
Kenapa aku tertidur? Sedang dimana aku sekarang? Hal terakhir yang aku ingat adalah saat aku dan kak Jeremy sedang mengobrol, dan tiba-tiba para penjaga pintu mansion Al mendekat, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Cladia bertanya-tanya dalam hati dengan mata yang masih terpejam dengan erat, meskipun dia sudah terbangun dari pingsannya karena obat bius yang diberikan oleh salah satu kaki tangan Dario padanya.
Dengan cepat, Cladia berusaha menenangkan dirinya, menjernihkan pikirannya, sebelum akhirnya dia berusaha membuka matanya perlahan-lahan, dan berusaha bangun dari berbaringnya.
"Nyonya...." Sebuah suara perempuan yang terdengar masih muda membuat Cladia memaksakan dirinya agar cepat tersadar.
Dengan perlahan, Cladia membuka matanya, dan melihat ke sekelilingnya, sebuah tempat asing yang belum pernah ditemuinya.
Sebuah kamar dengan desain mewah, didominasi oleh warna biru laut, warna kesukaan Cladia.
Di samping tempat dia tidur tadi, sebuah ranjang berukuran besar, tampak dua orang wanita muda dengan pakaian pelayan berdiri tepat di samping tempat tidur.
"Ah...." Cladia berusaha untuk bangun dari posisi berbaringnya, meski rasa sakit di kepalanya masih terasa begitu nyata.
Selain sakit, kepalanya terasa sedikit berputar-putar, membuat gerakannya yang berusaha menggerakkan dan menurunkan kedua kakinya ke lantai menjadi lambat.
Dengan sigap kedua pelayan perempuan itu bergerak maju dan menolong Cladia untuk bisa duduk di pinggiran tempat tidur.
Namun dengan gerakan cepat Cladia langsung menghindar dan menampik tangan kedua pelayan yang terulur ke arahnya itu.
"Siapa kalian? Dimana ini?" Cladia langsung bertanya dalam bahasa Italia yang fasih, dengan tatapan matanya terlihat menyelidik ke arah kedua perempuan di depannya, yang tampak langsung menundukkan kepalanya, tanpa berani menatap ke arah Cladia, seolah Cladia adalah orang yang memegang kendali atas hidup mereka.
"Maaf Nyonya, kami tidak bermaksud bersikap tidak sopan pada Nyonya. Kami adalah pelayan di mansion tuan kami. Kami mendapat tugas untuk menjaga Nyonya dan memenuhi semua permintaan Nyonya." Cladia langsung mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dari salah satu pelayanm yang dari gerak gerik tubuhnya, Cladia bisa melihat bahwa dia sedang berkata jujur barusan.
"Siapa tuan kalian? Kenapa dia membawaku ke tempat ini dengan cara tidak hormat seperti ini?" Cladia berkata sambil menggerak-gerakkan kakinya yang menempel pada lantai kamar yang terasa dingin di telapak kakinya, sedingin hatinya yang mulai merasakan ketakutan, tapi dia berusaha bersikap tegar.
Aku adalah istri Ornado Xanderson. Aku tidak boleh terlihat lemah apalagi ketakutan di depan orang lain. Aku harus bisa menunjukkan bahwa suamiku, laki-laki yang hebat, pasti tidak akan membiarkan aku ditindas oleh siapapun. Aku harus kuat, demi Bee dan terutama demi Al. Aku tidak boleh membuatnya khawatir karena terlihat lemah di depan orang lain, apalagi musuh-musuhnya.
Jika dia tidak mencoba bertahan dan membuat dirinya sendiri kuat, Cladia tahu itu pasti akan membuat orang itu berada di atas angin. Dan sebagai istri Ornado, Cladia tidak ingin orang lain meremehkan laki-lakinya karena dia bersikap cengeng dan penakut.
Bagi Cladia, tidak masalah jika dia bersikap apa adanya di depan Ornado sebagai suami yang begitu dicintai dan mencintainya, menunjukkan sisi lemahnya, tapi tidak jika itu di hadapan orang lain.
"Tunjukkan dimana tuanmu sekarang! Aku akan menemuinya, dan bertanya apa maksudnya melakukan semua ini padaku!" Cladia berkata sambil menatap tajam ke arah kedua pelayan itu.
"Kata tuan, Nyonya tidak boleh terlalu lelah dan memaksakan diri. Silahkan Nyonya beristirahat sebentar lagi agar benar-benar pulih dan siap untuk menemui tuan." Perkataan salah satu dari pelayan itu bukannya membuat Cladia menurut dan menghentikan keinginannya untuk segera menemui orang yang sudah menculiknya dengan alasan yang tidak jelas bagi Cladia.
Cladia mencoba bangkit dari duduknya, meskipun dia masih merasakan sendi-sendi di tubuhnya terasa lemas, membuatnya hampir saja kembali jatuh terduduk di atas tempat tidur.
Dengan sigap kedua pelayan itu mengulurkan tangannya, berniat membantu Cladia, tapi lagi-lagi, tangan Cladia langsung menepis tangan-tangan mereka.
"Tidak perlu bersikap pura-pura baik padaku. Jika memang tuan kalian berniat baik padaku, dia tidak akan mengundangku ke tempatnya dengan cara rendahan seperti ini." Cladia berkata sambil menegakkan posisi berdirinya, dan merapikan pakaiannya.
Melihat bagaimana Cladia berkata dengan nada yang tidak ramah itu, membuat kedua pelayan itu saling berpandangan dengan wajah sedikit takut.
Sejak awal, Dario sudah mengingatkan kepada para pelayan di mansionnya bahwa mereka harus menghormati Cladia dan merawat wanita cantik itu dengan baik.
Jika sampai Dario menemukan bahwa Cladia tidak puas atau merasa jengkel karena sikap atau apapun yang dilakukan oleh para pelayan itu, Dario sudah mengancam bahwa dia tidak segan-segan akan menghukum sekaligus memecat mereka.
Bagi orang lain yang belum pernah bekerja bersama Dario, keluar dari pekerjaan di mansion Dario mungkin merupakan hak mereka yang tidak betah tinggal disana.
Akan tetapi bagi orang-orang yang bekerja di sana, mereka akan berpikir ribuan kali, yang akan berakhir dengan ketidak beranian, karena bagi Dario, orang yang berani keluar dari mansionnya, berarti memilih untuk menjadi orang yang tidak memiliki masa depan di luar sana, kadang harus kehilangan anggota tubuhnya atau bahkan kehilangan nyawanya.
"Tunjukkan padaku jalan keluar dari kamar ini, ke tempat dimana aku bisa bertemu langsung dengan tuan kalian." Cladia berkata sambil melangkah menuju pintu kamarnya, membuat kedua pelayan itu tergagap dan dengan sikap terburu-buru segera menyusul langkah-langkah Cladia, yang tampak marah dan tidak perduli dengan kedua pelayan itu, ingin segera menemui siapa yang menjadi tuan mereka dan sudah membawanya paksa dengan cara seperti ini.