
Memangnya aku perduli dengan hal itu? Karena ini masih di jam istirahat, justru itu, maka aku harus memanggil Elenora secepatnya ke kantorku, dan tidak membiarkannya bersikap centil kepada Alex dan Dodi di kantin dengan alasan menghabiskan jam istirahat dan makan siang mereka di sana. Hah, gadis itu benar-benar membuatku repot. Memangnya siapa yang akan diprotes oleh keluarganya kalau dia menjalin hubungan dengan sembarang pria tanpa berpikir panjang? Pasti aku yang akan mereka cari untuk itu. Sungguh membuatku pusing!
James berkata dalam hati sambil menaikkan salah satu alisnya, dengan mata menatap ke arah Audrey yang tampak sedang menunggu jawaban dari James atas pertanyaannya barusan.
Tanpa sepengetahuan siapapun ingatan James kembali teringat dimana dia yang sengaja kembali menolak ajakan Ornado untuk makan siang bersama Cladia, justru datang berkunjung ke kantin lagi.
Dan seperti yang pernah dilihatnya terkahir kali dulu, di kantin James melihat lagi pemandangan yang membuat hati dan kepalanya menjadi terasa panas dingin.
Wah… Elenora ini, benar-benar…. Lagi-lagi menghabiskan waktu istirahatnya dengan Alex dan Dodi? Berarti info itu benar-benar akurat, bukan sekedar omong kosong atau mengada-ada.
James yang karena rasa penasarannya sengaja datang lagi ke kantin tadi, bahkan dengan sengaja menolak kembali ajakan Ornado untuk makan siang bersamanya.
Begitu sampai di kantin, tatapan mata James langsung berkeliling mencari sosok Elenora, dan membuktikan info yang sempat dia korek dari beberapa orang.
Dari beberapa info yang sudah berhasil dikumpulkannya, James mendengar bahwa setiap harinya, di jam istirahat, di waktu makan siangnya, Elenora selalu ada di kantin perusahaan bersama dengan Tina, Alex dan juga Dodi.
Empat orang itu selalu terlihat bersama selama hampir dua minggu ini, sejak Elenora bergabung di perusahaan Bumi Asia.
Dan tanpa menunggu lama, mata James langsung melihat di salah satu sudut ruangan kantin dimana di salah satu meja yang berisi empat buah kursi, dan masing-masing sudah ditempati oleh Elenora, Tina, Alex dan Dodi.
Begitu melihat pemandangan itu, James langsung menyipitkan matanya sambil mendengus kesal dan mulai mengomel dalam hati.
Apa dia tidak tahu sebagai orang yang dianggap calon suami oleh keluarganya membuat aku harus bertanggungjawab jika terjadi apa-apa padanya? Apa dia benar-benar mau menjadikanku pengasuhnya? Tindakannya benar-benar tidak menghormati sebagai calon suaminya.
James mengomel dalam hati, tanpa menyadari bahwa baru saja dia mengakui statusnya sebagai calon suami Elenora.
Sesuatu yang beberapa lama ini selalu berusaha dia sangkal dengan keras.
James justru berusaha mencari-cari alasan atas kemarahan dan kejengkelannya dengan menyalahkan Elenora, tanpa mau mengakui bahwa itu terjadi karena rasa cemburu yang sedang membakar hatinya saat ini.
Cih… bagaimana bisa dia duduk begitu dekat dengan senyum yang selalu dipamerkannya kepada pria asing seperti Dodi dan Alex? Sedangkan di depanku dia selalu menundukkan wajahnya dan jarang sekali tersenyum.
James yang masih berada di kantin, berpura-pura berdiri di depan meja tinggi dimana itu merupakan tempat untuk memesan makanan, terus mengomel dalam hati, begitu melihat Elenora yang sedang menjawab pertanyaan dari Alex sambil tersenyum.
Bagi orang yang melihat posisi duduk Elenora dan teman-temannya, akan mengatakan bahwa sebenarnya jarak duduk antara Elenora dengan Alex dan Dodi adalah jarak yang normal, bukan berdekatan.
