My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BEGITU MENCINTAIMU (1)



Setelah Cladia tertidur, dengan gerakan yang sangat hati-hati Ornado bangun dari tempat tidur, dan berjalan ke arah jendela kaca berukuran besar, yang memperlihatkan keindahan pantai yang terlihat jelas dari jendela itu, karena letak bvlgari Resort Bali yang memang terletak di dekat pantai.


"Pulau Bali ini memang terlihat begitu indah. Rasanya senang sekali bisa membawa Cladia berlibur di tempat ini. Sayang sekali kondisi kehamilannya membuatnya harus melewatkan banyak hal yang menarik di pulau ini." Ornado berkata sambil matanya melirik ke arah tubuh istrinya yang sedang terlelap di atas tempat tidur, dengan wajah yang terlihat sedikit pucat, meskipun terlihat tenang.


Kamu benar-benar wanita luar biasa yang selalu menjadi inspirasi dan semangat bagiku dalam keadaan apapun. Sumber kekuatan dan pusat duniaku. Melihat kenyataan bahwa saat ini aku bisa memilikimu sebagai istri di sisiku, membuat duniaku terasa begitu sempurna. Amore mio, Ti voglio bene e ti adoro. (Aku sangat mencintaimu dan mengagumimu).


Ornado berkata dalam hati sambil tersenyum. Tidak bosan-bosannya laki-laki itu mengamati sosok cantik wanita yang begitu dicintainya itu.


Setelah puas mengamati sosok istrinya yang dilihatnya benar-benar menikmati tidurnya, Ornado menatap ke arah pemandangan pantai di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya.


Tidak lama kemudian, Ornado menggeser kaca besar itu dan mulai melangkah keluar, dan menyeret salah satu kursi yang ada di depan jendela kaca itu, sengaja diletakkan di sana agar tamu yang menginap di kamar itu bisa duduk-duduk dengan santai sambil menikmati keindahan pemandangan pantai di depannya, sekaligus merasakan hembusan angin pantai yang membawa bau khas air laut yang terasa menyegarkan dan menenangkan pikiran.


Cukup lama Cladia menikmati tidurnya, sampai akhirnya dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan terbangun.


Pertama kali saat membuka mata yang dilakukan oleh Cladia adalah mencari sosok Ornado dengan sikap sedikit gugup dan khawatir.


Setelah sekian lama hidup dalam trauma masa lalunya, yang menyebabkan dia tidak bisa bebas bergaul dengan orang lain, dan membuatnya tidak pernah pergi keluar dari kotanya, sampai sosok Ornado dengan segala kelembutan dan cintanya bisa membuatnya berangsur-angsur berani melawan traumanya, dan bisa menerima sosok Ornado sebagai suaminya.


Satu-satunya tempat asing yang jauh, dan pernah dikunjungi Cladia adalah Italia. Itupun sepanjang waktu, Ornado akan terus berada di sampingnya.


Setelah begitu lamanya Cladia tidak pernah pergi jauh meninggalkan kota kelahirannya, membuat Cladia selalu kaget ketika bangun dari tidurnya yang baginya terasa asing dan sedikit menakutkan.


Karena itu, setiap kali Cladia terbangun di tempat tidur baru, yang bukan miliknya, membuat Cladia selalu langsung mencari sosok Ornado, yang selalu bisa membuatnya merasa tenang dan telindungi.


Sama dengan kejadian sore ini, ketika membuka matanya, dengan cepat mata Cladia langsung memindai seluruh ruangan untuk mencari sosok suami yang sangat dicintainya itu, disertai dengan sikap tidak tenang dan berharap bsa segera menemukan sosok Ornado dalam pandangan matanya.


(Memindai berasal dari kata pindai yang memiliki arti mengamati, memperhatikan, menandai, dan mengamati dengan maksud melihat dengan cermat. Memindai adalah teknik membaca untuk mendapatkan informasi secara cepat).


Dan begitu mata indah Cladia melihat sosok suaminya yang sedang duduk berselonjor dengan sikap santai, kedua tangan terlipat di depan perutnya, dan mata memandang jauh ke depan, menikmati keindahan pantai yang terpajang di depannya, sebuah senyum manis yang menunjukkan kelegaan segera menyembul keluar bibir Cladia.


