
“Ok Ad, selama itu tidak merepotkanmu. Aku hanya berpikir kali ini seharusnya aku mengurus semuanya sendiri tanpa merepotkanmu karena banyaknya orang yang akan ikut bersamaku. Sudah terlalu banyak yang kamu lakukan untukku selama kita saling mengenal.” Perkataan Alvero membuat Ornado tersenyum.
“Apa kamu pikir dengan membantumu menikmati liburan selama di sini akan membuatku bangkrut?” Alvero langsung tergelak mendengar kata-kata Ornado yang sepertinya justru menantangnya.
“Sepertinya akan butuh ratusan tahun dan bantuan dari ratusan juta orang untuk membuatmu bangkrut Ad.” Alvero berkata sambil tangannya yang bebas mengelus bagian belakang pinggang Deanda berulang-ulang.
Alvero tahu betul, bahkan dia sebagai raja dari kerajaan Gracetian yang terkenal makmur dan kaya dengan hasil buminya, tidak bisa disandingkan dengan kekayaan yang dimiliki oleh Grup Xanderson milik Ornado.
“Aku melakukan ini karena aku ingin memamerkan negara tempat aku dilahirkan.” Ornado berkata dengan santainya, membuat Alvero langsung tertawa.
“Terserah apa katamu Ad. Aku percaya kamu tahu mana yang terbaik.” Akhirnya Alvero memberikan wewenang penuh kepada Ornado untuk membantunya mengatur semuanya selama dia dan keluarganya berada di Indonesia.
“Ok kalau begitu Alvero, aku mau menyelesaikan makan siangku dulu, salam untuk permaisurimu. Aku tidak sabar menunggu pertemuan kita dua minggu lagi.” Ornado berusaha mengakhiri panggilan teleponnya, karena perutnya sendiri sudah merasa begitu lapar setelah dia tidak berhasil menikmati suguhan rujak cingur tadi.
“Ah, ya, selamat menikmati makan siangmu Ad. Salam juga untuk istrimu dan James yang aku dengar sedang dalam masa uji coba perjodohan. Ha ha ha.” Alvero berkata dengan diakhiri sebuah tawa geli setelah teringat tentang nasib James yang sempat bercerita dengannya melalui telepon tentang rencana perjodohannya dengan Elenora yang cukup membuatnya frustasi dan tertekan.
Bagi Alvero, rasa tertekan maupun frustasi James sangat wajar, mengingat bagaimana banyaknya wanita cantik di sekeliling James tidak bisa membuat James serius menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka.
Dan sekarang keluarganya memaksanya untuk menerima calon istri yang keluarganya telah tentukan untuknya.
Begitu Alvero mengakhiri panggilan teleponnya dan meletakkan handphonenya di atas meja yang ada di sampingnya, Deanda yang masih berada dalam pelukannya langsung mendongak dan matanya menatap lurus ke arah Alvero.
“Apa tanggapan Ornado tentang rencana kita ke sana?” Mendengar pertanyaan dari Deanda, dengan cepat Alvero menggerakkan tubuhnya ke samping, sehingga tubuh Deanda ikut bergerak ke samping, membuat tubuh Deanda justru terjepit diantara meja di belakangnya dan tubuh Alvero yang ada di depannya.
Kedua lengan Alvero bergerak cepat, dengan kedua telapak tangannya yang berada di samping kanan dan kiri tubuh Deanda bertumpu pada meja di belakang tubuh Deanda, membuat tubuh Deanda berada dalam kungkungan kedua lengan Alvero.
“My Al….” Dengan suara sedikit serak karena mengeluarkan suara sambil menahan debaran di dadanya, Deanda menyebutkan nama Alvero sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa denganmu sweety? Bukannya kamu tahu, kalau rajamu sedang berbicara denganmu, angkat kepalamu, jangan menyembunyikan diri.” Alvero berkata dengan nada menggoda kepada Deanda.
Deanda sendiri bisa menebak, jika saat ini dia berani mendongakkan wajahnya menatap ke arah Alvero, laki-laki itu pasti akan melakukan sesuatu yang bisa membuat debaran jantungnya semakin menggila.
“Sweety… aku sedang memanggilmu.” Perkataan Alvero membuat mau Deanda dengan sikap sedikit ragu menengadahkan wajahnya.
Belum lagi mata Deanda menatap lurus ke arah Alvero, dengan gerakan cepat, bibir Alvero langsung menyambar bibir istrinya, dan mel..umatnya untuk waktu yang tidak sebentar.
Apa kubilang, benar kan yang mulia sedang mencari-cari kesempatan.
Deanda berkata dalam hati dengan sikap pasrah, karena sebelumnya, begitu dia ingin menjauhkan kepalanya, salah satu tangan Alvero tiba-tiba saja sudah berada di tengkuknya dan menahan gerakan kepalanya agar tidak menjauh dan melepaskan ciumannya.
“Sweety….” Alvero berbisik pelan setelah melepaskan ciumannya begitu dilihatnya Deanda mulai kehabisan nafasnya.
