My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KECANTIKAN YANG SEMAKIN TERLIHAT



Selain itu, kasus usaha hacker yang sudah membuatnya tanpa sadar menunjukkan jati dirinya, tentang kemampuan yang selama ini begitu dia sembunyikan dengan rapi, seperti penampilan cantiknya, membuat pikirannya merasa tidak tenang.


Apalagi Elenora sadar, dia sudah membuka rahasianya sendiri, di depan Ornado dan James, membuat hatinya semakin terasa gundah.


Ada ketakutan yang besar dalam diri Elenora jika sampai Ornado maupun James memberitahukan hal itu kepada kedua orangtuanya.


Begitu Elenora melihat Serafina sudah tidur dengan pulas di atas tempat tidur, Elenora menarik nafas lega.


Hari ini bagi Elenora memang cukup melelahkan baginya, seperti apa yang diucapkan James tadi.


Karena itu, dalam pikiran Elenora, setelah dia bisa kembali ke kamarnya, dia ingin segera membersihkan diri dan menikmati istirahatnya, karena besok dia harus mengerjakan banyak hal untuk persiapan meeting antara James dengan salah satu rekan kerja perusahaan mereka.


# # # # # # #


Begitu Serafina membuka matanya, dia langsung tersentak dan terbangun dengan tiba-tiba, dengan wajah yang terlihat dangat kaget.


Dan dengan gerakan cepat Serafina turun dari tempat tidur sambil melirik jam tetap melingkar di pergelangan tangannya sejak dia tidur semalam.


“Elenora! Kamu sengaja ya!” Begitu Serafina mengetahui jarum jam berada di angka enam lebih dua puluh menit, Serafina langsung berteriak ke arah Elenora dengan wajah terlihat marah sekaligus begitu kesal.


Serafina kemarin sebelum tertidur sempat mencari info pada bagian resepsionis, menanyakan tentang acara makan pagi akan diadakan pukul berapa dan dimana posisi acara akan diadakan.


Karena Serafina mendapatkan info bahwa acara makan pagi Ornado dan para tamunya akan diadakan pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Serafina sudah berencana akan bangun maksimal pukul 6 pagi, karena waktu yang biasa dibutuhkannya untuk mandi, berdandan, bersiap-siap keluar dari kamar minimal adalah satu setengah jam lamanya.


Sebenarnya Serafina ingin memasang alarm di handphonenya agar dia bisa terbangun paling tidak pukul setengah enam pagi, tapi dia melupakan hal itu karena sudah terlalu lekah setelah perjalanan jauh, langsung tidur bahkan tanpa sempat mengganti pakaian yang dikenakannya sejak  berangkat dari Italia.


Melihat Elenora yang sudah duduk di depan cermin dan menyisir rambutnya, Serafina yang baru saja bangun dari tidurnya langsung berteriak kepada adiknya itu dengan nada suara yang terdengar tinggi, membuat tubuh Elenora tersentak kaget karena tidak menyangka akan mendapat teguran dari Serafina yang disangkanya masih tertidur.


“Ma… maaf. Aku tidak tahu rencanamu bangun sepagi ini. Aku tidak berani mengganggu apalagi membangunkanmu, karena biasanya kamu memang tidak pernah bangun sepagi ini. Kamu selalu mengeluhkan kepalamu yang sakit jika harus bangun sepagi ini.” Elenora langsung berkata sambil membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Serafina dengan rasa bersalah.


“Itu pasti hanya alasanmu saja! Kamu sengaja tidak ingin mengajakku untuk makan bersama dengan yang lain! Agar kamu memiliki waktu lebih banyak untuk mencari perhatian para orang penting itu!” Serafina mengomel sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Namun sebentar kemudian, Serafina menoleh kembali ke arah Elenora, dan menatapnya tajam.


Rambut asli Elenora sebenarnya lurus dan panjang sebatas pinggang. Namun karena terlalu sering dikepang, menyebabkan rambutnya seperti rambut bergelombang saat dia melepaskan ikatan rambutnya itu setiap harinya.


