My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BERBAGI SUKA DAN DUKA DENGANMU



Heh... bagaimana aku bisa melupakan tentang hal itu? Berada sekantor dengan amore mio memang membuatku lebih tenang karena bisa selalu berada di sisinya sepanjang waktu. Tapi, itu juga berarti bahwa semakin sulit bagiku untuk menyembunyikan sesuatu dari amore mio. Aku harus menghubungi Dave sekarang... tapi bagaimana dengan amore mio kalau dia mendengar pembicaraan kami? Aku tidak mau amore mio jadi berpikir yang tidak-tidak, yang akan mempengaruhi kesehatannya. Dia sudah cukup menderita karena mengalami hyperemesis gravidarum. Aku tidak ingin menambah penderitaannya.


Ornado berkata dalam hati dengan tetap berusaha melemparkan senyum pada Cladia agar wanitanya itu tidak perlu merasa khawatir.


(Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang muncul secara berlebihan selama masa kehamilan. Mual dan muntah (morning sickness) pada kehamilan trimester awal sebenarnya normal. Namun pada hiperemesis gravidarum, mual dan muntah dapat terjadi sepanjang hari dan berisiko menimbulkan dehidrasi.


Tidak hanya dehidrasi, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan elektrolit dan berat badan turun. Hiperemesis gravidarum perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya).


“Al... kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" Cladia berkata sambil menarik kursinya, dan menyeretnya ke samping kursi Ornado dan duduk di sampingnya.


"Bukan masalah besar amore mio." Ornado berkata sambil mengelus lembut rambut di kepala Cladia.


"Al... kamu selalu saja begitu. Aku tahu kamu laki-laki yang hebat, yang selalu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri tanpa merepotkan orang lain. Tapi Al... aku adalah istrimu. Aku juga ingin seperti wanita lain yang bisa menjadi penolong bagi suaminya." Ornado langsung terkesiap begitu mendengar kata-kata Cladia.


"Tapi amore mio...."


"Apa bagimu aku selemah itu Al? Apa kamu tahu tindakanmu dengan berusaha mengatasi masalahmu sendiri, tanpa melibatkanku, membuatku merasa menjadi seorang istri yang tidak berguna bagimu? Merasa menjadi istri yang hanya menjadi beban untukmu." Cladia berkata pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya agar Ornado tidak melihat dia sedang berusaha keras menahan air matanya.


Ah... kenapa sejak hamil aku menjadi wanita yang cengeng? Tapi bagiku Al adalah segalanya dalam hidupku. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak tahu harus bagaimana menjalani kehidupanku selanjutnya. Aku juga ingin berbagi beban dengannya. Aku ingin selalu ada untuknya baik di masa bahagia atau masa sulitnya. Meskipun mungkin aku tidak bisa banyak membantunya, paling tidak, aku bisa menjadi pendengar yang baik, orang yang akan selalu mendukung dan mendoakannya.


Cladia berkata dalam hati sambil menelan ludahnya, berharap air matanya tidak benar-benar turun karena hatinya yang merasa sedih, karena menyadari setiap kali Ornadolah yang akan menyelesaikan semuanya sendirian, sedang dia hanya sebagai penonton, yang itupun hanya bisa tahu setelah semuanya berakhir.


Lagi-lagi... Ornado merasa begitu kaget mendengar perkataan dari Cladia, yang baginya terdengar menyedihkan.


Apa aku salah selama ini? Apa tindakanku sudah menyakiti amore mio? Aku hanya ingin menjaga dan selalu melindunginya. Aku hanya ingin... semuanya aku yang bertanggungjawab dan menyelesaikannya agar hidupnya selalu bahagia dan damai.


Ornado berkata dalam hati sambil menatap dalam-dalam ke arah Cladia yang menundukkan kepalanya.


"Amore mio, lihatlah ke arahku, jangan mengabaikanku." Ornado berkata sambil jari-jari tangan kanannya menyentuh lembut dagu Cladia dan mengangkatnya ke atas, sehingga Ornado bisa melihat bagaimana wajah sedih Cladia yang membuat hatinya ikut sakit.


"Apa aku membuatku kecewa amore mio? Apa aku menyakitimu?"


