
"Mi piaci sempre così come sei. Sono felice se sei felice. Hai è la felicità e per te farei di tutto." (aku selalu suka kamu apa adanya. Aku bahagia jika kamu bahagia. Memilikimu adalah kebahagiaan dan aku akan melakukan apa saja untukmu). Ornado kembali mengucapkan kata-katanya dengan mata birunya yang indah menatap ke arah Cladia dengan tatapan yang tidak bisa menyembUnyikan rasa kagum dan cintanya pada istri cantiknya itu.
"Sei più che sufficiente per me. Sono tutto tuo." (Kamu lebih dari cukup untukku. Aku milikmu sepenuhnya). Cladia membalas perkataan Ornado dengan suara terdengar parau dan wajah memerah, juga tangan Cladia yang mengelus lembut tengkuk leher Ornado, membuat pernyataan Cladia itu seperti undangan bagi Ornado untuk bisa memulai apa yang sudah mereka rencanakan berdua tadi.
"Ti amo amore mio." Ornado mengucapkan cintanya sebelum bibirnya kembali mencium bibir Cladia, kali ini dengan ciuman yang menuntut dan penuh hasrat.
Dan tanpa ragu, Cladia mulai membalas ciuman Ornado sambil memejamkan matanya, dengan kedua tangannya yang saling bertaut melingkar di leher Ornado, menikmati ciuman panas Ornado dan menenggelamkan dirinya sendiri dari rasa aman dan nyaman setiap merasakan sentuhan Ornado pada tubuhnya.
Wajah tenang sekaligus bahagia dari Cladia membuat Ornado tidak lagi menahan dirinya untuk membawa Cladia ikut menikmati api cinta dan gairah yang sedang membakar dadanya saat ini.
# # # # # # #
James masih diam terpaku di tempatnya sambil memandangi layar handphone yang tergeletak di atas meja yang ada di hadapannya setelah Ornado menutup panggilan teleponnya.
Semua yang diucapkan Ornado dengan nada marah tentang hubungannya dengan Elenora, membuat James berkali-kali menghela nafasnya.
Meskipun beberapa kata-kata Ornado terdengar begitu keras dan seolah-olah menuduhnya sudah mempermainkan perasaan Elenora, tapi James sadar kalau apa yang diucapkan Ornado memang benar.
Perkataan Ornado membuat James kembali teringat akan banyak kejadian yang bisa jadi memang menyakitkan bagi Elenora.
Sikap kasar dan dingin James sejak mereka bertemu kembali, bagaimana dia menolak dengan tegas rencana perjodohan mereka, mengatakan bahwa Elenora merupakan gadis kampungan yang bukan tipe gadis pilihannya, juga bagaimana kerasnya James terhadap Elenora sejak gadis itu menjadi sekretarisnya, semua bayangan kejadian itu membuat James tertunduk lesu, dengan kedua tangannya yang mengatup di depan wajahnya, menempel di hidungnya.
Bahkan bagaimana dia memaksa Elenora menandatangani akta pernikahan, tanpa mengatakan dengan jujur bahwa sebenarnya dia melakukan itu karena begitu takut kehilangan Elenora, dan begitu mencintai gadis itu, membuat James tiba-tiba saja mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan yang sedang ditempatinya, dengan mata berkaca-kaca.
Ele, apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini?
James berbisik dalam hati sambil menutup kedua matanya, untuk menahan matanya yang sudah terasa panas.
Aku harus membayar apa yang sudah aku lakukan padamu dengan mencintai dan membahagiakanmu seumur hidupku.
Perkataan dalam hatinya, diucapkan James dengan matanya yang memandang ke arah layar handphone di depannya, yang menunjukkan foto yang diambil setelah mereka menandatangani akta pernikahan mereka waktu itu.
Foto dimana James terlihat menyunggingkan senyumnya, sedang Elenora dengan tatapan kosongnya duduk di samping James, dengan wajah terlihat begitu tegang.
"Ele... Elenora Xanderson… istriku...."
James berbisik pelan sambil ujung-ujung jarinya mengelus foto wajah Elenora yang terlihat cantik, meskipun tanpa melepas kacamata dan mengatur rambutnya.
Beberapa kali James berusaha mengetikkan kata-kata yang menunjukkan permintaan maafnya, tapi beberapa saat kemudian, James menghapusnya.
