
"Aduh..." Pria yang awalnya mencengkeram dagu Elenora tiba-tiba terpekik pelan dan melepaskan pegangannya pada dagu Elenora dengan sikap kaget.
"Lihat, wajah gadis itu penuh dengan bentol-bentol merah." Laki-laki tadi langsung memberikan komentar dengan mata menyipit ke arah Elenora, mengamati wajah Elenora yang masih menunjukkan tanda-tanda alergi karena memang dia belum sempat meminum obat yang dibelinya di apotek tadi.
"Apa kamu salah memakai produk kecantikan? Padahal kulitmu sudah terasa mulus, kenapa harus memakai sesuatu yang justru merusak penampilanmu? Tetap cantik sih, tapi bentol-bentol itu sungguh mengganggu pemandangan." Laki-laki itu berkata sambil mencibir ke arah Elenora yang masih terdiam terpaku di tempatnya.
Tangan Elenora bergerak ke arah dagunya sendiri, yang tadi sempat dipegang oleh salah satu pria di depannya, dan mengusap-usapnya dengan kasar dan sikap frustasi sekaligus jijik, seolah tindakannya itu bisa membersihkan dagunya dari bekas sentuhan laki-laki asing itu.
Sentuhan itu bahkan hampir saja membuat Elenora meneteskan airmatanya karena merasa dadanya terasa panas karena emosi yang teraduk-aduk.
Rasa marah, jijik, malu, takut, saat ini bercampur menjadi satu dalam hati Elenora.
"Aist! Terserah apa katamu, mungkin gadis ini alergi udara dingin. Yang pasti aku tidak akan keberatan menjadi penghangat tubuhnya malam ini. Benar kan cantik? Bahkan tanpa perlu melihat wajahmu, tubuhmu yang indah pasti akan bisa memuaskan kami semua." Laki-laki yang lain berakta sambil berjalan mendekat ke arah Elenora, yang langsung berjalan mundur.
Namun, Elenora terpaksa menghentikan langkahnya, karena dia menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya, salah satu pemabuk yang langsung memegang kedua lengan Elenora, dengan wajah menyeringai, seolah-olah dia adalah pemilik Elenora, dan berhak atas Elenora untuk yang pertama kalinya.
Dan begitu pria itu merasakan tubuh Elenora yang menggigil karena ketakutan, senyum lebar dengan sikap penuh kemenangan justru terlihat dari wajah laki-laki itu.
"Nona cantik... jangan takut.... Aku akan memperlakukanmu dengan penuh kelembutan agar kamu bisa menikmati surga dunia bersamaku." Pria itu berkata sambil mendekat ke arah wajah Elenora, berencana mencium pipi Elenora.
Akan tetapi tiba-tiba sebuah telapak tangan menutupi wajah laki-laki itu, dan mendorong wajah itu ke belakang dengan tenaga yang cukup kuat, sehingga laki-laki itu jatuh terjengkang.
“Ah!” Dua teman wanita yang ada bersama gerombolan itu sedikit terpekik kaget melihat salah satu temannya jatuh terjengkang.
Namun begitu mereka melihat sosok Ernest yang tampan dan atletis datang dengan pakaian rapi dan terlihat berkelas, berjalan mendekat ke arah mereka, kedua wanita itu saling berbisik dengan mata menatap penuh kekaguman ke arah Ernest.
Beberapa waktu kemudian, mereka mengubah pandangan mereka menjadi pandangan mata menggoda, berharap Ernest sedikit melirik ke arah mereka. Sayangnya Ernest lebih memilih untuk membiarkan pandangan matanya mengitari sekelilingnya, menatap ke arah wajah-wajah para pemabuk yang tampak terganggu dengan kehadirannya.
Setelah itu dengan sikap tenang, Ernest berjalan ke depan sosok Elenora, memasang tubuhnya sebagai tameng, untuk melindungi Elenora.
Melihat temannya jatuh terjengkang, temannya yang lain berusaha menyerang Ernest, dengan sedikit berlari mengarahkan tinjunya kepada Ernest.
Akan tetapi, dengan cepat Ernest menahan tinju laki-laki itu dengan telapak tangannya yang terbuka ke arah lawannya, lalu dengan kuat diremasnya tangan laki-laki itu.
Dengan gerakan cepat, Ernest menggerakkan kaki kanannya dan menggunakan punggung telapak kakinya menendang perut pria itu, menimbulkan suara pukulan yang cukup keras, sekaligus meninggalkan rasa sakit yang cukup parah, sehingga pria itu jatuh terguling dengan memegang erat bagian perutnya, disertai wajah meringis karena menahan sakit.
"Please... be polite gentelemen." (Tolong bersikaplah sopan Tuan-tuan). Suara ramah dari Ernest langsung terdengar menegur laki-laki itu dalam bahasa Inggris, merasa yakin bahwa mereka yang ada di situ mengerti dengan arti kata-kata yang diucapkannya.
Apalagi Ernest bisa melihat bahwa para pemabuk itu bukanlah orang lokal jika dilihat dari penampilan, postur tubuhnya, dan juga dari logat bicara orang-orang itu, juga wajah mereka yang menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang berdarah Asia.
