My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KECELAKAAN KECIL



Ketika Elenora meninggalkan kamarnya setelah meeting tadi, James dengan cepat langsung menghubungi salah satu butik terkenal di kota itu untuk melakukan pemesanan topi dan kain pantai untuk Elenora.


Beberapa foto langsung dikirimkan oleh pemilik butik ke handphone James, yang akhirnya menjatuhkan pilihan pada dua benda yang sekarang berada dalam paper bag yang ada di atas pangkuan Elenora.


"Terimakasih... James." Dengan suara pelan dan suara bergetar karena bahgia sekaligus terharu, Elenora mengucapkan terimaksihnya.


Bagaimanapun, topi dan kain pantai itu merupakan dua benda yang untuk pertama kalinya dia terima dari James, sejak mereka bertemu kembali setelah dia sempat menghilang bertahun-tahun.


Dan itu membuat Elenora tidak bisa melukiskan perasaannya yang bercampur aduk saat ini. Rasa cinta, bahagia, haru, bercampur aduk menjadi satu dalam benak Elenora, membuatnya tiba-tiba merasakan rasa sesak di dadanya, dengan mata yang tiba-tiba terasa panas.


Ketika mereka masih sama-sama kecil dan remaja, untuk makanan atau mainan, mereka sudah sering berbagi, tapi sejak Elenora menghilang malam itu, dan kembali ke Roma setelah bertahun-tahun kemudian, jangankan berbagi makanan, kesempatan untuk bebincang dan makan bersama begitu dihindari oleh James yang menyimpan kekecewaan yang begitu besar pada Elenora.


"Sama-sama, semoga sesuai dengan seleramu." James berkata dengan nada santai meskipun dadanya berdetak dengan begitu keras, karena sekilas ketika dia melirik ke arah Elenora, dilihatnya gadis itu terus memandangi isi paper bag itu dengan mata berkaca-kaca.


Eh... kenapa dengan Elenora? Kenapa dia terlihat seperti mau menangis? Apa dia tidak suka dengan hadiahku? Tapi tidak mungkin... tadi jelas-jelas dia terlihat begitu bahagia, kenapa sekarang tiba-tiba dia terlihat mau menangis? Apa benda itu mengingatkannya pada perilaku buruk Serafina?


James berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya, dengan wajah terlihat khawatir.


Mata James terlihat berkali-kali melirik ke arah Elenora, dengan tangan kirinya yang jari-jarinya bergerak dengan tidak tenang di atas setir yang dipegangnya, karena tanpa sadar dia hampir saja menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Elenora agar gadis itu tidak lagi terlihat sedih.


"Ele, kenapa kamu seperti itu? Apa kamu tidak suka dengan topi dan kain pantainya?" Akhirnya James tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya kepada Elenora yang langsung menoleh ke arah James dan tersenyum.


"Ti... dak James. Aku suka... suka sekali...." Elenora berkata lirih sambil melebarkan senyumnya dan mengerjapkan matanya untuk mencegah airmatanya turun.


Mendengar perkataan tulus dari Elenora bahwa dia menyukai kedua benda itu, membuat James tesenyum lega.


Paling tidak Elenora terlihat hampir menangis bukan karena tidak suka dengan barang pemberiannya yang sudah susah payah dipilihnya khusus untuk Elenora.


"Ah, kalau begitu jangan menangis. Matamu akan bengkak dan kecantikanmu akan hilang diambil oleh dewa hujan." Mendengar candaan James, Elenora hanya bisa tertawa kecil.


Ujung jari tangan kanan Elenora langsung menyeka sebutir air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya, dengan bibir masih tersenyum lebar.


Begitu sampai di tempat dimana mereka akan naik helikopter untuk menyusul Ornado dan yagn lainnya, dua orang dengan pakaian khas devisi keamanan perusahaan Bumi Asia segera mendekat ke arah James yang langsung menyerahkan kunci mobil kepada salah satu dari mereka untuk memindahkan parkir mobil yang dikendarainya tadi.


