
Dan James yakin, tanda-tanda alergi itu bukan lagi sekedar turun sampai ke leher, mungkin bagian dada dan punggung Elenora saat ini sudah dipenuhi dengan bentol-bentol itu.
Hal yang dulu beberapa kali sempat James lihat ketika Elenora yang saat itu masih sangat muda, memaksakan dirinya untuk mencoba memakan masakan yang mengandung udang karena rasa penasarannya.
"Kamu ini!" Dengan cepat James berkata sambil menarik pergelangan tangan Elenora, dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.
Elenora hanya bisa mengatupkan bibirnya, dengan kaki yang dengen cepat bergerak mengikuti langkah-langkah lebar kaki James, yang membuat Elenora harus sedikit berlarian agar dapat mengimbangi langkah James.
Begitu sampai di mobil yang tadi dibawanya, dengan cepat James membuka pintu mobilnya, dan menepuk bahu Elenora agar gadis itu masuk ke dalam, di bagian kursi penumpang yang ada di samping kursi pengendara, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Tindakan diam dari James, membuat Elenora sedikit menelan ludahnya sebelum akhirnya dia menuruti kode dari James untuk masuk ke dalam mobil.
Begitu Elenora sudah berada dalam mobil, dengan berlari-lari kecil, James bergerak ke arah kursi pengemudi, duduk di sana, dan dalam diam langsung mengemudikan mobilnya, untuk meninggalkan tempat itu.
"Jam... James...."
"Kamu masih tahu bagaimana cara menyebutkan namaku ternyata...." Dengan nada dingin, James menjawab panggilan dari Elenora, karena rasanya masih sebal mendengar bagaimana Elenora pergi berasama Ernest untuk mencari obatnya.
Meskipun James sadar, dia sudah bersikap egois, mengharapkan Elenroa meminta bantuannya, tapi di sisi lain selalu menjaga jarak dan bersikap seenaknya terhadap gadis itu, tapi entah kenapa, menjadi orang yang bukan pertama kali dicari oleh Elenora saat gadis itu membutuhkan bantuan, membuat dada James terasa sedikit sesak, dan ada rasa tidak terima.
"James... kita mau kemana... sekarang?" Elenora bertanya dengan sikap ragu, karena dilihatnya James yang mengendarai mobilnya ke arah berlawanan dengan Mozaic Ubud.
"Ke rumah sakit." James menjawab cepat dengan wajah dinginnya, membuat Elenora terbeliak kaget.
"James, buat apa ke rumah sakit? Aku baik-baik saja. Aku sudah membeli obat dan.... Aduh...." Elenora mengakhiri kata-katanya dengan sebuah teriakan kecil, karena James yang tiba-tiba saja membelokkan mobilnyaa dengan kecepatan tinggi, dan langsung menghentikan mobilnya secara mendadak, dengan menginjak rem kuat-kuat, menimbulkan suara gesekan ban dan aspal yang memperdengarkan suara decitan yang cukup keras.
Dan tindakan James itu juga membuat tubuh Elenora yang tidak siap terdorong ke samping depan, sehingga kepalanya membentur kaca yang yang ada di sebelah kirinya.
Mendengar teriakan kecil dari Elenora, James langsung menoleh dengan tubuh tersentak, tapi begitu dilihatnya Elenora baik-baik saja, James langsung membuang mukanya kembali.
Kedua tangan James tetap dalam posisi standby di atas kemudi, seperti orang yang sedang mengemudikan kendaraannya, meskipun mobil yang dia kendarai dalam posisi berhenti total.
(Pada beberapa kasus tertentu, memakan makanan pemicu alergi sedikit saja dapat memicu reaksi parah yang disebut syok anafilaksis. Syok anafilaksis dapat muncul cepat dengan gejala yang langsung terasa parah memberatkan.
Syok anafilaksis dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Untuk itu, diperlukanlah obat alergi khusus berupa suntikan epinefrin. Syok anafilaksis sangat rentan terjadi pada orang-orang yang memiliki alergi kacang.
Saat mengalami reaksi anafilaksis, suntikan obat epinefrin dapat membantu meningkatkan kerja pernapasan, menaikan tekanan darah, menstabilkan denyut jantung, dan mengurangi pembengkakan saat alergi.
Obat alergi makanan ini hanya diresepkan oleh dokter ahli, tidak dijual bebas di pasaran. Penyimpanan suntikan dilakukan di tempat yang sejuk, jauh dari sinar matahari, dan jangan disimpan di kulkas. Ini karena paparan suhu berlebih dapat mengubah kandungan obat. Efek obat ini memang cepat, tetapi tidak bertahan lama untuk mengatasi gejala alergi makanan yang parah. Apabila seseorang langsung membaik setelah disuntikkan epinefrin, dia tetap harus dibawa ke dokter untuk diperiksa dan ditangani lebih lanjut).
Ternyata James masih ingat ketika aku kecil, jika alergiku kambuh, akan menyebabkan syok anafilaksis padaku, yang dapat membuatku pingsan dan juga sesak nafas.
Mendengar pertanyaan James, Elenora berakata dalam hati, sambil sedikit menarik nafas panjang.
"Tidak, aku...."
"Lalu? Apa maksudmu? Kamu mau mati karena syok anafilaksis?" James bertanya dengan nada tinggi, sambil menoleh ke arah Elenora dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Suara bentakan dari James membuat Elenora diam seribu bahasa, yang justru membuat James awalnya mendengus kesal, namun begitu melihat wajah Elenora menunduk lesu, membuat James merasa sedikit bersalah.
Lagi-lagi aku membentak Elenora. Hah... harusnya aku tidak melakukan itu pada orang yang sedang sakit. Tapi gadis ini, paling pintar membuatku merasa khawatir dan marah. Bagaimana bisa dia menganggap sepele alergi yang dulunya seringkali hampir membuatnya kehilangan nyawa itu.
James berkata dalam hati sambil menghela nafasnya, karena teringat pada kejadian saat mereka masih sama-sama remaja, Bahkan Elenora saat itu belum genap berusia tujuh belas tahun.
Di pesta ulang tahun salah satu keluarga Elenora, dimana James juga diundang, ada menu hidangan yang terbuat dari seafood, yang pastinya termasuk juga udang di dalamnya.
Waktu itu Serafina yang ikut datang ke pesta itu karena memang yang mengadakan pesta ulang tahun itu adalah sepupunya, sengaja memberikan kue yang di dalamnya menggunakan campuran udang sebagai isiannya.