My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
MENYAMBUT KEDATANGAN ALVERO (2)



Sesekali hati James merasa kesal karena saat bersama orang lain, Elenora tampak bisa bersikap santai dan kadang tersenyum dengan manisnya, sedang jika berada di dekatnya, boleh dibilang Elenora jarang sekali memberikan senyum untuknya.


"Ayo kita menemui Alvero." Ornado berkata sambil mengelus lembut pundak Cladia yang sedang mendongakkan kepala dan menatap ke arahnya karena panggilan lembut Ornado padanya tadi.


"Ayo mo cuisle." Dave ikut mengeluarkan suaranya untuk mengajak Laurel bangkit dari duduknya.


"James! Ayo! Alvero sudah datang!" Begitu Cladia sudah berada di sampingnya, dan berada dalam rengkuhan lengan kokohnya, Ornado langsung memanggil James yang baru saja meminta pelayan untuk mengganti dekorasi bunga segar yang tampak sedikit maju sehingga menghalangi jalan.


"Iya, aku segera ke sana." James berkata sambil berlari-lari kecil menyusul mereka yang lain.


"Ehem...." James sedikit berdehem kecil  ebgitu emnyadari bahwa baik Orando dan Dave berjalan dengan pasangan mereka, sehingga mau tidak mau, dia akhirnya mengambil posisi berjalan di samping sosok Elenora.


"James, untuk persiapan kunjungan hari pertama kita besok apakah sudah siap semuanya?" Pertanyaan Ornado yang diucapkannya sambil berjalan, membuat James yang awalnya sedikit melamun sedikit tersentak, sehingga tanpa sengaja jari-jarinya menyentuh punggung tangan Elenora yang langsung reflek menarik tangannya dengan sikap gugup.


James sendiri tidak bisa memungkiri bahwa sentuhan jari-jarinya membuat detakan jantungnya berpacu dengan begitu keras tanpa bisa dia kendalikan.


"James?" Begitu menyadari bahwa James tidak menanggapi perkataannya, Ornado kembali memanggil nama James, kali ini dengan menolehkan kepalanya karena ingin tahui apa yang sedang dilakukan oleh James sehingga tidak menyahuti perkataannya.


Haist! Apa yang sedang dilakukan James pada Elenora? Kenapa Elenora tampak begitu canggung dan tidak nyaman, sedang James terlihat salah tingkah dengan wajah sedikit memerah? Dasar James! Begitu masih tetap tidak mau mengakui kalau dia sudah jatuh cinta pada Elenora.


Ornado berkata dalam hati dengan kening berkerut. Dan ketika Ornado melihat bahwa Laurel pun sedang melirik ke arah James, begitu Laurel mengalihkan pandangannya dan bersitatap dengan mata Ornado, laki-laki itu segera memberikan tanda pada Laurel melalui gerakan bola matanya untuk melakukan sesuatu pada James.


"James, apa jiwamu masih ada di tempatnya sekarang?" Pertanyaan dari Laurel membuat James kembali mengarahkan pandangan matanya ke depan, membuatnya bisa melihat senyum Laurel yang terlihat jelas sedang menggodanya, membuatnya mati kutu.


"Apa kamu tahu James, aku sudah pernah melihat dua pria yang cukup dekat denganku bersikap aneh sepertimu ketika mereka jatuh cinta." Laurel berkata sambil melirik ke arah Dave dan Ornado secara bergantian.


Ornado yang mendengar perkataan Laurel langsung melotot ke arah Laurel yang langsung mengedipkan sebelah matanya, dengan senyum manis di bibirnya.


"Kenapa Ad? Apa aku salah bicara? Bukankah kamu dan Dave pernah mengalami apa yang dilakukan oleh James?"


"Tidak!" Baik Dave maupun Ornado langsung menjawab pertanyaan Laurel dengan kompak.


"Aku tidak pernah berpura-pura di hadapan Cladia. Suka aku bilang suka. Cinta aku bilang cinta. Kamu juga begitu kan Dave terhadap Laurel? Aku bukan tipe pria yang tidak berani menunjukkan perasaanku. Benar kan amore mio?" Ornado berkata sambil memeluk erat tubuh Cladia.


