My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
ANTARA BENCI DAN CINTA



"Jangan terlalu membencinya James. Apa kamu tahu, benci itu lebih mudah berubah menjadi cinta, karena saat kita membenci seseorang, pikiran kita jadi terfokus padanya, sehingga lambat laun pikiran kita akan selalu dipenuhi dengan sosoknya dan tanpa kita sadari hati kita sudah berubah dari benci menjadi cinta." Laurel hampir saja mengucapkan kata-katanya dengan nada terkikik, karena dia sendiri merasa geli dengan sikap James saat ini karena membicarakan Elenora.


"Eh, jangan menyumpahiku dong Laurel. Jangan seperti Cladia. Cladia sudah seringkali menegurku, sekarang kamu juga menegurku. Ah, memang nasibku hanya mendapatkan teguran dari wanita cantik seperti kalian tanpa bisa memiliki kesempatan mendapatkan istri atau kekasih seperti kalian." James berkata sambil mencibirkan bibirnya.


"Hist! Jangan sembarangan bicara James, atau Dave dan Ornado akan dengan senang hati mematahkan semua tulang-tulangmu kalau mendengar apa katamu barusan." Ancaman dari Laurel walaupun diucapkannya dengan nada bercanda, mau tidak mau membuat James sedikit bergidik.


Karena sebagai sepupu Ornado, James tahu pasti kehebatan dari sepupunya itu, jika urusan menghajar orang. Bahkan Ornado bisa melakukannya tanpa mengedipkan matanya sedikitpun.


"Kamu tahu James, belajarlah dari pengalamanku. Awalnya aku yang tidak pernah tahu tentang Dave, dan juga tidak mengenalnya sama sekali, aku bahkan sempat merasa begitu putus asa dan membencinya. Aku berpikir bahwa Dave adalah laki-laki jahat, kejam dan tidak berperikemanusiaan sehingga memaksaku untuk menikah dengannya tanpa persetujuan dariku." Laurel berkata sambil melirik ke arah Dave yang terlihat sedang asyik mengobrol dengan Ornado dan yang lain.


"Saat aku mengingat sakit hati yang menyebabkan aku harus putus dengan Devan, aku sempat berpikir sampai kapanpun aku tidak akan menerima pernikahan kami, dan berniat menuntut perceraian darinya. Sampai aku mendengar berita kematian palsunya yang membuat aku sedikit merasa bersalah, tidak berusaha menyelesaikan masalah kami baik-baik sebelum terlambat dan maut memisahkan. Sebelum berita itu, aku sempat berpikir walaupun membencinya, aku harus menyelesaikan semuanya dengan baik." Laurel kembali melanjutkan kata-katanya tanpa melepaskan pandangan matanya dari sosok Dave yang begitu dicintainya.


"Tapi kamu bisa melihat bagaimana nasibku sekarang. bahkan boleh dibilang Dave sudah membuatku cinta mati kepadanya." Laurel mengakhiri kata-katanya dengan tawa kecil, menunjukkan lesung pipinya yang membuatnya terlihat semakin cantik.


"O ya? Apa kamu sedang mendoakan agar aku mengalami nasib sepertimu? Benci jadi cinta?" James berkata dengan wajahnya yang menunjukkan sikap geli.


"Sudah, jangan bercanda terus. Tunjukkan gadis itu padaku. Aku sungguh penasaran dan ingin bertemu dengannya. Karena yang dikatakan Cladia sama sekali tidak cocok dengan yang kamu ucapkan. Cladia selalu mengatakan kalau Elenora gadis cantik dan baik, dengan penampilan sederhana dan...."


"Sederhana? Sepertinya lebih cocok kalau disebut dengan kampungan. Hah...." James langsung memotong ucapan Laurel, dan mendesah pelan sambil menarik nafas dalam-dalam, matanya berusaha mengitari sekelilingnya, tapi tidak ditemukannya sosok Elenora.


"Entah menghilang kemana gadis itu. Terakhir tadi aku melihatnya mengobrol dengan tante Ema. Hah, kemana dia sekarang? Membuat khawatir saja, sungguh merepotkan." James berkata sambil matanya kembali berkeliling memandang ke sekitarnya.


Melihat omelan James, Laurel langsung tertawa kecil.


