
Tidak berapa lama setelah James turun dan meninggalkan kantornya terlebih dahulu, Elenora dan Audrey ikut menyusul masuk ke dalam lift untuk karyawan.
"Terimakasih untuk bantuanmu hari ini Audrey." Elenora berkata sambil menatap kagum ke arah sosok Audrey yang selalu tampil modis, cantik, ramah, dan juga terlihat smart (cerdas) sebagai seorang sekretaris yang memang cukup diakui kemampuannya oleh banyak orang di perusahaan Bumi Asia.
Dan yang menambah kekaguman Elenora terhadap Audrey, dengan kemampuan dan pesonanya, Audrey bukanlah sosok gadis yang sombong.
Jika dia bisa membantu teman-teman sejawatnya, dengan senang hati dia akan membantu.
"Aist... jangan terlalu sungkan Elenora. Memang hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan karena pak James harus pergi ke kota B. Kamu juga sudah bekerja keras hari ini." Audrey berkata sambil menepuk lembut punggung Elenora yang langsung tersenyum begitu mendengar perkataan Audrey, yang sejak dikenalnya selalu bersikap ramah dan baik padanya, meskipun mereka tidak terlalu dekat.
"Dan bukan berarti, kalau pak James dan pak Ornado pergi, pekerjaan kita jadi berkurang. Aku pastikan justru akan banyak hal yang kita kerjakan, yang mungkin membuat kita tidak dapat bersantai." Audrey berkata sambil terkikik geli, karena dia sudah sering mengalami hal yang baru saja dia katakan tadi.
"Elenora, sebenarnya, apa hubunganmu dengan pak James baik-baik saja?" Pertanyaan Audrey yang begitu tiba-tiba, membuat Elenora seidkit salah tingkah.
"Me... mang kenapa hubunganku dengan pak James?" Melihat kegugupan Elenora, Audrey langsung tersenyum geli.
"Ah, tidak.... Hanya saja, sejak kamu menjadi sekretarisnya, aku dengar beliau sering marah-marah padamu. Jangan terlalu dipikirkan Elenora, pak James kadang memang akan marah jika tidak puas dengan hasil kerja kita yang tidak sempurna. Tapi begitu kita memberikan hasil kerja yang bagus, dia akan dengan sengan hati memuji kita setinggi langit." Alasan Audrey bertanya membuat Elenora menarik nafas lega.
"Eng... untuk sekarang ini, sepertinya pak James tidak lagi sepemarah dulu."
"O, ya? Pasti karena kamu sudah bisa menyesuaikan dengan baik sebagai sekretaris pak James. Tapi Elenora...." Audrey menghentikan bicaranya sebentar.
"Kenapa Audrey?" Elenora langsung bertanya karena bukan saja menghentikan bicaranya, namun Audrey terlihat ragu untuk meneruskan kata-katanya, dengan salah satu tangannya memegang tengkuknya, berusaha untuk menenangkan diri.
"Anu... tapi jangan marah ya...." Audrey berkata dengan sikap ragu, membuat Elenora mengernyitkan dahinya karena heran.
"Memang kenapa Audrey? Apa ada sesuatu yang serius yang mau kamu katakan?"
"Tidak juga.... Hanya saja... sejak awal, melihat sikap pak James padamu, kenapa aku justru berpikir kalau pak James itu, punya perhatian lebih padamu ya." Mata Elenora langsung terbeliak begitu mendengar perkataan dari Audrey.
"Eh, kenapa kamu bisa berpikir begitu?"
"Entahlah, hanya perasaanku saja, karena beberapa kali aku melihat, begitu kamu pergi setelah pak James marah, matanya justru terus memandangimu sampai kamu tidak terlihat lagi." Perkataan Audrey membuat Elenora kembali merasa heran, karena sungguh tidak menyangka bahwa Audrey melihat hal seperti itu tanpa dia sendiri sadari.
"Ah... mana mungkin hal seperti itu terjadi...." Elenora berkata sambil mengipas-kipaskan tangan kanannya di hadapan Audrey yang langsung tersenyum.
