
"Elen... Elen... Elen… Cih! Bisa-bisanya bersikap sok manis seperti itu? Membuatku ingin muntah." James berkata sambil mendesis pelan, dengan bibir yang dia majukan dengan sikap mengejek, merasa kesal melihat bagaimana Dodi yang dengan sikap manisnya memanggil nama Elenora dengan sebutan Elen, sebuah nama panggilan yang sebenarnya terdengar manis, tapi membuat telinga James mulai panas.
Haist, dasar bocah kurangajar itu, benar-benar mencari-cari kesempatan untuk dekat-dekat dengan Elenora.
James mengomel dalam hati, dengan mata menatap lurus ke arah Dodi yang masih berbincang dengan Elenora.
"Eh, ini... di sini belum tertulis tandatangan kepala departemen HRD." Elen berkata sambil telunjuknya menunjuk ke arah kertas di bagian pojok bawah sebelah kanan, dimana tertulis jelas nama kepala departeman HRD namun belum ada tanda tangan yang dibubuhkan di sana.
"Ah, ya. Maaf, aku yang kurang teliti Elen. Aku akan segera mengembalikan ke departemen HRD agar diperbaiki." Doci mengucapkan kata-katanya sambil menegakkan kembali tubuhnya, dengan tangan kanannya meraih kembali lembaran kertas yang ada di di depan Elenora.
"Apa perlu aku yang mengantarnya sendiri ke departemen HRD?" Elenora segera menawarkan diri.
"Tidak, tidak perlu Elen! Biar aku saja. Simpan saja tenagamu untuk mengerjakan yang lain. Hari ini aku tidak banyak pekerjaan kok. Semua juga sudah selesai." Dodi berkata sambil berjalan keluar dari ruangan mereka untuk ke ruangan tempat departemen HRD berada.
"Terimakasih ya." Dengan senyum manisnya, Elenora mengucapkan terimakasihnya kepada Dodi, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengamati apa yang sedang terjadi di depannya.
"Tenang saja Elen, serahkan semua padaku." Dodi kembali berkata sambil melambaikan tangan ke arah Elenora yang langsung tersenyum geli melihat tingkah Dodi yang menurutnya lucu dan bisa membuat suasana ceria.
Wah... anak itu benar-benar tidak tahu malu, beraninya anak kemarin sore berusaha menggoda Elenora. Sepertinya keputusanku untuk mengajak Elenora pergi bersamaku besok lusa adalah keputusan yang tepat. Paling tidak, walaupun ada Alex di sana, aku juga ada di sana. Kalau Elenora masih tahu bagaimana bersikap sopan, selama ada aku, dia tidak mungkin berani-beraninya terlalu menebar pesona kepada Alex.
James berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, merasa sudah membuat keputusan paling tepat dengan mengajak Elenora pergi bersamanya sebagai asisten pribadinya.
Elenora sendiri, tanpa menyadari adanya sepasang mata yang sedang mengamatinya, untuk beberapa saat ke depan masih menyungingkan senyum di bibirnya setelah kepergian Dodi.
Sebelum akhirnya Elenora kembali menundukkan kepalanya untuk fokus kepada pekerjaannya lagi.
Hah, bahkan Elenora tidak pernah tersenyum semanis itu di depanku. Bahkan dia sepertinya selalu menghindar untuk menatap wajahku secara langsung. Apa Elenora benar-benar sedang berusaha menarik perhatian laki-laki lain? Kalau memang begitu? Kenapa dia mau bersusah payah datang ke Indonesia dan menerima perjodohan kami tanpa penolakan sedikitpun? Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikir gadis culun itu.
James berkata dalam hati da menggerakkan kepalanya ke samping dengan wajah terlihat sedang berpikir, berusaha menebak-nebak jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Ah, sudahlah, aku bukan seorang peramal yang bisa menebak isi otak seseorang." James bergumam pelan sambil menjauhkan dirinya dari kaca kantornya, untuk kembali ke meja kerjanya.
