My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEJENGKELAN TERHADAP SERAFINA



Dengan menahan kejengkelan hatinya, akhirnya Serafina terpaksa pergi menjauhi sosok James.


"Huft... untung saja ada kamu." James berkat sambil menepuk paha Enzo yang sudah duduk di sampingnya, begitu Serafina pergi menjauh dari mereka.


Alaya yang sedang melirik ke arah Elenora yang sedang menoleh ke arahnya, langsung mengedipkan sebelah matanya ke arah Elenora yang sebenarnya tidak tahu apa yang sudah terjadi di sana.


Tanpa diminta oleh Enzo, Alaya yang sedang berada di dekat Enzo tadi juga langsung ikut membantu Enzo, menghalangi Serafina untuk duduk berdekatan dengan James.


"Sebenarnya tadi aku hanya memikirkan perasaan calon istrimu kalau tiba-tiba saja ada gadis asing yang cantik duduk di sampingmu. Aku hanya ingin sedikit membantumu." Enzo berkata pelan sambil tersenyum geli, apalagi melihat James menghembuskan nafas lega begitu Serafina pergi menjauh darinya.


"Terimakasih Enzo. Dari dulu aku memang tidak pernah cocok dengan kakak Elenora itu...."


"Eitss.... tung... tunggu dulu.... Jadi gadis yang barusan itu, adalah kakak dari Elenora? Kakak angkat? Kakak tiri? Kakak sepupu? Kakak kandung? Wajah maupun karakter mereka sama sekali tidak mirip satu sama lain. Yang barusan ini cantik sih, tapi sepertinya bukan gadis baik-baik. Maaf kalau aku terlalu cepat menilai." Enzo berkata sambil menatap ke arah James yang terlihat langsung meringis mendengar perkataan Enzo tentang Serafina.


"Kakak kandung yang benar, bukan kakak sepupu, kakak tiri, apalagi kakak angkat." James berkata sambil melirik kembali ke arah Elenora, yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya.


Memikirkan kecantikan gadis itu tanpa kacamatanya, dan juga memikirkan ancaman dari Ornado padanya, benar-benar membuat James tidak berhasil tidur dengan nyenyak, meskipun dia sudah memaksakan kedua matanya untuk terpejam.


Tujuh hari... semoga aku menemukan cara terbaik untuk menyatakan perasaanku padanya tanpa memberinya kesempatan untuk menolakku. Dan aku juga harus tahu alasan di balik menghilangnya dia waktu itu. Apakah memang dia mengalami hal buruk, atau dia memang ingin menghindar dariku.


James berkata dalam hati dan dengan cepat mengalihkan pandangan matanya dari Elenora, yang merasa ada seseorang yang mengawasinya, dan menoleh ke arah James.


Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Mana mungkin James menatap ke arahku dalam waktu lama sampai aku merasa diawasi?


Elenora berkata dalam hati sambil memulai kembali obrolannya dengan nyonya Rose, yang sedang bersemangat menceritakan bagaimana pengalaman hidupnya selama bekerja di dalam istana Gracetian.


“Wah, benar-benar mereka seperti langit dan bumi. Kalau bukan kamu yang mengatakannya, aku mungkin tidak akan percaya kalau mereka berdua benar-benar kakak adik seperti katamu barusan. Eh, James, sepertinya ke depannya kamu harus lebih hati-hati.”


“Memang kenapa?” James segera memotong perkataan Enzo.


“Aku merasa… kakak Elenora itu memiliki maksud tersembunyi. Jangan-jangan, dia ingin menjadi istrimu? Karena dari caranya menatapmu dan bagaimana dia bersikap genit kepadamu, sepertinya gadis itu menyukaimu.” James langsung mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Enzo.


“Nama gadis itu Serafina.” Enzo sedikit melotot mendengar kata-kata James.


“Yang benar saja? Bukannya Serafina artinya adalah malaikat? Cantik sih, tapi sepertinya nama itu tidak cocok dengannya, kecuali sekarang ada malaikat genit, he he he…. Apa kamu berniat menjadikannya nyonya Xanderson?” Enzo berkata sambil tersenyum dengan geli mengingat kata-katanya sendiri.


“Tenang saja. Dia bukan tipe gadis impianku.” James berkata dengan tanpa sadar matanya kembali terarah kepada Elenora.


“Lalu seperti apa gadis impian Kak James?” Alaya yang sedikit banyak mendengar pembicaraan antara Enzo dan James, meskipun mereka berdua berbicara dengan cukup pelan, langsung bertanya dan melihat ke arah mana mata James sedang tertuju.