Rasanya begitu meliaht sosok Ornado yang selalu berada di dekatnya dan dengna setia selalu menemani dan menjaganya, membuat hati Cladia terasa begitu tenang.


Tidak perlu waktu lama untuk Cladia segera bangun dari tidurnya, sedikit merapikan pakaian dan rambutnya, dan berjalan menyusul ke arah Ornado.


“Apa setelah beristirahat sebentar, kamu sudah merasa lebih baik amore mio?” Ornado berkata sambil merentangkan kedua tangannya, dengan mata birunya menatap lembut ke arah Cladia yang tersenyum tipis melihat bagaimana laki-laki yang menjadi suaminya itu, sosoknya selalu berhasil membuat dadanya berdebar keras dan gugup dengan segala perhatian, kelembutan dan cinta yang selalu dia berikan padanya.


“Kemarilah amore mio.” Ornado berkata dengan kedua tangannya masih terbuka lebar, menunggu Cladia datang padanya.


Begitu Cladia sampai tepat di depannya, dengan gerakan pelan Ornado yang dalam posisi duduk langsung memeluk pinggang istrinya, dan langsung mencium perut Cladia dengan sebuah kecupan mesra.


"Apa kamu sudah sehat kembali Bee?" Ornado berbisik pelan dengan matanya menatap ke arah perut Cladia, seolah pandangan matanya bisa menembus rahim Cladia dan melihat keberadaan janin yang sedang dikandung istrinya, yang keberadaannya menjadi bukti cinta mereka berdua, meskipun awalnya Cladia belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Ornado menjadi laki-laki yang sudah berhasil menjadikannya wanita seutuhnya.


“Dia baik-baik saja, jangan khawatir.” Cladia berkata lirih sambil tersenyum, dengan kepalanya yang tertunduk memandang Ornado yang sibuk menciumi perutnya dan mengajak bicara bayi dalam perutnya.


“Tentu saja dia baik-baik saja, tapi mamanya juga harus baik-baik saja.” Tiba-tiba Ornado berkata sambil menarik lembut pinggang Cladia, dan dengan gerakan cepat membawa Cladia mendekat padanya, dan membuat Cladia duduk di pangkuannya.


“Amore mio….” Dan tanpa memberikan kesempatan untuk Cladia memprotes tindakannya, Ornado sudah sibuk menciumi ceruk leher Cladia, memberikan kecupan-kecupan kecil di leher jenjang milik istrinya tanpa meninggalkan bekas merah di sana, karena dia melakukannya dengan begitu lembut dan pelan.


Dan tidak perlu waktu lama, bibir Ornado sudah bergerak ke arah bibir Cladia, dengan tangannya yang satu meraih tengkuk Cladia untuk dapat memperdalam ciumannya.


Mendapatkan perlakuan lembut sekaligus mesra dari Ornado, Cladia hanya bisa pasrah membiarkan jantungnya berpacu dengan cepat, dengan nafas yang sesekali harus dia tarik dalam-dalam karena Ornado yang mencium bibirnya dalam waktu yang lama, membawa perlahan namun pasti, Cladia terlarut dan ikut menikmati kemesraan yang dibawa oleh Ornado.


Bagi Ornado, keberadaan Cladia sudah menjadi candu baginya, sedang bagi Cladia sendiri, keberadaan Ornado selalu saja berhasil membuat hatinya meledak-ledak, dipenuhi dengan rasa bahagia sekaligus cinta, karena merasa menjadi wanita yang begitu dipuja oleh Ornado.


Menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang membangkitkan rasa percaya diri Cladia sudah bisa menjadikan Cladia wanita sempurna bagi Ornado di tengah-tengah kondisi traumanya.


Membuat rasa cinta maupun ketergantungan Cladia terhadap sosok Ornado semakin besar, karena baginya, di dunia ini hanya Ornado yang merupakan laki-laki terbaik yang pernah dia tahu, yang berhasil meluluh lantakkan hatinya dengan sejuta pesona yang dimilikinya.