
Di sekitar Ornado, peralatan maupun bahan baku masakan terlihat begitu berantakan, seperti baru saja terjadi gempa bumi cukup hebat.
Entah itu wadah bumbu, maupun isinya, tampak tergeletak dengan posisi tidak beraturan, dan isinya tampak tercecer di mana-mana, mengotori meja stainless yang ada di sekitar Ornado.
Termasuk kulit telur yang bahkan tampak salah satu dari kulit telur yang sudah terpotong menjadi dua, salah satunya terlempar di dekat kaki Ornado, dan beberapa kali Ornado hampir menginjaknya.
Baik kepala pelayan dan para pelayan yang berniat membantunya justru langsung mendapatkan sebuah pelototan tajam dari Ornado, sehingga membuat mereka untuk saat ini tetap berdiam diri di tempatnya, hanya bisa menunggu perintah selanjutnya, tidak berani mendekat.
"Tidak, tidak perlu amore mio. Aku pastikan malam ini, kamu dan Bee akan makan nasi goreng yang enak buatanku. Mungkin begitu lahir, Bee akan meminta nasi goreng buatanku untuk merayakan kedatangannya di dunia." Mendengar jawaban dari Ornado yang terlihat masih begitu besemangat walaupun sudah mengalami beberapa kali kegagalan, Cladia langsung tersenyum dengan wajah bahagianya.
Kamu ini selalu bermulut manis, walaupun kadang terdengar tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana bisa seorang bayi yang baru lahir bisa meminta nasi goreng untuk makanannya.
Cladia berkata dalam hati sambil mengelus pelan perutnya.
Lihat perjuangan papamu untuk membuatmu senang Bee. Kamu pasti sangat bahagia memiliki papa yang begitu mencintai dan perduli padamu seperti dia.
Cladia berbisik pelan sambil memandang ke arah perutnya, dan bayi dalam perutnya memberikan sedikit respon dengan gerakan kecil yang dirasakan oleh Cladia, membuat Cladia tersenyum.
Saat ini Cladia benar-benar merasa begitu tersanjung, suaminya merupakan seorang laki-laki baik hati yang selalu melindungi dan berusaha menyenangkannya dan juga bayinya.
Beberapa kali Ornado harus mengalami kegagalan, sampai akhirnya masakan yang ketujuh, Ornado berhasil membuat nasi goreng yang cukup layak untuk dimakan menurutnya.
Walaupun dari tampilannya terlihat kurang menarik, karena di beberapa bagian tampak terlihat beberapa hal yang sedikit aneh.
Potongan daging ayam yang tidak beraturan bentuknya, juga ada satu butir bawang putih yang ternyata masih utuh.
Namun karena Ornado sudah mencicipinya, dan bagi dia nasi goreng ketujuh yang dia buat ini rasanya paling lumayan dibanding yang sebelumnya, akhirnya Ornado memutuskan untuk menyuguhkan nasi goreng itu ke hadapan Cladia, yang tidak disangka-sangka oleh Ornado matanya langsung terlihat berbinar dan terlihat menelan ludahnya saat piring berisi nasi goreng itu ada di hadapannya.
Melihat bagaimana senangnya Cladia melihat hasil karyanya, yang boleh dibilang terlihat begit berantakan, Ornado langsung tersenyum puas.
"Terimakasih Al, dari baunya pasti lezat sekali." Cladia berkata sambil mengambil sendok dan garpu di samping kanan kiri piring dengan wajah ceria.
"Enakkkk...." Begitu satu suapan sendok nasi goreng masuk ke mulutnya, Cladia langsung mengatakan enak dengan mata tertutup dan wajah terlihat begitu menikmati nasi goreng itu.
Tapi sayangnya setelah suapan pertamanya, Cladia menghentikan makannya dan meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya, lalu melap bibirnya dengan tissue, menandakan dia sudah tidak ingin makan lagi.
"Kenapa tidak dihabiskan amore mio?" Ornado yang masih berdiri tepat di depan Cladia sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya, langsung bertanya karena Cladia tidak lagi memakan nasi gorengnya.
"Apa rasanya tidak enak amore mio?" Pertanyaan dari Ornado membuat Cladia segera menggeleng-gelengkan kepalanya dngan cepat.
