My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RUJAK CINGUR UNTUK ORNADO



Melihat bagaimana canggungnya gerakan tubuh Ornado yang sedang memandangi makanan di depannya, mau tidak mau membuat Cladia mengulum senyumnya.


Cladia sedikit merasa bersalah membuat Ornado menjadi bahan pembicaraan dan juga tatapan mata banyak orang yang terlihat begitu antusias dan merasa penasaran dengan keberadaan mereka.


Namun apadaya, siang ini Cladia begitu sulit mengendalikan keinginannya untuk menikmati sepiring rujak cingur yang sedari pagi sudah memenuhi otaknya, seolah-olah hanya makanan itu yang terbayang di otaknya dan diinginkannya.


Bahkan, sempat membuat Cladia menelan ludah begitu terpikir olehnya, bagaimana nikmatnya rasa makanan khas yang dikenal berasal dari daerah Surabaya itu.


Untung saja sesuai permintaan Cladia aku tadi meminta Fred menyiapkan mobil mercedes benz yang paling sederhana, bukan Rolls Royce atau Buggati. Kalau tidak aku tidak tahu harus bersikap bagaimana jika tahu Cladia akan mengajakku makan siang di tempat seperti ini. Istriku ini ternyata memiliki bakat tersembunyi membuat kejutan yang benar-benar tidak bisa aku prediksi sebelumnya. Untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


Ornado berkata sambil menarik nafas panjang, dengan ujung jari tangannya menggaruk alisnya dengan sikap salah tingkah.


Tiba-tiba saja Ornado merasa sedikit bersyukur dengan sikap Cladia yang memang tidak suka pamer, seringkali menolak jika Ornado ingin mereka mengendarai mobil mewah untuk transportasi mereka sehari-hari.


Bagi Cladia, itu akan membuat kesenjangan sosial yang terlihat semakin mencolok dan membuatnya merasa tidak nyaman.


Walaupun sebenarnya semua mobil yang mereka miliki juga termasuk golongan mobil mewah.


Bagi Cladia, Mercedes Benz selalu menjadi pilihannya karena baginya, mobil itu adalah mobil paling tidak mencolok dibandingkan dengan mobil lain milik mereka, yang berjajajar rapi di parkiran rumah mewah mereka.


(Rolls Royce mungkin merupakan salah satu merek mobil mewah yang memiliki harga jual paling mahal. Salah satu contohnya yaitu mobil Sweeptail Rolls Royce yang konon berharga Rp 180 miliar.Di Indonesia sendiri banyak sosok pesohor yang memiliki sportcar mewah asal Inggris ini. Misalnya ada Hary Tanoesoedibjo yang memiliki mobil Rolls Royce Phantom dan Raffi Ahmad yang memiliki mobil Rolls Royce Ghost.


Sedang Bugatti hadir dengan berbagai produk hypercar yang harganya konon bisa mencapai miliaran rupiah. Terbaru, ada varian Bugatti La Voiture Noire yang diluncurkan pada tahun 2019 lalu dan kabarnya merupakan mobil termahal di dunia dengan banderol sekitar Rp 262 miliar).


“Al….” Panggilan lembut dari Cladia yang duduk tepat di hadapannya membuat Ornado yang sejak makan siang mereka terjadi di depannya sedikit mematung karena rasa kagetnya yang belum hilang, langsung menatap ke arah Cladia.


Cladia bisa melihat dengan jelas tatapan ragu dan menunjukkan rasa tidak nyaman pada Ornado. Semenjak pagi tadi, Cladia sudah membayangkan bagaimana nikmatnya rasa rujak cingur.


Dia yang berpikir bahwa seperti hari-hari sebelumnya, Ornado masih sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak akan makan siang bersamanya, sejak apgi sudah berencana mengajak Amalia untuk menemaninya makan rujak cingur, di kedai yang walaupun sederhana, olahan rujak cingurnya banyak dicari orang karena kenikmatannya.


“Kenapa denganmu Al? Apa kamu merasa keberatan aku mengajakmu ke tempat seperti ini?” Cladia berbisik dengan suara begitu pelan, melihat Ornado belum menyentuh sama sekali piring berisi makanan yang tadi dipesankan oleh Fred.


Bagaimanapun Cladia tidak ingin perkataannya di dengar orang lain dan membuat mereka tersinggung karena dianggap meremehkan tempat makan sederhana ini.


Mendengar pertanyaan dari istrinya, Ornado hanya bisa meringis.


Di satu sisi jika boleh jujur Ornado merasa sedikit jijik dengan makanan yang tersuguh di depannya, tapi di sisi lain, melihat bagaimana Cladia begitu menikmati makanan itu, seolah itu adalah makanan yang paling diinginkannya saat ini, membuat Ornado memaksakan dirinya untuk menyungingkan sebuah senyuman di bibirnya.


Dan senyuman itu tanpa sadar justru membuat orang-orang di sekitarnya yang sedari tadi mengamati mereka, terutama para wanita membeliakkan matanya, bahkan ada yang melongo, karena senyuman Ornado sukses membuat ketampanannya semakin terlihat sempurna.


“Wahh….”