“Aku sudah tidak sabar pergi berlibur, sedikit melupakan pekerjaan yang menumpuk di sini. Menghabiskan banyak waktu berdua denganmu, menikmati nyamannya kasur berdua denganmu sepanjang waktu.” Deanda sedikit tersentak mendengar kata-kata Alvero.
“Ka… kasur? My Al, bukannya kita mau berlibur untuk menikmati keindahan alam di sana?” Deanda bertanya dengan wajahnya yang kaget.
Melihat itu, Alvero langsung tertawa kecil.
“Namanya bulan madu, bukannya itu artinya menghabiskan waktu berdua di tempat tidur berdua dengan pasangan?” Alvero menjawab pertanyaan Deanda sambil menaikkan salah satu alisnya, dengan wajah berpura-pura polos, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Deanda.
“Tapi my Al. Kamu berjanji akan mengajakku menikmati keindahan alam di sana…” Deanda berkata dengan nada terdengar sedikit ragu.
“Awal rencanaku begitu, menghabiskan waktu berdua hanya denganmu. Di pantai, di pegunungan, menjelajah ke tempat-tempat yang indah dan menenangkan, pesta kuliner… semua ingin aku lakukan hanya berdua denganmu, tapi…” Alvero menghentikan bicaranya sebentar sambil menarik nafas panjang.
“Akan tetapi, siapa sangka bahwa semuanya berubah dengan cepat. Kamu tahu pada akhirnya, semua orang meminta ikut serta dalam perjalanan ini. Bagaimana bisa aku bersikap bebas berdua denganmu di depan banyak mata yang mengawasi kita? Bukan saja keluarga kita, tapi para pengawal dan pelayan yang banyak kita bawa karena mereka semua ingin ikut dengan kita.” Alvero berkata dengan nada sedikit berapi-api, membuat Deanda akhirnya menahan tawa gelinya.
Aku tahu dengan kabiasaanmu yang sulit mengendalikan diri saat kita sedang bersama, kamu ingin liburan ini tidak ada yang mengganggumu. Tapi mana bisa kita bilang tidak jika yang meminta ikut adalah orang-orang terdekat kita. Apalagi setelah bertahun-tahun kita berpisah dengan mereka. Ini adalah liburan pertama kita bersama mereka semua. Mereka pasti juga menantikan kesempatan baik ini.
Deanda berkata dalam hati sambil mengingat bagaimana Alvero yang begitu cepat terpancing gairahnya, bahkan hanya dengan memandanginya saja.
Rasanya setiap ada kesempatan, tanpa ragu, Alvero akan mencari cara dan kesempatan untuk meminta jatahnya kepada Deanda.
“Apa kamu merasa tidak bahagia bisa berlibur bersama seluruh keluarga besar kita my Al?” Deanda berkata dengan lembut, membuat Alvero langsung menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak merasa keberatan. Tapi karena kehadiran mereka membuat kita tidak bisa leluasa bermesraan berdua. Aku sudah putuskan, bahwa di sana kita akan lebih banyak menghabiskan waktu berdua di kamar dan melakukan aktifitas yang membuat kita bisa semakin dekat.” Alvero berkata sambil mengerlingkan matanya kepada Deanda.
Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung membeliakkan matanya.
Habislah aku, sepertinya yang mulia serius dengan perkataannya. Dia pasti benar-benar akan membuatku sulit untuk keluar dari kamar. Yang mulia benar-benar begitu bersemangat dalam hal seperti itu. Tapi yang pasti, aku adalah wanita yang selalu berbahagia, karena di pandangan matanya, aku adalah satu-satunya wanita yang diinginkannya, dan yang mulia… begitu mencintai dan menghormatiku.
Deanda berkata dalam hati sambil tersenyum ke arah Alvero. Lalu dengan gerakan pelan kedua lengan Deanda memeluk tubuh atletis Alvero dengan manja.
“Sebanyak dan sesering apapun, selama kamu menginginkannya my Al. I love you so much, my king.” Deanda berkata lembut, dan dengan sedikit berjinjit mendekatkan wajahnya ke wajah Alvero.
Setelah itu, Deanda mencium sekilas bibir Alvero dengan lembut, dengan penuh perasaan cinta, membuat tangan Alvero bergerak pelan ke arah punggung Deanda, salah satu memeluknya, sedang tangan yang lain mengelus-elus lembut punggung Deanda, dengan dagu Alvero bersandar pada pundak Deanda dengan sikap nyaman, membuat hati Deanda terasa begitu hangat.
Setiap sentuhan, perkataan Alvero, selalu saja berhasil membuat angan-angan Deanda melambung tinggi ke awan-awan, begitu merasa menjadi wanita paling beruntung dan bahagia di dunia ini, karena bisa mendapatkan anugerah yang begitu besar.
Disayang dan begitu dicintai oleh seorang laki-laki hebat dan berkuasa, seorang raja yang sejak masa kecil Deanda merupakan sosok yang begitu dikaguminya.