Begitu, sampai berkali-kali James melakukan itu secara berulang-ulang, tapi tetap saja James merasa tidak ada kata-kata yang tepat untuk dia tuliskan kepada Elenora, untuk mewakili isi hatinya saat ini.
Akh... aku ingin pulang! Aku ingin bertemu Ele dan meminta maaf langsung di hadapannya. Aku ingin memeluknya, dan mengatakan bahwa aku begitu mencintainya!
James berteriak dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar, menunjukkan kalau dia merasa begitu frustasi saat ini, karena tidak tahu bagaimana harus memulai bagaimana bersikap manis terhadap Elenora untuk membayar semua hal buruk yang sudah dilakukannya terhadap Elenora di masa lalu.
Awalnya James ingin menuliskan permintaan maafnya melalui pesan singkat untuk Elenora.
Akan tetapi, setelah James berpikir bahwa akan lebih baik dia mengucapkan permintaan maafnya langsung di hadapan Elenora, akhirnya James memilih untuk menundanya hingga dia pulang kembali dan memilih untuk menuliskan pesan lain pada Elenora.
# # # # # # #
Elenora yang sedang menikmati minuman segar di hadapannya setelah menyelesaikan makan siangnya bersama Audrey, sedikit mengernyitkan dahinya begitu melihat pesan masuk dari James.
Aku akan sedikit lebih lama di kota B karena masalah di sini cukup rumit. Aku harap semuanya bisa diselesaikan dengan cepat, dan aku bisa cepat pulang untuk menemuimu. Aku dengar dari Matilda kamu tidak pernah pergi keluar selain ke kantor. Jika kamu bosan, kamu bisa mengajak Audrey untuk berjalan-jalan. Dia pasti dengan senang hati akan menemanimu. Jangan sungkan untuk memakai kartu kredit dan atm yang sudah aku berikan padamu. Kamu juga bisa membelikan sesuatu untu Audrey dengan kartu itu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, bilang saja ke aku.
Pesan dari James membuat Elenora tersenyum. Sejak kepergian James beberapa hari ini, Elenora dan James boleh dikata saling menahan diri untuk saling mengirimkan pesan, kecuali berhubungan dengan masalah pekerjaan.
Baik Elenora maupun James, saat malam tiba seringkali melihat ke arah layar handphonenya, berharap ada pesan masuk yang bukan menuliskan tentang pekerjaan.
Dan melihat bagaimana James menuliskan pesannya barusan, membuat hati Elenora membuncah oleh sebuah rasa yang sulit untuk dia ungkapkan dengan kata-kata.
Yang pasti, saat ini Elenora merasakan ada suatu rasa yang menggelitik di dadanya dan membuat bibirnya tidak berhenti untuk melengkung membentuk sebuah senyuman, yang tidak bisa ditahannya lagi, meskipun ada Audrey di depannya yang jadi ikut tersenyum melihat bagaimana Elenora yang berusaha menahan senyumannya, tapi tetap saja senyum malu-malu terus tersungging di wajahnya, apalagi belum sempat Elenora membalas pesan dari James, laki-laki itu sudah memberinya sebuah pesan singkat lagi.
Kalau aku pulang, apa ada sesuatu yang kamu inginkan untuk aku bawa? Ada beberapa makanan khas dari kota ini yang cukup terkenal dan menurutku rasanya unik dan enak. Akan aku kirimkan foto dan nama dari makanan-makanan itu. Kamu bisa melihatnya dan mana yang kamu inginkan, aku akan membawanya untukmu. Tetap jaga kesehatanmu.
Pesan dari James kali ini sungguh membuat Elenora menahan nafasnya dengan wajah terlihat begitu bahagia, membuat Audrey tidak tahan untuk tidak menggodanya.
"Pesan dari siapa itu? Apa dari kekasihmu yang ada di Italia?" Pertanyaan Audrey membuat Elenora langsung menoleh dengan wajah malu dan menahan senyumnya.
"Aku tidak punya kekasih di Italia Audrey."
"Kalau begitu... apa kekasihmu ada di Indonesia? Atau orang Indonesia? Atau bekerja di Indonesia?" Audrey kembali mengucapkan sebuah pertanyaan yang membuat Elenora menjadi kikuk.