
"Kita langsung ke rumah Nona Elenora." Carina langsung memberikan perintah kepada sopirnya begitu masuk ke dalam mobil.
Tangan Carina juga langsung meraih tangan Elenora dan membawanya untuk duduk tepat di sampingnya.
"Ah, kamu telihat kurus sekali. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan anak nakal itu padamu?" Carina yang sudah duduk berdampingan dengan Elenora di bagian kursi penumpang, dengan sopir yang sudah mengarahkan mobilnya menuju rumah Elenora, langsung bertanya kepada Elenora sambil mengelus pelan bahu Elenora.
Mata Carina sedikit terpaku melihat bagaimana tulang selangka gadis di depannya itu terlihat lebih menonjol daripada terakhir dia bertemu dengannya, membuktikan bahwa perkataannya benar bahwa Elenora semakin kurus.
Menyadari bahwa itu terjadi sedikit banyak pasti akrena keberadaan James, membuat Carina menghela nafasnya.
(Tulang selangka terletak di kanan dan kiri dada bagian atas, tepat di bawah leher. Bentuk tulang ini adalah memanjang dan posisinya melintang, menghubungkan tulang dada dengan lengan. Tulang ini membantu menghubungkan lengan ke tubuh bagian lainnya. Orang bisa merasakan eksistensi tulang ini dengan menyentuh area leher dan bahu. Salah satu fungsi penting tulang selangka adalah menopang lengan agar bisa bergerak secara leluasa).
"Si... siapa yang auntie maksud dengan anak nakal?" Dengan ragu Elenora bertanya pada Carina yang langsung sedikit mendengus kesal.
"Haist! Tentu saja si James! Anak keras kepala itu! Jangan mencoba untuk membelanya! Kalau anak nakal itu pulang, aku benar-benar akan menjewer dan mengomelinya. Berani-beraninya mempermainkan anak gadis orang." Carina berkata sambil kembali mendengus.
"Eh, Auntie, James tidak pernah..."
"Nah kan? Apa kubilang? Baru saja aku melarangmu untuk membelanya, tapi kamu sudah bersiap untuk mengucapkan kata-kata untuk membelanya. Benar-benar anak itu membuatku marah saja! Bisa-bisanya tidak bisa melihat ketulusanmu padanya. Orang lain saja bisa dengan jelas melihat bagaimana besarnya cintamu padanya, tapi dia tetap buta dan tidak bisa melihat semua itu dengan baik!" Carina mengomel panjang lebar karena meningat bagaimana sikap James pada Elenora, seperti yang diceritakan Ornado padanya.
"Tapi Auntie...."
"Akh, sudahlah! Sampai kapanpun mana pernah kamu tidak membela James. Sejak kecil, bahkan saat kamu terjatuh karena berlarian mengejarnya, kamu tetap menatakan bahwa itu bukan salahnya. Mainanmu rusak karena dia, kamu juga tetap membelanya dengan bilang memang mainan itu sudah lama. Yang penting sekarang beristirahatlah sambil menunggu kabar dari mamamu. Kesehatanmu jauh lebih penting untuk saat ini. Jangan sampai kamu ikut-ikutan sakit seperti mamamu." Carina berkata sambil sedikit menekan bahu Elenora agar menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di sandaran kursi mobil yang terus melaju.
Begitu sampai di halaman rumahnya yang tampak sepi, Elenora menarik nafas panjang sebelum akhirnya melangkah masuk didampingi oleh Carina.
Sesampainya di dalam rumah, Elenora langsung mengernyitkan dahinya melihat bahwa ruang tamu yang meyambung dengan ruang keluarga tampak di dipenuhi dengan hiasan yang berasal dari bunga-bunga segar.
"Auntie...." Elenora berbisik dengan wajah terlihat heran dengan apa yang terjadi.
"Yah... itulah yang membuatku merasa begitu sedih. Sejak kemarin, semua orang di tempat ini begitu sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun dari mamamu, tapi tiba-tiba saja dia terkena serangan jantung. Sayang sekali, persiapan ini akan menjadi sia-sia. Karena tidak mungkin kita berpesta sendiri sedang mamamu masih berada di rumah sakit tak sadarkan diri." Carina menarik nafas panjang sambil menarik tangan Elenora ke arah kamarnya, memaksa Elenora agar segera beristirahat di kamarnya.