Sengaja menunggu kedatangan James dan Elenora, sesuai perintah yang sudah dia terima dari James tadi pagi.


"Silahkan Nona...." Orang yang mangantar James dan Elenora, mengulurkan tangan ke arah Elenora untuk membantunya naik ke helikopter yang pijakan kakinya cukup tinggi.


Melihat itu dengan cepat James berjalan ke depan, sengaja berdiri diantara tangan petugas keamanan yang sedang terulur dan tubuh Elenora, membuat petugas itu tersentak kaget dan menurunkan kembali tangannya yang terulur pada Elenora, dan memilih untuk menjauh dengan mundur ke belakang, memberikan keleluasaan bagi James untuk bergerak membantu Elenora.


Dan tanpa mengatakan apapun, tangan kanan James langsung meraih pergelangan tangan kiri Elenora, dengan tangan kirinya bergerak menahan bagian belakang pinggang Elenora.


Mendapatkan sentuhan dari James, yang sebenarnya Elenora tahu itu dilakukan James untuk membantunya naik ke helikopter...


Tetap saja jantung Elenora berdetak dengan cepat sambil menahan nafasnya yang langsung bereaksi karena sentuhan dari James ke tubuhnya.


"Ayo, aku akan memegangmu! Tenang saja... aku tidak akan membiarkanmu terjatuh!" James berteriak keras untuk mengalahkan suara baling-baling helikopter yang sudah mulai berputar dan menimbulkan suara cukup berisik.


Mendengar teriakan dari James, dengan cepat Elenora mengangkat kakinya, dan berusaha menahan tubuhnya agar bisa naik ke atas.


Namun karena tidak fokus, kaki Elenora sedikit terpeleset sehingga membuat tubuhnya hampir terjengkang ke belakang, untung saja tangan Jmaes yang berjaga di bagian belakang pinggangnya dengan sigap langsung bergerak melingkar dan memeluk tubuh Elenora, sehingga tidak terjatuh.


Untuk beberapa saat Elenora dan James yang sama-sama kaget, saling berpandangan, dengan posisi tubuh Elenora yang hampir terjatuh berada pelukan tangan kiri James yang harus membungkukkan tubuhnya agar bisa menangkap dan menahan tubuh Elenora yang hampir terjatuh.


Posisi mereka saat ini membuat bukan hanya tubuh James dan Elenora yang terlihat begitu dekat, namun wajah mereka juga begitu dekat, membuat James maupun Elenora sama-sama menelan ludahnya, karena kedekatan mereka saat ini membuat dada mereka sama-sama berdetak dengan keras, tanpa bisa mereka kendalikan.


"Ah... maaf James." Dengan buru-buru, begitu Elenora sadar posisinya saat ini langsung berusaha berdiri dengan benar.


James yang awalnya bisa melihat bagaimana indahnya bulu mata Elenora, dan juga mata yang tertutup kacamata tebalnya, sebenarnya tidak keberatan jika harus menunda untuk beberapa saat lagi agar Elenora dan dia tetap dalam posisi itu, sehingga dia bisa menikmati kecantikan Elenora yang sepertinya mulai membuat dirinya semakin tergoda.


Mata James yang awalnya hanya fokus pada mata dan bulu mata indah itu, mau tidak mau turun ke arah hidung mancung Elenora, dan diam terpaku pada bibir Elenora, yang saat ini terlihat basah karena pelembab yang dikenakannya, membuat hampir saja James menggerakkan bibirnya untuk bisa merasakan hangatnya bibir cantik milik Elenora itu.


Tapi suara Elenora dan gerakan tubuhnya yang mencoba berdiri kembali, membuat James tersadar dari angan-angannya, yang sempat membuatnya kembali menelan ludah sebelum akhirnya dengan gerakan lembut tapi bertenaga, James menggerakkan lengan kirinya yang menopang punggung Elenora, membantunya agar gadis itu bisa berdiri tegak kembali.