Karena Elenora duduk bersebelahan dengan Tina, sedang Dodi dan Alex duduk tepat di hadapan Elenora, dipisahkan oleh sebuah meja untuk makan mereka, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa jarak Elenora dengan Dodi dan Alex terbilang terlalu dekat.
Belum lagi sebenarnya adalah sesuatu yang umum jika kita menjawab pertanyaan seseorang sambil tersenyum, tapi saat ini, senyum Elenora yang tampak dia tunjukkan di depan Alex, membuat James merasa dadanya terasa tidak nyaman, dan dia tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini.
“Permisi Pak James….” Pelayan yang sedari tadi menyodorkan minuman pesanan dari James untuk waktu yang cukup lama, tapi tidak ada tanggapan, akhirnya memanggil James dengan suara ragu-ragu, karena takut dianggap tidak sopan.
“Eh, ya, kenapa?” James langsung menoleh, dan menatap ke arah pelayan yang langsung tersenyum ke arahnya dengan sikap hormat.
“Minuman pesanan Bapak sudah siap untuk dibawa.” Pelayan itu berkata sambil tangan kanannya menyodorkan gelas berisi es kopi pesanan James.
“Ah, ya, terimakasih.” James berkata sambil meminum langsung es kopinya tanpa membawanya pergi, padahal tadinya dia memesan es kopi itu dengan pesanan khusus untuk take away.
(Biasanya saat memesan makanan di luar, kita akan mengenal dua istilah yang umum dikatakan oleh pelayan untuk ditanyakan kepada kita. Yaitu, mau dine in, atau take away. Take away artinya makanan beli bawa pulang atau makanan dibungkus merujuk kepada hidangan yang disajikan atau bahan makanan lain, yang dijual di restoran dan ditujukan untuk disantap oleh pembeli di tempat lain. Konsep tersebut ditemukan dalam banyak budaya kuno.
Makanan beli bawa pulang sekarang merupakan hal umum di seluruh dunia, dengan sejumlah masakan dan hidangan berbeda yang ditawarkan. Istilah tersebut disebut Take-out atau takeout di Amerika Utara (AS dan Kanada) dan Filipina, carry-out dan to-go dalam beberapa dialek di AS dan Skotlandia, take-away atau take away food di Britania Raya selain Skotlandia, Australia, Afrika Selatan dan Irlandia.
Dine in adalah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti makan di tempat. Istilah dine in digunakan oleh restoran, kafe, atau rumah makan untuk pengunjungnya yang tidak ingin membungkus pesanan makanan atau minuman).
Jika saja boleh jujur, James memesan es kopi itu awalnya hanya dia gunakan sebagai alasan agar dia bisa berada sedikit lebih lama di kantin itu sambil mengawasi Elenora.
Tapi pada akhirnya justru James sendiri yang merasa tidak nyaman, dan entah kenapa melihat apapun yang dilakukan Elenora bersama teman-temannya, selalu terlihat salah di tatapan mata seorang James, yang tidak sadar bahwa saat ini hatinya sedang terbakar oleh cemburu yang begitu besar.
Tidak sadar dan justru mencoba menyalahkan Elenora dengan menuduhnya menjadi seorang gadis yang sengaja menebar pesona pada lawan jenisnya.
Dan yang membuat James semakin marah, bagi James sosok Elenora boleh dibilang jarang, bahkan hampoir tidak pernah bersikap manis dan tersenyum dengan secantik itu di depannya.
Tapi saat ini, dengan mata kepalanya sendiri, James melihat bagaimana Elenora terlihat nyaman, tidak terlihat gugup dan salah tingkah saat bersama Dodi dan Alex, sungguh berbeda jauh saat Elenora berada tepat di hadapannya.
Mengingat itu, membuat James mendengus kesal, dan tanpa sadar meletakkan kembali gelas berisi es kopi pesanannya yang sudah habis tak berbekas, dengan sedikit membanting gelas kosongnya itu ke atas meja.