"Maaf Nona Elenora, pak James sedang menunggu Nona di depan." Begitu mendengar apa yang dikatakan oleh security itu, Elenora dan Audrey langsung saling berpandangan dengan wajah heran, kenapa James tidak langsung pulang seperti biasanya, mengendarai sendiri mobilnya.
"Audrey, jangan pergi dulu ya. Aku akan temui pak James sebentar dan menanyakan keperluannya, setelah itu kita pulang bersama, seperti rencana kita tadi." Audrey hanya mengangguk asal-asalan mendengar perkataan Elenora, karena dia tidak yakin bahwa mereka bisa pergi bersama.
Feelingku mengatakan bahwa apa yang aku katakan pada Elenora tadi benar-benar terjadi. Aku berani bertaruh bahwa pak James memang punya perasaan khusus kepada Elenora, dan sekarang sedang mencari cara untuk bis mendekati Elenora. Wah.... Elenora, kamu benar-benar gadis yang beruntung.
Audrey berkata dalam hati sambil memandang ke arah James yang tampak berdiri di samping mobilnya, dengan kaki kirinya sesekali terayun ke depan dan belakang dengan gerakan pelan, ciri khas seseorang yang sedang menghitung waktu, karena menunggu seseorang.
Begitu mendengar suara langkah kaki yang mengenakan sepatu, James segera menghentikan gerakan kakinya, dan membalikkan tubuhnya untuk dapat melihat siapa yang datang.
Sebuah senyum langsung tersungging di bibir James yang dengan gerakan ceapt, tanpa di duga-duga baik oleh Elenora maupun Audrey, James melemparkan kunci mobil miliknya ke arah Elenora yang dengan gerakan kikuk menangkap kunci tersebut.
"Ma... maaf Pak James, untuk apa kunci mobil ini? Apa Pak James mau saya memberikannya kepada pak Fred?" Dengan ragu Elenora mencoba memperjelas apa tujuan James melemparkan kunci mobil padanya.
"Kamu bisa menyetir kan? Mulai sekarang aku mau sekretaris pribadiku yang menjemputku untuk berangkat ke kantor, dan mengantarku pulang dari kantor ke rumah." Dengan santainya James berkata sambil menatap ke arah Elenora yang matanya langsung terbeliak begitu mendengar perkataan dari James, yang justru terlihat menahan senyumnya begitu melihat reaksi Elenora.
Haist... kenapa kamu terlihat cantik dengan matamu yang terlihat membulat sempurna itu? Rasanya ingin sekali aku mengambil kacamata jelekmu itu dan menyingkirkannya jauh-jauh darimu. Sayangnya aku masih merasa tidak rela jika laki-laki lain terus memandangimu karena mereka belum tahu kalau kamu adalah istriku.
James berkata dalam hati sambil menggerakkan kepalanya ke samping kiri, memberi tanda pada Elenora agar segera melakukan tugasnya untuk duduk di bangku pengendara.
"Tap... tapi pak James, saya dan Audrey sudah ada janj...."
Aduh... Elenora... jangan bahas masalah janji kita di depan pak James. Apa kamu tidak melihat bagaimana pak James menatapku dengan tatapan tajam dan mengerikan padaku.
Audrey berteriak dalam hati sambil menatap tajam ke arah Elenora yang dari gerak-geriknya terlihat jelas bahwa dia akan menolak permintaan James.
"Ah, Elenora, aku baru ingat, adikku yang datang berkunjung ke tempatku, tadi mengirimkan pesan bahwa dia sedang ada di luar dan ingin agar aku menyusulnya kesana. Dan tujuannya berbalik arah dengan rumahku. Maaf ya... aku lupa memberitahumu kalau hari ini aku tidak bisa pulang bersama denganmu." Audrey buru-buru memotong perkataan Elenora, dan menolak dengan halus ajakan Elenora untuk pergi bersamanya, dengan memanfaatkan keberadaan adiknya yang memang sedang mengunjunginya.
Audrey sengaja melakukan itu karena dia bisa melihat bagaimana wajah James yang sedikit berubah begitu Elenora mengatakan bahwa Elenora akan pergi bersamanya.
"Ehem..." James langsung berdehem pelan untuk mengungkapkan perasaan leganya karena Audrey yang menurutnya terlihat begitu mengerti dengan kondisi yang sedang terjadi.