Dea berkata dalam hati sambil melirik ke arah Elenora yang kembali sibuk dengan kertas-kertas di atas meja kerjanya.
Kalau saja ada kesempatan, aku pasti bisa membuktikan bahwa hasil kerjaku akan jauh lebih baik dari gadis kampungan itu.
Sebuah omelan dalam diucapkan oleh Dea yang sejak kehadiran Elenora, hampir 2 minggu yang lalu selalu membuatnya tidak nyaman dan berusaha membuat orang melihat kelemahan dan kekurangan Elenora, yang harus diakui bahwa dia memang tidak terlalu berbakat di bidang pekerjaannya yang sekarang.
Sayangnya itu menjadi satu-satunya kesempatan bagi Elenora untuk berada di dekat James, agar bisa membuat James menerima perjodohan mereka.
Itu adalah alasan terkuat bagi Elenora untuk tetap bertahan dan belajar dengan keras untuk bisa tetap menjadi sekretaris James.
Meskipun dalam hatinya, Elenora sadar, bahwa sepertinya itu akan menjadi hal yang sulit untuk dia lakukan melihat bagaimana sikap James yang selama ini terlihat dingin dan selalu menunjukkan wajah tidak suka kepadanya.
Belum lagi kesalahan kecil pun selalu membuat James uring-uringan kepadanya, membuat seringkali Elenora berpikir untuk berhenti dan mengurungkan niatnya untuk terus berusaha mendapatkan hati James, meskipun tanpa James membalas cintanya, Elenora tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk menggantikan nama James dalam hatinya.
# # # # # # #
“Tenang saja Tuan Shaw, Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu. Kita memiliki jalan yang sama walaupun tujuan kita berbeda.” Dario ayng sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang tampak berkata dengan nada tenang, sambil memainkan pena yang dipegangnya, dengan memutar-mutar bagian tengah pena.
“Baik, aku akan segera mengaturkan waktu yang tepat untuk pertemuan resmi kita. Aku ikut dengan rencana Anda selanjutnya. Apakah kita akan bertemu di Irlandia, atau Anda datang berkunjung ke IndonesiaAku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Dario kembali mengucapkan kata-katanya setelah suara seorang laki-laki menanggapi perkataannya yang sebelumnya.
“Jangan khawatir Tuan aku akan segera berusaha mencari jalan agar rencana kerjasamaku dengannya segera terealisasi dan kita bisa segera melanjutkan rencana kita ke tahap yang selanjutnya.” Dari mengucapkan kata-katanya sambil tersenyum, karena berharap dia bisa segera mewujudkan impiannya untuk menyingkirkan Ornado dengan bantuan orang yang sedang berbicara dengannya melalui panggilan telepon itu.
“Kita berdua memang berjodoh. Aku senang sekali kita dipertemukan pada waktu yang sangat tepat. Anda membutuhkan bantuanku untuk membuat Anda meraih impian Anda…. Menyingkirkan orang-orang yang sudah berusaha menghalangi Anda untuk memiliki apa yang Anda inginkan. Dan aku juga membutuhkan bantuan Anda untuk bisa menyingkirkan adik tersayangku dan menggoyahkan Gurp Xanderson, bahkan aku sangat berharap untuk bisa menghancurkannya tanpa bekas.” Perkataan Dario yang diiringi oleh sebuah seringai licik membuat orang yang ada di seberang sana tertawa terbahak-bahak dan tampak begitu senang dengan apa yang dikatakan oleh Dario barusan.
“Baik, selamat malam.” Dengan wajah terlihat begitu puas, Dario mengakhiri panggilan teleponnya dan tangannya langsung meraih remote yang ada di atas meja yang ada di hadapannya sambil kembali tersenyum, kali ini dengan senyum yang menunjukkan apa yang akan dilakukannya adalah hal yang begitu disukainya.