"Al... aku tahu kamu laki-laki yang pencemburu, juga posesif dan over protektif. Dan kamu tahu bahwa aku tidak pernah keberatan dengan semua itu. Aku selalu mencintaimu apa adanya dirimu Al, dan menghargai semua yang sudah kamu lakukan untukku. Hanya saja... aku tidak bisa menerima jika kamu selalu menyembunyikan sesuatu dariku, apalagi jika itu berhubungan dengan kita. Entah itu baik atau buruk, membahagiakan atau menyedihkan, bukankah kamu sudah berjanji saat kita menikah, kamu akan tetap mengajakku bersamamu menjalani semuanya itu?" Cladia berkata dengan suara bergetar, dan airmatanya yang semakin deras mengalir, meskipun sebenarnya dia tidak ingin menangis, membuatnya dengan cepat memejamkan matanya.


Mendengar Cladia mencurahkan isi hatinya yang selama ini dia pendam, membuat Ornado ikut merasakan gemuruh di dadanya, baginya, melihat Cladia menangis adalah hal yang sungguh menyakitkan untuknya.


Bagi Ornado, airmata Cladia terlalu berharga untuk ditumpahkan, jika bukan karena untuk menunjukkan rasa haru atau bahagianya.


"Amore mio, kumohon... jangan menangis." Ornado berkata sambil mempererat pelukannya, tanpa memperdulikan bahunya yang basah karena tetesan airmata Cladia yang menembus jas dan kemeja yang dikenakannya.


"Maaf amore mio...." Akhirnya Ornado mengucapkan kata-kata maafnya sambil menjauhkan tubuhnya dari Cladia, agar tangannya bisa menyeka airmata yang masih mengalir di pipi Cladia.


"Amore mio, jangan menangis lagi, kasihan Bee jika dia harus ikut merasakan kesedihanmu. Tidak baik untuk tumbuh kembang Bee. Kamu tahu, untuk kebaikan Bee, kamu harus bisa mengendalikan emosimu, kamu harus selalu bahagia." Ornado berkata sambil tangannya yang lain mengelus pelan perut Cladia, berharap dengan melakukan itu, Cladia menghentikan tangisnya.


Paling tidak, Cladia yang begitu mencintai bayi dalam kandungannya bisa teringat bahwa akan menjadi suatu hal yang tidak baik jika dia tidak menjaga emosi dan perasaannya selama masa kehamilannya.


"Al..." Cladia memanggil nama Ornado sambil melingkarkan lengannya ke tubuh laki-laki itu dan memeluknya dengan erat, membuat Ornado menghela nafasnya.


"Al... kumohon, biarkan aku menjadi istri yang bisa berdiri teguh di sampingmu. Bisa menjadi wanita yang berguna yang bisa selalu ada di dekatmu di segala musim hidupmu." Perkataan Cladia membuat Ornado mendesah pelan.


Meskipun Ornado tahu bahwa keinginan Cladia itu tidak salah, tapi bagi dia yang memang memiliki sifat posesif, over protektif, mandiri, dengan kehebatan dan kemampuannya dalam memecahkan semua masalah yang dihadapinya dan keinginan yang begitu besar untuk selalu melindungi Cladia, untuk memenuhi keinginan Cladia barusan, bukanlah hal yang mudah baginya.


"Keberadaanmu sebagai istriku, sudah lebih dari cukup bagiku amore mio. Dan  sebagai suamimu yang harus bertanggungjawab penuh terhadapmu, aku tidak mau memberikan beban lebih padamu. Tapi jika kamu menginginkan apa yang tadi kamu katakana, aku akan berusaha untuk mulai belajar melakukan itu dengan baik ke depannya. Jadi jangan merasa kalau kamu tidak bisa menjadi istri yang baik dan berguna bagiku." Ornado berkata pelan dengan mata tetap menatap lembut ke arah Cladia, yang wajahnya tampak berubah setelah Ornado mengucapkan perkataannya barusan.


Untuk saat ini, itu adalah hal terbaik yang bisa diucapkan Ornado untuk Cladia, agar wanitanya itu tidak lagi merasa khawatir terhadapnya.