“Laki-laki itu benar-benar tampan.”


“Mimpi apa aku semalam bisa bertemu pria setampan itu.”


“Senyumnya manis sekali…”


“Sayangnya sepertinya sudah ada pemiliknya.”


“Dan wanita yang duduk di depannya… cantik sekali seperti boneka.”


“Pasangan yang begitu serasi, membuat iri….”


Beberapa suara bisikan silih berganti terdengar memenuhi kedai sederhana itu, sejak Ornado dan Cladia duduk di dalam sana.


Tidak semua, tapi beberapa dari bisikan yang didengar oleh Ornado, membuat laki-laki tampan itu dengan sengaja beberapa kali memperlihatkan tangan kanannya, di mana di jari manisnya melingkar cincin pernikahannya.


Dan tanpa merasa segan atau canggung, Ornado beberapa kali menggenggam tangan Cladia tanpa perduli bagaimana orang-orang yang melihat itu mengomentari tindakannya melalui bisik-bisik diantara mereka.


Ornado justru sepertinya sengaja melakukan itu agar mereka yang sedang mengamatinya dan Cladia tahu bahwa dia dan Cladia merupakan pasangan suami istri, meegaskan bahwa wanita cantik yang sedang duduk di depannya adalah miliknya, dan tidak seorang priapun diijinkan untuk coba-coba mendekatinya.


“Bukan begitu amore mio... aku tidak pernah keberatan menemanimu makan dimana saja. Tapi, sebenarnya… aku belum pernah melihat apalagi memakan makanan seperti ini.” Ornado berkata sambil matanya menatap ke arah piring berisi makanan di depannya dengan tatapan aneh terhadap makanan tersebut.


“Maaf…. Aku mengajakmu makan di tempat seperti ini, dengan menu yang tidak kamu kenal.” Cladia menatap ke arah Ornado dengan tatapan mata merasa bersalah, sambil menatap ke arah piring yang diberi alas daun pisang, berisi rujak cingur yang ada di hadapannya dan Ornado.


(Rujak cingur adalah salah satu makanan tradisional yang mudah ditemukan di daerah Jawa Timur, terutama di daerah asalnya Surabaya. Dalam bahasa Jawa kata cingur berarti "mulut", hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong/bibir sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan. Rujak cingur adalah makanan khas Surabaya terbuat dari irisan moncong sapi dengan bumbu kacang dan petis. Bumbu kacang biasanya dihaluskan. Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, kerahi (krai, yaitu sejenis timun khas Jawa Timur), bengkuang, mangga muda, nanas, kedondong, kemudian ditambah lontong, tahu, tempe, bendoyo, cingur, serta sayuran seperti kecambah/taoge, kangkung, dan kacang panjang. Semua bahan tadi dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis udang, air matang untuk sedikit mengencerkan, gula/gula merah, cabai, kacang tanah yang digoreng, bawang goreng, garam, dan pisang biji hijau yang masih muda (pisang klutuk). Semua saus/bumbu dicampur dengan cara diulek, itu sebabnya rujak cingur juga sering disebut rujak ulek.


Dalam penyajiannya rujak cingur dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyajian 'biasa' dan 'matengan'. Penyajian 'biasa' atau umumnya, berupa semua bahan yang telah disebutkan di atas, sedangkan 'matengan' (matang, Jawa) hanya terdiri dari bahan-bahan matang saja; lontong, tahu goreng, tempe goreng, bendoyo (kerahi/ketimun yang digodok) dan sayur (kangkung, kacang panjang, taoge) yang telah direbus. Tanpa ada bahan 'mentah'nya yaitu buah-buahan, karena pada dasarnya ada orang yang tidak menyukai buah-buahan. Keduanya memakai saus atau bumbu yang sama. Rujak cingur biasa disajikan dengan tambahan kerupuk udang dan dengan alas pincuk (daun pisang) atau piring).


Sebelum dibawa oleh Alberto kembali di Italia, Ornado memang tinggal cukup lama di Indonesia bersama mamanya.


Namun karena kebiasaan sejak menikah dengan Alberto, mama Ornado lebih sering menyuguhkan masakan Eropa dalam keseharian mereka. Sehingga untuk beberapa makanan tradisional khas Indonesia, banyak yang belum diketahui apalagi dimakan oleh Ornado, termasuk rujak cingur yang sudah tersaji di hadapannya saat ini.


"Amore mio, apa nama makanan ini? Kenapa baunya terasa begitu menyengat? Belum lagi warna bumbunya yang berwarna hitam, membuatku tidak berselera makan." Ornado berbisik pelan, berusaha mendekatkan bibirnya ke arah Cladia yang tersenyum sambil melirik ke kiri dan ke kanan, sungguh berharap kata-kata Ornado barusan tidak didengar oleh orang lain yang ada di sekitar mereka.


Cladia menarik nafas lega begitu melihat sepertinya tidak ada yang mendengar protes Ornado, atau mereka yang mendengar perkataan Ornado, akan menatap Ornado dan dirinya dengan sinis karena dianggap sudah meremehkan makanan yang menjadi favorit banyak orang itu, termasuk dia yang sejak kecil begitu menyukai makanan itu.