“Hei bung! Gadis itu kami duluan yang menemukannya, kamu tidak berhak mengambilnya dari kami! Cari saja gadis lain untuk bersenang-senang denganmu malam ini!” Salah satu orang berkata kepada Ernest sambil menepuk pundak Ernest yang langsung menyingkirkan tangan itu dari bahunya, dan membersihkan pakaiannya di bagian bahu yang baru disentuh oleh orang itu, membuat anggota dari gerombolan itu terlihat marah karena tersinggung dengan tindakan Ernest barusan.
“Jangan banyak bicara! Tidak perlu bersikap sopan padanya teman-teman! Serahkan gadis itu pada kami sekarang juga!” Salah satu dari pemabuk itu, salah satu orang yang sedang memegang botol minuman keras di tangannya, berteriak sambil maju ke depan, dengan mengangkat botol itu ke atas, berniat memukulkannya ke kepala Ernest.
Melihat itu, Elenora yang berada di belakang tubuh Ernest sedikit terpekik kaget dengan wajah terlihat khawatir.
Akan tetapi, begitu melihat bagaimana Ernest langsung melompat dan melakukan gerakan kaki memutar untuk menendang tangan yang memegang botol itu hingga botol itu terjatuh, dan orang itu membungkukkan tubuhnya sambil memegang tangannya yang kesakitan, Elenora langsung menarik nafas lega.
Sepertinya keahlian beladiri Ernest sebagai pengawal pribadi raja Alvero benar-benar tidak perlu diragukan lagi.
Elenora berkata dalam hati sambil mendesah, melihat bagaimana wajah para pemabuk itu tampak marah karena tindakan Ernest.
“Ayo! Kita segera habisi laki-laki sok jago itu!” Salah seorang pemabuk kembali mengucapkan kata-kata untuk memprovokasi teman-temannya yang lain agar segera menyerang Ernest dan melumpuhkannya.
(Memprovokasi sama artinya dengan menghasut, memancing, membangkitkan, menyababkan, merangsang. Meprovokasi merupakan suatu ajakan yang berujung pada keonaran, kerusuhan, saling memukul, mengajak seseorang untuk melakukan sebuah kejahatan. Pengertian lain, memprovokasi adalah menjadi provokator bagi orang lain. Provokator sendiri dapat diartikan sebagai perbuatan untuk membangkitkan kemarahan, mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan yang buruk dan dapat merugikan orang lain).
“Dasar pengganggu! Sok ikut campur urusan orang! Kita hajar dia sekarang agar tidak bisa bersikap sok lagi!” Salah satu dari mereka mulai mengucapkan kata-kata yang membuat telinga teman-temannya yang lain ikut memanas.
Meskipun lebih dari 7 orang dari mereka datang bersamaan ke arah Ernest dan mencoba untuk melumpuhkannya, dengan gerakan gesit, Ernest menyerang balik mereka dengan cepat, membuat mereka harus rela membiarkan tubuh mereka mendapatkan tendangan, pukulan, juga tinjuan dari Ernest yang tampak melakukan semua gerakan tangguh itu dengan sikap tenang dan terlihat sangat professional, menunjukkan sisi sempurnanya sebagai seorang laki-laki idaman.
Ernest yang sedang berkonsentrasi terhadap para lawannya, tidak menyadari ketika salah seorang yang tadi sudah sempat terjatuh akibat pukulan balasan dari Ernest, orang itu dengan gerakan yang sangat pelan, berusaha mendekati Elenora yang sedang fokus melihat bagaimana Ernest mengalahkan para laki-laki yang sedang mabuk itu.
Hal itu membuat Elenora juga tidak menyadari adanya bahaya yang sedang mengancamnya.
Begitu Elenora dalam jangkauannya, tangan laki-laki yang sudah mengincar sosok Elenora itu bergerak cepat menarik lengan Elenora dengan gerakan sedikit kasar, membuat Elenora terpekik kaget sekaligus takut begitu menyadari bahwa ada seorang laki-laki mabuk yang sedang mencengkeram erat lengannya dan berusaha menyeretnya menjauh dari tempat itu.
Ernest yang mendengar suara pekikan dari Elenora bermaksud menoleh dan melihat apa yang sedang terjadi, tapi para pria mabuk yang mencoba mengalahkannya dengan cara mengeroyok Ernest, membuat Ernest tidak memiliki kesempatan untuk menoleh ke arah Elenora.
Dan karena dalam kondisi mabuk, para pria itu tidak terlalu perduli dengan rasa sakit mereka akibat hajaran Ernest, sehingga mereka terus berusaha menyerang Ernest meski dengan tubuh sempoyongan.
“Jauhkan tanganmu darinya! Atau kamu akan menyesal dan kehilangan tangan kurangajarmu itu!” Sebuah suara yang bagi Elenora terdengar tidak asing dari arah belakangnya, tiba-tiba terdengar sedang berteriak kepada orang yang sedang mencengkeram lengan Elenora dengan erat, dan suara itu terdengar penuh dengan kemarahan.