
"Baik Tuan." Matilda segera menjawab perintah tuannya, sedang James langsung menutup panggilan teleponnya, melempar handphone ke atas tempat tidurnya yang terlihat masih rapi, dan langsung berjalan ke arah kamar mandi.
Begitu James menyelesaikan mandinya, dengan gerakan terburu-buru, James keluar dari kamarnya sambil menarik tas kopernya yang sudah disiapkan oleh Matilda sejak semalam, dan membawanya ke arah ruang makan.
"Selamat pagi Tuan James." Matilda langsung menyapa James yang terlihat rapi dan tampan dengan pakaian kasualnya yang menunjukkan sisi maskulinnya, namun tidak mengurangi kesan wibawa yang dimilikinya, yang membuat siapapun yang bertemu dengannya tahu bahwa James bukanlah pria sembarangan.
Melihat penampilan James, membuat Matilda tersenyum, apalagi dia tahu bahwa majikannya berencana terbang ke Italia untuk menemui istrinya.
"Pagi Matilda." James menjawab salam dari Matilda, tanpa memandang ke arah Matilda, dan langsung melahap steik dan segelas susu hangat yang disiapkan oleh Matilda untuknya.
"Makanlah dengan pelan-pelan Tuan, jangan sampai tersedak." Matilda yang melihat bagaimana cepatnya cara makan James langsung mengingatkannya.
"Tiddak bissa Mattillda." James berkata dengan suara tidak jelas karena mulutnya msih penuh dengan makanan.
"Aku harus segera berangkat." Setelah isi mulutnya sedikit berkurang, James melanjutkan kata-katanya.
"Matilda, jaga rumah baik-baik, tetap bersihkan dengan baik meskipun tidak ada aku dan nona Elenora. Dan hari ini, kamu dan Lucy, pindahkan semua barang-barnag yang ada di kamar nona Elenora ke kamarku. Semuamnya... termasuk semua pakaian dan barang sekecil apapun miliknya yang ada di kamar itu." Meskipun James dan Elenora sudah menikah, tapi perintah James pagi ini membuat Matilda merasa aneh.
Namun tanpa menunggu lama, Matilda segera menganggukkan kepalanya dengan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Akhirnya... apa hubungan tuan James dan nona Elenora sudah membaik? Semoga saja begitu. Aku ikut merasa bahagia untuk mereka berdua.
Matilda berkata dalam hati sambil melirik ke arah James yang baru saja selesai menghabiskan segelas susu dan membersihkan bibirnya.
# # # # # # #
"Elen... tenangkan dirimu...." Afro yang datang ke rumah sakit begitu mendengar Elenora langsung pergi ke rumah sakit setelah pesawatnya mendarat di kota Roma, langsung menahan langkah-langkah Elenora yang berniat masuk ke ruang ICCU tempat mamanya dirawat secara intensif.
(Ruang ICU (Intensive Care Unit) merupakan ruangan yang melayani perawatan pasien kritis dewasa baik kasus trauma maupun non-trauma (bedah maupun non-bedah). Ruang ICCU (Intensive Cardiologi Care Unit) merupakan ruangan yang melayani perawatan pasien kritis dewasa yang mengalami gangguan pada jantung. Ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) merupakan ruangan yang melayani perawatan pasien kritis anak-anak. Sedangkan ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) merupakan ruangan yang melayani perawatan pasien kritis bayi baru lahir).
Begitu mendarat di Roma, dan tidak bisa menghubungi nomer handphone papa mamanya, juga Serfina, Elenora langsung menghubungi Afro yang mengatakan bahwa mamanya sedang di rawat di ruangan ICCU sebuah rumah sakit terbesar milik Grup Xanderson di Italia.
"Elen, auntie masih dalam penanganan dokter. Kesadarannya belum kembali normal. Lebih baik kita menunggu di sini untuk sementara waktu, sampai ada kabar selanjutnya tentang auntie." Afro berusaha menenangkan Elenora.