Perkataan Carina membuat Elenora merasa tidak nyaman, merasa ikut sedih dan kasihan dengan apa yang dialami mamanya.
Hah... semoga mama cepat sembuh. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Semoga nanti sore aku diijinkan untuk menjenguknya.
Elenora berkata dalam hati sambil kembali memegang bagian samping kepalanya, karena merasakan rasa sakit yang tiba-tiba kembali menyerangnya.
"Makanlah roti itu, setelah itu beristirahatlah. Kalau nanti kamu merasa lebih baik dari jetlag mu, kita bisa melihat lagi kondisi mamamu." Carina berkata sambil menunjuk ke arah atas meja, sedang Elenora memilih untuk duduk di pinggiran tempat tidurnya untuk mencegah kepalanya yang pusing semakin menjadi.
”Terimakasih Auntie Carina."
"Ah, santai saja. Kalau begitu auntie pergi dulu. Masih banyak hal yang harus Auntie kerjakan hari ini. Selamat beristirahat, semoga kamu cepat enakan setelah beristirahat." Selesai berkata-kata, Carina langsung keluar dari kamar Elenora dan menutupnya kembali.
Rasa sakit di kepala Elenora, membuat Elenora segera mengikuti perkataan Carina untuk memakan roti, meminum jusnya, dan mengistirahatkan tubuhnya untuk beberapa waktu ke depan.
# # # # # # #
James melirik ke arah pergelangan tangannya, dimana jam tangannya menunjukkan jarum jam yang sudah menunjukkan waktu yang sudah cukup malam untuk berkunjung.
Tapi tanpa memperdulikan hal itu, begitu dia turun dari pesawat jet pribadi milik Ornado, dia segera berlarian keluar dari terminal kedatangan, agar bisa segera pergi untuk menemui Elenora.
(Suatu terminal bandar udara merupakan sebuah bangunan dibandar udara dimana penumpang berpindah antara transportasi darat dan fasilitas yang membolehkan mereka menaiki dan meninggalkan pesawat).
Tanpa menghubungi siapapun, termasuk keluarganya, James langsung memesan taksi online untuk pergi ke rumah orangtua Elenora, meskipun dia tahu sebagai salah satu orang yang berpengaruh di Italia, dia bisa langsung meminta bantuan Afro agar mengaturkan mobil untuknya.
Namun kedatangannya kali ini yang memang bertujuan untuk membawa Elenora kembali di sisinya, membuatnya malu jika rencananya itu didengar oleh keluarganya yang lain, terutama orangtua Elenora.
Apalagi jika mereka semua tahu bagaimana dia sudah memaksa Elenora untuk menandatangani akta nikah waktu itu.
Yang ada dalam pikiran James saat ini adalah bagaimana agar bisa segera menemukan Elenora, meminta maaf, menyatakan perasaannya, menjelaskan pada kedua orangtuanya dan orangtua Elenora tentang pernikahan mereka, dan juga membawa Elenora kembali bersamanya.
Dan begitu sampai di halaman rumah orangtua Elenora, dan keluar dari taksi yang ditumpanginya, James yang datang dengan koper yang masih dibawanya terlihat kaget karena sekarang hari sudah cukup larut, tapi rumah orangtua Elenora masih tampak terang benderang, dan ada suara musik yang terdengar sayup-sayup di telinga James.
Apa yang terjadi? Apa ada perayaaan pesta di tempat ini? Kalau memang untuk menghadiri pesta, kenapa Elenora pergi dengan cara seperti itu? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Apa Elenora berniat mengadakan acara pertunangan dengan Gavino? Apa dia sudah benar-benar membenciku?
James berkata dalam hati dengan wajah terlihat khawatir, jika saja pemikirannya benar-benar menjadi kenyataan.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Elenora adalah istriku yang sah. Tidak ada yang bisa memisahkan kami! Tidak ada! Siapapun tidak akan kuijinkan untuk mengambil istriku dari sisiku!
James kembali berkata dalam hati sambil melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang terlihat sedikit memerah, menahan emosi.