"James, yakin kamu tidak memiliki perasaan apapun kepada Elenora? Kenapa kamu mengkhawatirkannya seperti itu jika memang tidak ada perasaan apapun padanya?" mendengar perkataan Laurel, James sedikit melotot, menunjukkakn bahwa dia protes keras atas kata-kata Laurel.


"Bukan begitu. Gadis itu memang kuper. Terus terang dia tidak pandai bergaul, karena itu aku sedikit memikirkan bagaimana nasibnya di tengah-tengah orang yang sebagian besar tidak dikenalnya ini. Meskipun aku tidak menyukainya sebagai seorang pria pada seorang wanita. Bukan berarti aku membencinya dan bisa seenaknya bersikap kejam padanya. Anggap saja aku khawatir kepadanya sebagai seorang kenalan, seorang teman. Kedua orangtua kami juga berteman baik. Dan Elenora juga bukan gadis jahat, tidak ada alasan untuk tidak menganggapnya sebagai seorang teman." James mencoba menjelaskan hubungannya dengan Elenora kepada Laurel yang hanya senyum-senyum sepanjang James sibuk berkata-kata.


"Ha ha ha, semoga itu hanya sekedar alasanmu saja untuk mengaburkan perasaanmu yang sebenarnya kepadanya. Mungkin kamu seperti Ad yang begitu mencintai Cladia sejak lima belas tahun yang lalu. Kamu mungkin juga sejak dulu sebenarnya sudah begitu mencintai Elenora ketika kalian sama-sama masih kecil. Ah, memang kalian keluarga Xanderson, begitu mencintai seorang gadis jadi posesif dan juga terobsesi sebegitu besarnya." Perkataan Laurel tanpa sengaja membuat James mengerucutkan bibirnya dengan wajah terlihat sedikit kesal.


"Aku tidak seperti itu...." James berusaha menyampaikan protesnya kepada Laurel.


Namun sayangnya, Laurel terlihat tersenyum dengan sikap tidak perduli dan langsung berjalan meninggalkan James, kembali mendekat ke arah yang lain, yang sedang berkumpul dan mengobrol.


Laurel baru saja berjalan mendekat ketika dilihatnya Dario juga ikut mendekat ke arah mereka yang sedang mengobrol.


"Eh, Dario, bolehkah aku berkeliling bersama James, yang ingin mencari dan memperkenalkan calon istrinya kepadaku, sambil menikmati keindahan penthousemu ini?" Laurel yang begitu berada di dekat Dave langsung berdiri tepat di sampingnya sambil melingkarkan lengannya kepada lengan Dave langsung meminta ijin kepada Dario.


Baik Ornado, Jeremy maupun Niela langsung tersenyum geli mendengar kata-kata candaan Laurel, sedang James langsung memberengut sambil mendengus kesal mendengar Laurel yang tanpa basa basi menyebutkan tentang calon istri yang tidak diinginkannya itu berkali-kali.


"Tentu saja, silahkan saja berkeliling sambil mencari Elenora. Aku juga belum melihat sosok Elenora lagi setelah kedatangannya tadi. Tapi, bisakah, kamu meminjamkan Dave agar kami bisa mengobrol sambil menunggu kamu berkeliling?" Laurel langsung menengadahkan wajahnya ke arah Dave begitu mendengar permintaan Dario.


"Aku juga ingin ikut denganmu Laurel." Niela langsung menimpali kata-kata Laurel dengan penuh semangat.


"Tuan Shaw, bolehkan aku pergi berkeliling bersama James? Kalau tidak, aku akan terus merasa penasaran." Permintaan Laurel yang diucapkannya dengan sikap manja dan suara lembut, mau tidak mau membuat Dave menganggukkan kepalanya pelan, apalagi Niela juga ikut bersama mereka berdua.


"Ok, ayo James, kita nikmati keindahan penthouse ini sekaligus menemui calon istrimu." Dengan semangat Laurel langsung mengajak James begitu mendapat ijin dari Dave.


"Ist..." Bibir James mengeluarkan suara desisan, tapi tetap saja kakinya melangkah bersama Laurel dan Niela meninggalkan yang lain untuk berkeliling sekaligus mencari sosok Elenora.


Laurel langsung mengulum senyum gelinya melihat tingkah James yang baginya justru terlihat menggelikan.


"Ah, penthouse ini benar-benar terlihat indah dan nyaman. Tapi..." Laurel menggantung perkataannya sambil sedikit mengernyitkan dahinya.