"Tapi Afro... aku ingin melihatnya. Kamu tahu, hari ini adalah hari ulang tahun mama. Mungkin dengan kedatanganku, dia akan segera sadar. Aku mau melewatkan hari ini bersama mama. Dia pasti senang mendengar di hari ulang tahunnya aku bisa datang." Elenora mencoba bersikeras di depan Afro yang memasang tubuhnya untuk menghalangi Elenora mendekati ruang ICCU.
Namun yang terjadi hari ini, Elenora ada di Italia tepat di hari ualng tahun mamanya, sayangnya saat ini Elenora datang bukan untuk menghadiri pesta ulang tahun mamanya, tapi mengunjungi mamanya di rumah sakit.
"Sepertinya untuk saat ini, itu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan." Afro menjawab pelan.
"Tolong Afro, tolong aku mencari cara agar bisa menjenguk mama. Gunakan koneksimu di tempat ini. Bukannya rumah sakit ini adalah milik Grup Xanderson?" Elenora berkata dengan naada memohon di hadapan Afro yang tampak mulai bimbang.
"Elenora, jangan merengek seperti anak kecil begitu." Sebuah suara khaa seorang laki-laki yang sudah berumur, terdengar menegur Elenora.
"Papa!" Begitu Elenora menoleh dan melihat sosok papanya, dengan cepat Elenora berlari menghambu ke dalam pelukan laki-laki paruh baya itu.
"Mmmm...." Laki-laki yang merupakan ayah dari Elenora tu bergumam pelan, sambil mengelus lembut rambut di kepala Elenora.
"Apa kabarmu Elenora? Apa kamu baik-baik saja?" Mata papa dari Elenora menatap ke arah Elenora dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kondisi Elenora yang menurutnya terlihat jauh lebih kurus dari terakhir mereka berpisah sebelum Elenora berangkat ke Indonesia, membuat laki-laki itu mendesah, seolah menunjukkan rasa tidak relanya melihat anaknya tidak bahagia, ditunjukkan dengan semakin kurusnya tubuh Elenora sekarang.
"Bagaimana keadaan mama Pa?" Tanpa menjawab pertanyaan papanya, Elenora justru bertanya tentang kondisi mamanya, sambil matanya menatap nanar ke arah pintu ruang ICCU tempat mamanya berada.
"Elenora... kamu sudah datang?" Suara seorang wanita dengan langkah kaki sepatunya yang terdengar mengetuk-ketuk lantai, membuat Elenora menoleh tanpa sempat mendengar jawaban dari papanya.
"Eh, selamat pagi auntie Carina." Elenora langsung menyapa mama James yang baru saja datang.
"Pagi Elenora." Carina menjawab salam dari Elenora sambil memeluk tubuh Elenora dengan hangat.
"Jangan khawatir, mamamu pasti sembuh. Kamu baru saja sampai di Roma, sebaiknya kamu pulang dulu untuk beristirahat." Carina berkata sambil menepuk-nepuk punggung Elenora.
"Benar kata Carina. Sebaiknya kamu beristirahat di rumah terlebih dahulu. Jika ada pekembangan dari mamamu, papa pasti akan memberimu kabar. Percuma saja kamu di sini, karena tidak diijinkan untuk menjenguk mamamu." Papa Elenora langsung mendukung ide dari Carina.
"Tapi Pa... Ahhh...." Belum selesai Elenora mengutarakan keinginannya, rasa sakit kepala akibat jetlag membuat Elenora menghentikan kata-katanya sambil memegang kepalanya yagn terasa sangat sakit, belum lagi perutnya yang melilit, arena sejak kemarin siang sampaiĀ pagi ini tiba di Roma, dia belum memakan apapun karena kehilangan selera makannya.
"Apa aku bilang? Ayo aku antar kamu pulang ke rumah. Honey, sebaiknya kamu menemani papa Elenora, biar aku yang mengantar pulang Elenora. Beri aku kabar kalau ada sesuatu yang terjadi." Dengan cepat Carina menarik pergelangan tangan Elenora setelah meninggalkan pesan untuk suaminya.
Elenora yang memang tidak bisa menjenguk mamanya untuk sementara waktu, dan juga sedang merasakan sakit di kepalanya, akhirnya memilih untuk mengikuti kemauan Carina.