Dari cerita yang aku dengar dari kak Alvero, kak James yang dijodohkan dengan Elenora menolak mentah-mentah rencana perjodohan itu. Tapi kalau melihat dari bagaimana cara kak James memandang ke arah Elenora, terlihat jelas sekali kalau kak James menyukai Elenora. Sebenarnya apa sih yang sedang ditunggu oleh dua orang ini? Sudah jelas-jelas saling menyukai, tapi tidak mau saling mengakui. Mau sampai kapan mereka seperti itu?


“Hist… kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal seperti itu Alaya?” James berkata sambil meraih gelas air berisi air mineral di depannya, meneguknya sedikit, untuk menenangkan hatinya, agar tindakannya tidak menunjukkan sikap gugup di depan Alaya dan Enzo, untuk menjaga gengsinya.


“Kalau tidak mau menjawabnya tidak apa-apa, karena aku tahu kok tipe gadis yang disukai oleh kak James, yang seperti Elenora kan?” Alaya berkata sambil terkikik geli, diikuti senyum geli dari Enzo, sedang James hanya bisa melotot mendengar ejekan dari Alaya.


Tapi James memilih diam, tidak mengiyakan atau menyangkal perkataan Alaya.


“Kalian sedari tadi asyik mengobrol tentang apa? Sampai-sampai tidak menyentuh makanan kalian sama sekali?” Laurel yang melihat ketiga orang itu, Enzo, James dan Alaya sibuk menngobrol sedang yang lain sudah mulai menikmati makan pagi mereka, membuat Laurel ikut merasa penasaran.


“Ah, tidak ada, kami hanya sedang membicarakan calon nyonya Xanderson milik James.” Enzo segera menjawab pertanyaan Laurel dengan senyum geli masih menghias bibirnya membuat Laurel maupun Cladia saling berpandangan, lalu tertawa renyah.


“Sebaikya kalian cepat makan, kita harus segera berangkat. Para pilot helikopter sudah menunggu kita.” Ornado langsung berkata sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, karena dia sudah menyelesaikan makan paginya.


“Oke Ad, kami akan menikmati makanan kami, jangan khawatir.” Enzo berkata sambil tersenyum kea rah Ornado yang sedang melirik ke arah Cladia.


“Kenapa denganmu amore mio? Apa yang sedang kamu lihat?” Ornado yang menyadari pandangan mata Cladia sedang memperhatikan sesuatu dengan intens langsung bertanya.


“Ah, tidak apa-apa Al. Hanya saja… aku merasa, topi yang sedang dipegang oleh Serafina itu… adalah topi yang tadi pagi aku titipkan kepada Alex untuk diserahkan kepada Elenora. Kenapa jadi ada di tangan Serafina?” James yang ikut mendengar perkataan Cladia kepada Ornado langsung menatap kea rah Serafina yang tampak sedang berbincang dengan Ernest, salah satu dari pengawal kembar Alvero yang ternyata cukup menarik perhatian Serafina karena ketampanan dan tubuh atletisnya.


“Maksudmu boater hat itu Cladia?” James langsung bertanya untuk meyakinkan pendengarannya barusan.


“Benar James, tadi pagi aku minta tolong kepada Alex untuk menyerahkannya kepada Elenora. Tapi mungkin dia keliru memberikannya kepada Serafina.” Baik James maupun Ornado sedikit mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Cladia.


“Alex bukan orang yang ceroboh, nanti biar aku tanyakan ke Elenora.”


“Jangan Al, aku tidak mau ribut. Biarkan saja, jangan-jangan memang Elenora yang memberikannya pada Serafina.” Cladia langsung mencegah Ornado dengan rencananya barusan.


Haist! Pasti Serafina yang memintanya kepada Elenora. Sejak kecil, apapun yang dipegang oleh Elenora selalu diinginkan oleh Serafina, meskipun kadang dia sudah memiliki benda lain yang Elenora juga tidak punya. Serafina ini, benar-benar dari kecil sampai dewasa tidak pernah berubah sedikitpun.


Ornado berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang. Jika saja tidak ingat permintaan Cladia, ingin sekali rasanya Ornado menegur Serafina secara langsung, tidak perduli jika itu harus dia lalukan di depan banyak orang.


Namun, seperti biasanya, Ornado tidak akan pernah bisa menolak permintaan dari istri tercintanya.


Sepertinya Serafina benar-benar harus diberi pelajaran agar tidak terus-menerus berlaku seenaknya terhadap Elenora. Sikapnya benar-benar tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang kakak yang baik bagi Elenora.


James berkata dalam hati sambil melirik ke arah Serafina dengan wajah tidak terimanya.