
“Tuan….” Dengan suara lirih Dante mengucapkan kata-katanya dengan wajah terlihat linglung karena begitu kaget dan tidak menyangka bahwa Dario akan melakukan hal seperti itu padanya.
“Bukankah sudah pernah aku katakan! Jangan biarkan seorang priapun mendekati Cladia dalam jarak kurang dari dua meter! Dan aturan itu berlaku untuk semua orang! Termasuk kamu! Jadi jangan berani-beraninya melanggar aturanku itu, atau aku menendang siapun keluar dari posisinya kerena melakukan itu!” Dario berkata sambil, menatap tajam ke arah Dante.
Setelah itu dengan sikap khawatir, Dario menatap ke arah Cladia, melihatnya mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, mencoba memastikan bahwa Cladia baik-baik saja.
Ah… aku harus bisa menahan diriku agar tidak menunjukkan bahwa aku takut dengan mereka berdua. Aku akan berusaha untuk tetap kuat sampai Al datang. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam. Dario tidak boleh memanfaatkan kelemahanku untuk menekan Al.
Cladia berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam.
Wanita cantik yang awalnya sempat mundur dengan wajah sedikit takut itu, berusaha dengan cepat menenangkan hatinya, dan kembali bersikap normal di depan Dario dan Dante
“Apa kamu baik-baik saja Cla?” Dario bertanya dengan mata terlihat memperhatikan Cladia dengan seksama, menunjukkan wajah khawatir.
“Tidak baik selama kamu tetap menahanku di sini. Aku tidak mau bernafas di ruangan yang sama dengan pembunuh kedua orangtuaku.” Cladia berkata dengan mata berusaha menatap ke arah Dario, tanpa menunjukkan rasa takutnya.
Perkataan Cladia, kembali membuat Dario menatap ke arah Cladia dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Cladia.
Sebuah tatapan yang menunjukkan kemarahan, tapi sekaligus juga penuh cinta. Kata-kata Cladia berhasil memancing emosi Dario, tapi di sisi lain, bagaimana dia begitu mencintai dan menginginkan Cladia membuat emosinya tertutup oleh rasa cintanya.
“Cla, semuanya aku lakukan karena aku begitu mencintaimu. Apa kamu tahu, aku rela melakukan apa saja untukmu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu ataupun menghalangi kebahagiaan dan kebersamaan kita, termasuk orangtuamu, atau siapapun. Aku bahkan sudah membalaskan dendammu terhadap Edi dan Edo. Sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu.” Mata Cladia langsung terbeliak mendengar perkataan Dario tentang dia sebagai dalang dari kematian Edo dan Edi, yang didengarnya dari Ornado.
Sebuah kematian yang terlihat jelas bahwa memang Edi dan Edo diracun, tapi karena begitu rapinya tindakan para anak buah Dario, hingga saat ini polisi belum berhasil menemukan bukti dan juga pelaku kejahatan tersebut.
“Mereka sudah mendapatkan hukuman mereka. Bagiku itu sudah cukup, dan aku jelas tidak menginginkan kematian mereka. Kenapa kamu tega sekali melalukan hal sekeji itu?” Cladia langsung menjawab kata-kata Dario.
“Cla… sungguh aku melakukan itu untuk menunjukkan bahwa aku begitu mencintaimu dan perduli padamu. Ingin yang terbaik bagimu, dan bagaimana agar kita bisa bersama….”
“Cla… tolong jangan menyebutkan nama Ornado dengan sikap semanis itu. Aku tidak akan membiarkan kamu dan dia kembali bersama lagi. Aku akan melakukan apapun agar kamu mau berada di sisiku dan menjadi milikku.” Dario berkata dengan nada memohonnya, membuat Dante merasa sangat terpukul.
Tu… tuan Dario… bagaimana bisa anda bersikap selemah itu di depan nyonya Cladia? Tuan adalah orang yang tidak sepantasnya memohon seperti itu. Tuan Dario yang aku kenal, tidak pernah menundukkan dirinya di depan siapapun!
Dante berkata dalam hati dengan wajah terlihat bingung, tidak terima, sekaligus frustasi, karena melihat bagaimana Dario bersedia membuang harga dirinya jika itu di depan Cladia.
“Apapun yang kamu katakan, perasaanku tidak akan pernah berubah, aku akan selalu menjadi milik Ornado.” Tanpa perduli dengan wajah Dario yang tampak terpukul mendengar setiap perkataan Cladia, wanita cantik itu tetap mengucapkan kata-katanya, berharap Dario menghentikan tindakannya, untuk menahannya di tempat ini jika dia terus mengatakan hal yang terdengar mengecewakan terhadap Dario.
“Cla… aku….” Sebuah ketukan di pintu yang terdengar kembali dengan cukup keras dari sebelumnya, membuat Dario mengalihkan pandangan matanya ke arah pintu tersebut.
Dante yang awalnya mengamati tindakan tuannya dan Cladia, langsung bergerak ke arah pintu begitu mendengar ketukan yang cukup keras itu.
Entah apa yang sedang dirasakan oleh Cladia, ketukan dari arah pintu itu cukup mengusik hatinya, mendorong hatinya sehingga merasa begitu penasaran, membuatnya menoleh dan ikut memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu pintu dibuka, tampak beberapa orang bertubuh kekar dan berwajah keras membawa sosok Ornado masuk ke dalam.
Dua orang diantara para pria kekar itu tampak menahan kedua lengan Ornado dari arah kiri dan kanan.
Mata Ornado yang langsung menangkap adanya sosok Cladia di dalam ruangan itu tampak sedikit menarik nafas lega, melihat bahwa wanita tercintanya itu terlihat baik-baik saja, tidak terluka.
Al… apa benar itu kamu Al? Cepat sekali kamu datang ke tempat ini Al? Terimakasih untuk kehadiranmu Al. Semoga kita berdua bisa secepatnya meninggalkan tempat mengerikan ini dengan selamat. Aku sungguh mencintaimu Al.
Cladia berbisik pelan dalam hati, dengan matanya menatap ke arah Ornado tanpa berkedip. Sebuah tatapan penuh harap sekaligus penuh cinta pada laki-laki yang selalu bersikap mesra padanya itu.
“Ah, akhirnya kamu datang juga Al? Apa perjalananmu ke tempat ini cukup menyenangkan?” Dario berkata sambil berjalan mendekat ke arah Ornado yang dari wajahnya terlihat dingin, tidak perduli dengan sapaan ramah Dario, yang bagi Ornado, sungguh terdengar dan terlihat begitu menjijikkan, penuh dengan kepura-puraan.