
“Hai, kalian sudah datang?” Leo yang baru saja datang bersama Evelyn, dengan membawa kantong plastik besar berisi kue dan makanan dari rumah besar, langsung menyapa Ornado dan Cladia.
“Baru saja, sini, biar aku bantu membawanya.” Ornado berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah tangan Evelyn yang membawa kantong plastic.
“Tidak perlu Kak. Hari ini kalian adalah tamu, dan kami tuan rumahnya.” Evelyn berkata sambil tertawa kecil, sengaja menolak penawaran Ornado, karena mereka juga sudah hampir sampai di kantor Dave, yang merupakan pintu masuk ke arah rumah kaca milik Dave dan Laurel.
Laurel dan Dave sengaja mengadakan acara makan siang mereka di rumah kaca, karena sejak masa kehamilan Laurel menginjak 9 bulan, Dave tidak ingin Laurel terlalu lelah karena harus pulang pergi dari ke rumah sakit ke rumah peninggalan orangtua Laurel yang dulu sempat dibeli oleh Dave untuk membayar hutang keluarga Laurel, dengan syarat Laurel mau menikah dengannya.
“Kamu ini ada-ada saja, masa kami berdua harus bersikap seperti tamu kepada kalian?” Ornado berkata sambil melihat ke arah lain, karena dilihatnya Dave dengan sedikit bergegas berjalan ke arah mereka.
“Kenapa denganmu Dave?” Ornado langsung bertanya kepada Dave yang terlihat sedikit terburu-buru.
“Ah, itu, aku harus ke IGD dulu sebentar, ada sedikit keributan di sana. Seseorang yang merasa sebagai orang penting ingin mendapatkan penanganan terlebih dahulu, padahal sakitnya bukan termasuk penyakit yang harusnya masuk ke IGD. Aku pergi sebentar. Laurel dan yang lain sudah menunggu di rumah kaca.” Tanpa menunggu jawaban dari Ornado, Dave yang mengenakan snelli dokternya langsung bergegas menuju IGD.
“Ayo, silahkan…” Leo yang sudah membukakan pintu kantor Dave, langsung mempersilahkan Ornado dan Cladia untuk masuk.
Begitu sampai di rumah kaca, di sana sudah berkumpul Jeremy dan Niela yang baru saja menikah, dan juga James bersama Elenora yang ternyata sudah datang lebih dahulu.
Freya yang merupakan adik tiri Laurel, juga datang bersama calon suaminya, sebuah formasi lengkap, tinggal menunggu kedatangan Alvero dan Deanda, juga kembalinya Dave dari ruang IGD.
“Cla, kemarilah, ada kue-kue basah kesukaanmu di sini!” Begitu melihat kehadiran Cladia, Laurel langsung berteriak dengan girang.
“Selamat ulang tahun Laurel.” Begitu berada di dekat Laurel, Cladia langsung memeluk tubuh Laurel, meskipun mereka terlihat kesulitan, karena pertu mereka yang sudah sama-sama membesar.
“Akh….” Suara pekikan kecil terdengar dari bibir Cladia yang tiba-tiba saja merasakan rasa nyeri di bagian bawah perutnya.
“Ada apa denganmu amore mio?” Ornado langsung memegang perut Cladia dengan wajah terlihat khawatir.
“Pe… perutku tiba-tiba terasa sakit Al.” Cladia berkata sambil meringis menahan sakit yang sebanarnya sudah dia rasakan sejak tadi pagi, yang kadang datang, kadang menghilang.
Tapi kali ini, rasa sakitnya terasa semakin sering, membuat Cladia sedikit membungkukkan tubuhnya, berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit di perutnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ornado langsung mengangkat tubuh Cladia, dan menggendongnya, berencana membawanya ke sofa yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Tapi baru dua langkah berjalan, Ornado merasakan di lengannya yang sedang menggendong Cladia, ada cairan yang terasa hangat membasahi lengannya.
“Astaga! Sepertinya ketuban Cladia sudah pecah Ad. Kalau begitu, kita segera saja bawa Cladia ke ruang bersalin.” Laurel ayng melihat ada cairan yang bening menetes ke lantai, tepat di bawah Cladia yang digendong Ornado, langsung meminta Ornado membawa Cladia ke ruang bersalin.
Jeremy dan Niela telihat mengikuti di belakang Ornado dengan sikap panik, begitu juga Evelyn dan Freya.
“Apa kamu perlu bantuan Ad?” Leo segera mendekat dan menawarkan bantuan.
“Tidak, aku bisa membawa Cladia sendiri.” Ornado berkata sambil tersenyum, tentau saja dia tidak akan pernah menginjinkan laki-laki manapun menyentuh istrinya, meskipun itu seorang dokter seperti Leo.
Karena itu, sedari awal Ornado selalu meminta kepada Dave dan Laurel agar dokter wanita yang selalu menangani Cladia.
“Eh, apa yang terjadi?” Dave yang baru saja membuka pintu, dengan Alvero dan Deanda yang berdiri di belakangnya, tampak kaget melihat Ornado yang sedang berjalan ke arah pintu, dengan Cladia di dalam gendongannya, terlihat meringis menahan sakit sambil memegang perutnya.
“Sepertinya Cladia sudah hampir melahirkan.” Laurel langsung menjawab pertanyaan suaminya dengan cepat, membuat Dave langsung menyingkir dari pintu karena menghalangi Ornado yang sedang menggendong Cladia.
“Maaf, aku harus pergi sekarang.” Ornado berkata kepada Alvero yang sedang memandanginya dengan sikap ikut khawatir.
“Semoga semua baik-baik saja Ad, semua berjalan lancar dan….”
“My Al….” Deanda yang memanggil namanya dengan suara terdengar merintih, memutus perkataan Alvero yang langsung menoleh kea rah Deanda yang tiba-tiba saja terlihat menggigit bibir bawahnya sambil tangannya meremas lengan Alvero dengan cukup kuat.
“Kenapa denganmu sweety?” Alvero langsung menahan tubuh Deanda yang terlihat goyah.
“Pe… perutku sakit sekali my Al.” Mendengar perkataan Deanda, Laurel langsung mendekat ke arah Deanda dan memegang perutnya yang terasa begitu keras, tanda-tanda mulai adanya kontraksi.
(Kontraksi adalah salah satu ciri-ciri ibu hamil mau melahirkan dimana kondisi perut ibu hamil mengencang dan keras. Dengan kata lain, kontraksi merupakan sensasi yang muncul apabila calon ibu siap untuk melahirkan. Hal ini menjadi salah satu tanda akan terjadi proses persalinan bagi ibu hamil, sebab tujuan utama kontraksi untuk mempersiapkan jalan lahir bagi bayi).