My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEMARAHAN DARIO



"Aku bukan orang yang dengan mudah melupakan kesalahan orang lain! Jadi sebaiknya kalian benar-benar memikirkan baik-baik, apa yang akan kalian lakukan ke depannya terhadap apa yang aku minta pada kalian." Dario berkata sambil memajukan tubuhnya, dan melotot tajam ke arah orangtua Cladia.


"Aku meminta Cladia baik-baik pada kalian! Tapi jangan kira aku akan diam saja ditolak mentah-mentah seperti ini! Aku akan menghancurkan siapa saja yang menghalangiku untuk mendapatkan Cladia! Siapapun!" Dario berkata sambil bangkit dari duduknya, membuat dengan cepat papa Jeremy ikut bangkit dari duduknya.


"Jaga sikapmu Dario! Alberto pasti akan sangat kecewa melihatmu bertindak seperti ini!" Mau tidak mau, akhirnya papa Jeremy balas membentak Dario, meskipun dia tahu, bahwa dengan kekuasaan dan kekayaannya, Dario bisa saja menghancurkan kehidupannya dan keluarganya.


Seorang Xanderson yang memiliki kekayaan dan kekuasaan, cukup disegani di Italia, dan meskipun Dario hanyalah seorang anak angkat dari Alberto, tapi hubungannya dengan Alberto memungkinkan dia untuk melakukan banyak hal yang tidak mungkin sanggup untuk dilakukan oleh orang lain.


"Hah! Jangan menyebutkan tentang papa atau bahkan almarhum mama! Kalian semua sama saja! Kalian semua tidak pernah menganggapku ada, tidak mau memberikan apa yang sudah seharusnya menjadi milikku! Kenapa semuanya selalu saja tentang Ornado? Untuk Ornado? Termasuk Cladia, yang seharusnya sejak awal, adalah jodoh yang ditetapkan untukku, bukan untuk Ornado!" Tanpa merasa bersalah setelah mendapatkan teguran dari papa Cladia, Dario justru berteriak balik dengan suara terdengar lebih keras, dengan wajahnya yang terlihat memerah karena emosi.


Bahkan teriakan Dario membuat paman Cladia yang ada di balik lemari buku itu hampir saja buku yang ada di tangannya terlempar dari tangannya karena kaget.


"Aku rela kembali pada nama belakangku Benigno, bukan Xanderson karena kelahiran Ornado! Aku rela bekerja keras dengan seluruh kemampuanku untuk mencapai impianku dan sukses. Tapi aku benar-benar tidak rela! Jika Cladia menjadi milik Ornado! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah merelakan hal itu Uncle!" Papa Cladia cukup tersentak kaget mendengar bagaimana Dario mengatakan hal seperti itu, sampai otot-otot di lehernya terlihat, menunjukkan kalau Dario begitu serius sekaligus emosi saat ini, karena tidak berhasil membujuk orangtua Cladia untuk membatalkan perjodohan Cladia dan Ornado.


"Aku akan memberikan kalian kesempatan sampai besok siang, jika kalian tidak memberikan kabar penolakan kalian terhadap perjodohan Cladia dan Ornado, jangan salahkan aku jika aku bersikap kasar pada kalian!" Dario berkata dengan mata melotot tajam, sebelum akhirnya menggerakkan tubuhnya ke samping untuk pergil melangkah meninggalkan ruang tamu keluarga Jeremy dan Cladia itu.


Mana bisa kami memberikan putri tercinta kami pada laki-laki yang mengerikan sepertimu Dario. Tapi bagaimanapun, aku harus mencoba untuk memberi pengertian pada Dario. Semoga dia bisa menghentikan obesinya yang mengerikan itu kepada Cladia harus dihentikan.


"Dario, maaf, tapi kami tidak bisa memberikan apa yang kamu minta. Sejak kecil, Cladia selalu bersama Ornado. Mereka berdua sudah begitu dekat sejak dulu, karena itu kami yakin, Ornado dan Cladia, mereka akan menjadi pasangan yang saling mencintai." Mama Cladia berusaha untuk menenangkan Dario, yang mengepalkan kedua tangannya dengan erat begitu mendengar perkataan dari mama Cladia itu.


Melihat sikap Dario yang terlihat jelas tidak mau mengerti meskipun dia berusaha menjelaskan dengan baik, mama Cladia hanya bisa menghela nafasnya, sebelum akhirnya kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Dario semakin terlihat marah.


"Maafkan kami karena tidak bisa memenuhi keinginanmu. Dan ada baiknya, kamu membawa pulang semua barang yang sudah kamu bawa tadi. Kami tidak bisa menerima pemberianmu kali ini." Kata-kata mama Cladia membuat Dario membalikkan tubuhnya dengan cepat, setelah itu dia meraih rangkaian bunga yang tadinya dia letakkan di atas meja, dan dengan gerakan cepat dilemparkannya ke arah tembok yang ada di belakangnya hingga hancur tidak berbentuk, sebelum terjatuh di lantai.


Setelah itu, Dario dengan membabi buta langsung menendang dan menginjak-injak barang-barang pemberiannya yang tadi dia bawa dan tersusun rapi di lantai, yang sebagian besar berisi pakaian dan perhiasan untuk Cladia.


Begitu puas menunjukkan kekesalan hatinya, tanpa mengatakan apapun, Dario segera pergi meninggalkan ruang tamu rumah itu, dimana mama Cladia tampak kaget sekaligus ketakutan dengan sikap Dario, sehingga memeluk erat lengan papa Cladia yang mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak terpancing emosi dan memukul Dario dengan sikap dan tindakan kurang ajarnya barusan.


Bagaimanapun, papa Cladia masih mencoba untuk berpikir bahwa Dario adalah anak angkat dari sahabatnya Alberto.


"Kita tidak bisa membiarkan dia bertindak seperti itu Pa. Kita harus memberitahukan hal itu kepada Alberto, bahwa anak angkatnya itu, sungguh keterlaluan dan juga sangat mengerikan. Tindakannya sudah seperti orang yang tidak mengerti tentang tata krama." Mama Cladia yang berada dalam pelukan suaminya, berkata dengan suara bergetar.


"Jangan... jika Alberto mengetahui hal ini, dan menegur Dario, bisa jadi dia akan semakin kalap dan bertindak nekat. Yang pasti, biarkan untuk sementara waktu Jeremy dan Cladia di rumah mama. Dan besok pagi-pagi sekali, kita harus segera membuat surat wasiat yang menyatakan keinginan kita untuk Cladia menikah hanya dengan Ornado, agar posisi surat wasiat dari mama Ornado semakin kuat." Dengan sebuah anggukan cepat, mama Cladia langsung menanggapi perkataan suaminya.