kamu lihat sendiri bagaimana Cladia masih harus berjuang mengatasi morning sicknessnya padahal sudah melewati 3 bulan masa kehamilannya. Tapi kamu harus tetap berhati-hati dalam bertindak. Jangan bertindak sembarangan. Aku mohon...." Dave berkata lembut dengan tatapan matanya yang tenang membuat Laurel mau tidak mau mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti kerbau dicocok hidungnya.


"Berjanjilah padaku untuk menjaga baik-baik tubuhmu. Mungkin kamu merasa kuat, tapi bayi dalam kandunganmu belum tentu kuat. Dia masih begitu kecil, dan...."


"Aku berjanji. Aku tahu batas kekuatanku Dave. Tapi supaya kamu merasa lebih tenang, aku berjanji untuk berhati-hati, dan juga akan berusaha mengatur ritme kerjaku mulai sekarang." Laurel segera menjawab perkataan Dave sambil dengan gerakan pelan turun dari kursinya, dengan memegang lengan bawah tangan Dave untuk membantunya menahan berat badannya.


"Jangan khawatir Tuan Shaw. Aku akan menjaga baik-baik bayi kita. Bukan hanya kamu, aku juga begitu menyayangi bayi ini." Laurel berkata sambil salah satu tangannya memegang perutnya, sedang satu tangannya yang lain bergelayut manja, melingkar di leher Dave, sebelum akhirnya dokter cantik itu mencium bibir suaminya dengan mesra, membuat Dave sedikit menahan nafasnya karena reaksi otot-otot tubuhnya mulai menegang dan meminta lebih, karena tindakan Laurel berhasil dengan sukses memancing hasratnya.


"Mo cuisle, hentikan atau aku tidak akan dapat menahannya lagi...." Mendengar bisikan pelan dari Dave yang terlihat diucapkannya sambil menelan ludahnya membuat Laurel tertawa kecil.


"Sayangnya kamu harus bisa menahannya dengan baik, karena aku mau menyiapkan makan siang kita yang sudah lama tertunda karena tadi terlalu asyik mengobrol dengan Ad. Kamu tahu sendiri, jika sudah mengobrol dengan Ad, kami sudah seperti kakak adik yang terpisah lama, sehingga kadang lupa waktu. Maaf ya…. Sekarang aku akan memasak sesuatu yang paling mudah agar kita bisa segera menikmati makan siang kita." Laurel berkata sambil menjauhkan tubuhnya dari Dave, bermaksud melanjutkan rencananya untuk memasak.


Namun dengan gerakan cepat, tangan Dave langsung meraih lengan Laurel.


"Mo cuisle, tidak perlu terlalu repot. Aku sudah meminta Mira untuk memesan makanan untuk kita, karena tadi aku melihat kamu sepertinya belum sempat menyiapkan makan siang kita, karena begitu menikmati obrolanmu di telepon."


"Dan sayangnya... makanan yang aku pesan baru bisa siap sekitar 30 menit lagi." Dave berkata sambil tangannya menarik lengan Laurel ke arahnya, membuat Laurel sedikit mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan perkataan Dave yang seolah-olah memiliki maksud tersembunyi.


Dan tanpa menunggu lebih lama lagi Dave langsung mengangkat tubuh Laurel ala bridal style, membuat Laurel tersentak kaget, dan mulai bisa menebak apa yang sedang dipikirkan dan diinginkan Dave saat ini.


"Dave...."


"Sebelum makanan datang, biarkan aku menjenguk bayi kita sebentar, menikmati waktu yang ada bersamamu." Dave berbisik lembut di telinga Laurel dengan meninggalkan gigitan kecil di telinga wanita tercintanya itu.


Mendengar bisikan mesra dari Dave, Laurel sedikit menahan nafasnya karena debaran di dadanya memberikan tanda bahwa dia juga sangat menginginkan untuk Dave memanjakannya saat ini.


Dan akhirnya, tanpa ragu, Laurel melingkarkan lengannya ke le leher Dave dengan mesra, membuat Dave semakin menginginkan waktu kebersamaannya dengan Laurel siang ini.


# # # # # # #


Wajah Ornado terlihat tidak nyaman dan berusaha begitu keras untuk tidak menelan ludahnya karena makanan yang sekarang sedang tersaji di depannya benar-benar membuatnya kehilangan naf.su makannya.


Ketika Cladia tiba-tiba mengajaknya untuk pergi ke pinggiran kota dan mendatangi sebuah warung/kedai sederhana itu, sebenarnya sudah membuat Ornado merasa salah tingkah dan mati gaya.


(Mati Gaya adalah sebuah kata dari istilah gaul, dengan pengertian seperti; seseorang yang kehabisan ide, tidak punya inspirasi, sehingga akan terlihat konyol atau tidak dapat melakukan apapun).


Warung itu terletak di pinggiran kota, di sebuah tempat yang tidak jauh dari pemukiman penduduk, bukan kedai yang terletak di kawasan yang memang merupakan kawasan tempat berpusatnya kuliner.


Bahkan untuk mencapai tempat tersebut, harus melewati sedikit lahan pertanian milik penduduk.


Bangunan kedai sederhana yang menjual makanan khas daerah Jawa Timur itu bahkan di bagian luar dindingnya belum diplester apalagi diplamir, sehingga membuat susunan batu bata yang disusun untuk membentuk dinding terlihat jelas, menambah kesan sederhana, bahkan apa adanya dari kedai makanan itu.


(Plester adalah campuran semen, pasir, kapur dan air untuk melekatkan batu bata atau menghaluskan dinding batu. Sedang plamir tembok merupakan material untuk melapis tembok berupa cairan putih yang merupakan campuran dari kalsium, lem, dan air. Selain itu, terdapat beberapa fungsi dari plamir tembok, yaitu: menutupi celah atau pori yang ada pada tembok agar permukaannya lebih rata; menutupi warna asli tembok, dan mempermudah proses pengecatan).


Kursi maupun meja yang disediakan dalam kedai tersebut hanyalah kursi dari bambu dan meja dari kayu yang begitu sederhana.


Kedatangan Ornado yang memiliki tubuh atletis, tinggi badan yang sedikit menjulang di bandingkan dengan laki-laki lokal, dengan wajah bulenya yang tampan bak seorang artis, membuatnya begitu dia keluar dari mobil bersama Cladia dan memasuki kedai sederhana itu, menarik perhatian banyak orang yang kebetulan sedang mengantri memesan makanan di warung sederhana itu.


Belum lagi mobil mercedes benz yang ditumpanginya dan setelan jas bermerk yang dipakai Ornado, yang membuatnya terlihat jelas merupakan orang dari kalangan kelas atas, membuatnya semakin menarik perhatian, bahkan para ibu-ibu yang sedang berkumpul di sekitar kedai itu.


Di samping kedai yang terlihat begitu sederhana itu, terdapat sebuah lapangan milik desa yang di bagian depannya, dengan posisi paling dekat dengan kedai itu, terdapat taman bermain kecil dimana ibu-ibu dari pemukiman sekitar seringkali berkumpul untuk mengobrol sambil menemani anak-anak mereka yang bermain, sambil mengamati lalu lalang orang yang keluar masuk untuk menikmati makanan di kedai sederhana itu.


Penampilan keren dari Ornado dan juga Cladia yang terlihat secantik boneka itu membuat keberadaan mereka terlihat begitu kontras dengan kondisi kedai sederhana dimana mereka berdua sekarang sedang duduk di salah satu sudut kedai tersebut.