Mendengar teriakan dari Serafina, Elenora menarik nafas dalam-dalam sambil salah satu tangannya menggosok-gosok lengan tangannya yang lain, karena perkataan Serafina berhasil membuatnya terintimidasi, dan tubuhnya merasakan udara di sekitarnya menjadi lebih dingin untuknya.


Ingatan tentang kejadian itu, meskipun di satu sisi mengingatkannya pada rasa cintanya yang begitu dalam pada James, tapi di sisi lain, itu juga membuatnya ingat akan rasa takut, jijik, dan putus asa yang dia rasakan malam itu.


Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Elenora sadar dari lamunannya.


Dengan gerakan cepat, Elenora beranjak ke arah pintu kamarnya, setelah merapikan pakaiannya, meskipun rambutnya masih tergerai dan belum dikepangnya seperti biasanya.


“Eh?” Alex yang sedang berdiri di depan pintu kamar yang ditempati oleh Elenora menatap ke arah Elenora dengan tatapan tidak percaya.


Elenora? Benarkah yang ada di hadapanku benar Elenora? Elenora yang aku kenal? Cantik sekali…


Alex berkata dalam hati tanpa bisa mengeluarkan suaranya, meskipun hatinya sungguh sangat memuji kecantikan Elenora yang terlihat jelas hari ini.


Meskipun Elenora masih mengenakan kacamata tebalnya, namun pakaian modis yang diberikan oleh Cladia, dan rambut panjangnya yang tergerai rapi setelah disisir, membuatnya tampil cantik dengan aura anggun yang tidak dapat disembunyikannya.


Belum lagi aroma segar dari tubuh Elenora yang baru saja selesai mandi membuat bau harum sabun langsung menyapa hidung Alex.


“Eh, selamat pagi Alex. Apa ada yang penting?” Dengan sikap gugup Elenora segera menggerakkan tangannya, dan mengikat rambutnya membentuk kuncir kuda.


Alex sendiri harus berdehem kecil untuk mengembalikan dirinya sendiri dari rasa canggung alkibat kaget melihat betapa cantiknya penampilan Elenora pagi ini.


“Ah tidak, sebenarnya aku baru saja kembali dari kamar Pak Ornado, untuk memberikan laporan pada beliau bahwa orang yang sudah berusaha meretas data komputer milik anak perusahaan Bumi Asia, sudah tertangkap, dan sekarang sedang berada di penjara, di bawah pengawasan polisis di kota itu.” Alex menjelaskan apa yang sudah terjadi pada hacker yang berhasil ditangkap atas bantuan Elenora menemukan lokasi orang itu kemarin malam.


“Kata pak Ornado beliau akan memberikan perintah selanjutnya tentang hacker itu setelah acara liburannya selesai. Dan tadi ketika aku bertemu pak Ornado, kebetulan bu Cladia melihat kami sedang berbincang, dan meminta bantuanku untuk menyerahkan ini padamu.” Selesai memberikan penjelasan, Alex menyodorkan sebuah tas kertas berukuran sedang ke arah Elenora, yang menerimanya dengan gerakan ragu.


“Terimakasih Alex. Aku akan mngucapkan terimakasih secara pribadi kepada bu Cladia nanti saat bertemu.” Elenora berkata sambil tersenyum, membuat Alex semakin terpana karena Elenora yang terlihat semakin cantik dengan senyumnya itu.


“Oke kalau begitu, aku pergi dulu ya. Sebentar lagi acara sarapan bersama akan dimulai. Lebih baik kamu segera ke main hall resort agar tidak terlambat.” Akhirnya Alex berpamitan meskipun jika boleh jujur, dia masih enggan berpisah dari Elenora yang dari hari pertama datang ke Bali, memberikan banyak kejutan padanya, terutama tentang perubahan penampilannya yang terlihat jauh berbeda dari saat pertama kalinya dia bertemu dan berkenalan dengan Elenora.