Bagaimana bisa setelah perjuangan panjang Ornado berjibaku di dapur, Cladia hanya menikmati sesendok nasi gorengnya dan meninggalkannya begitu saja.
"Apa nasi gorengku tidak enak? Tidak bisa dimakan?" Ornado bergumam sambil melirik ke arah piring bekas makan Cladia yang masih penuh, berisi nasi goreng.
Dengan gerakan ragu, Ornado mengambil sendok bekas Cladia dan memakan satu sendok nasi goreng itu.
"Lumayan kok. Kalian! Coba cicip nasi goreng buatanku itu!" Ornado langsung memberi perintah sambil menunjuk ke arah penggorengan, dimana ada sisa sedikit nasi goreng yang dia tinggalkan di sana tadi.
Dengan cepat, para pelayan melakukan perintah dari Ornado.
“Bagaimana? Apa tidak bisa dimakan?”
“Lu… lumayan Tuan.” Kepala pelayan yang baru saja selesai menelan nasi goreng itu langsung menjawab pertanyaan Ornado.
“Lalu, kira-kira kenapa istriku hanya memakannya satu sendok saja?” Ornado berkata sambil mengernyitkan dahinya, seolah memberikan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
“Maaf Tuan, tapi mungkin karena nyonya sedang hamil, maka tindakannya menjadi aneh.” Kepala pelayan itu berusaha menjelaskan alasan kenapa Cladia melakukan itu.
“Eh, apa maksudmu dengan nyonya menjadi aneh? Beraninya bilang bahwa istriku orang yang aneh?” Ornado langsung melotot ke arah kepala pelayan itu dengan wajah terlihat kesal dan sedikit tersinggung.
Beraninya seseorang mengatakan istriku orang yang aneh! Benar-banar cari mati!
Ornado mengomel dalam hati dengan mata tetap melotot ke arah kepala pelayan itu.
“Bu… bukan itu maksud saya Tuan. Saya juga pernah muda dan hamil Tuan. Dulu ketika hamil anak saya, saya juga seperti nyonya. Tiba-tiba ingin sesuatu, tapi begitu sudah tersedia, tiba-tiba sudah tidak lagi berselera untuk menikmatinya.” Kelapa pelayan itu berusaha menjelaskan maksud dari perkataannya sebelumnya.
“Benarkah? Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Kalian lihat kan bagaimana istriku terlihat begitu antusias melihat nasi goreng buatanku?” Bagi Ornado yang tidak paham sama sekali tentang proses kehamilan, merasa aneh dengan penjelasan kepala pelayan itu.
“Saya juga tidak bisa menjelaskannya Tuan. Hanya saja, hal seperti itu memang kadang terjadi pada wanita yang sedang hamil. Bahkan dulu saya lebih parah Tuan. Saya tidak sesabar nyonya. Jika suami saya tidak segera memenuhi permintaan saya, saya bahkan akan marah dan menangis keras dengan duduk berselonjor di lantai seperti anak kecil dan tidak akan berhenti menangis sampai suami saya mendapatkan yang saya inginkan. Dan itu tidak bisa saya kendalikan Tuan.” Ornado langsung tertawa membayangkan bagaimana kepala pelayannya, yang wajahnya terlihat sedikit sangar itu, ternyata pernah melakukan hal lucu yang baru diceritakannya itu.
“Benarkah?”
“Benar Tuan. Belum lagi, setelah suami saya mendapatkannya, kadang dengan santainya saya membuang atau meninggalkannya begitu saja karena tiba-tiba merasa tidak ada *****, bahkan kadang tiba-tiba merasa jijik. Awalnya dulu suami saya sempat marah-marah dan tersinggung karena hal itu.” Kepala pelayan itu kembali menyambung ceritanya tentang pengalamannya saat hamil dulu, membuat Ornado kembali tertawa geli.
Tidak banyak yang diketahui oleh Ornado seputar kehamilan seseorang, tapi banyaknya orang yang membagikan pengalamannya, membuatnya lega. Setidaknya, dia bisa lebih mengerti dan berusaha melakukan yang terbaik untuk Cladia di masa kehamilannya ini.
Dan yang pasti, dia harus bersabar untuk hal itu.