Bahkan bukan hanya itu, tanpa ragu Ornado bahkan mengecup pipi Cladia dengan penuh perasaan, dan tidak membiarkan Cladia melepaskan diri darinya, membuat wajah Cladia memerah dengan sempurna.


James yang melihat tindakan mereka hanya bisa terdiam sambil melirik ke arah Elenora yang sengaja pura-pura tidak mendengar dan melihat apa yang baru saja terjadi di depannya.


Laurel baru saja akan menggoda James kembali ketika ada sebuah mobil berhenti, disusul oleh salah satu dari limusin yang diaturkan oleh Ornado untuk menjemput Alvero dan timnya juga lewat, tepat di depan mereka berenam.


“Mereka sudah datang. Ayo kita ke sana amore mio.” Ornado berkata pelan sambil mengelus lengan atas Cladia yang masih berada dalam rengkuhan lengannya.


Begitu salah satu dari limusin itu berhenti, beberapa orang berpakaian pengawal kerajaan Gracetian yang tadinya berada di mobil yang ada di depan limusin itu tampak keluar dengan gerakan cepat dan berlarian mendekat ke arah pintu limusin, sedang para pengawal dari Grup Xanderson berjajar rapi di samping kanan dan kiri jalan yang akan dilewati oleh Alvero untuk menuju tempat pesta penyambutan yang akan diadakan di tepi kolan renang sore itu.


Dan dua dari antara pengawal kerajaan itu segera membukakan pintu limusin, untuk kemudian menahan pintu itu tetap terbuka sambil membungkukkan tubuh mereka.


Dari pintu yang terbuka itu tampak seorang pria tampan, dengan mata hazelnya yang terlihat tegas dan berwibawa, keluar dari limusin, disusul dengan seorang wanita cantik berambut hitam legam sepanjang pinggangnya keluar dari limusin setelah menyambut uluran tangan suaminya yang membantunya keluar dari dalam limusin.


Di belakang mereka tampak dua orang pengawal yang baru saja keluar dari kendaraan yang lain, berjalan dengan langkah elegan dan langsung mengambil posisi di samping kanan dan kiri Alvero yang sedang menunggu Deanda keluar dari mobil.


Dua pengawal itu terlihat memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengawal lain. Ditunjukkan dari jas resmi yang dikenakan mereka, tidak seperti pengawal yang lainnya, membuat kedua pengawal tampan berwajah seperti pinang dibelah dua itu terlihat begitu mengagumkan.


Erich dan Ernest, dua pria kembar yang merupakan pengawal pribadi Alvero yang sengaja dipaksa Alvero untuk ikut dengannya itu terlihat berdiri tegap dengan sikap siaga di dekat majikannya.


Begitu Alvero dan Deanda turun dari limusin yang membawa mereka, dua orang gadis kecil langsung mendekat dan mengalungkan rankaian bunga segera ke leher mereka berdua, membuat Deanda tersenyum senang.


“Terimakasih anak-anak.” Deanda berkata sambil mengelus kedua kepala anak kecil itu dengan lembut.


Setelah itu Deanda kembali menegakkan tubuhnya dan membenarkan letak topi floopy hat berwarna krem dengan hiasan pita berwarna senada dibagian tengah topi yang dikenakannya.


(Floopy hats menjadi jenis topi yang tentu saja sudah tidak asing di kalangan wanita. Topi ini mempunyai ciri bertepi lebar yang saat digunakan membuat penampilan kalian layaknya model papan atas. Biasanya, jenis topi ini digunakan saat musim panas saat pergi ke pantai. Selain itu, ketika cuaca dingin pun juga cocok menggunakan jenis topi ini. Floppy hats ini sangat cocok dipadukan dengan flower dress, celana jeans, atau pakaian kasual lainnya.


Topi ini disebut juga topi matahari. Topi matahari adalah penutup kepala yang dirancang khusus untuk menaungi wajah dan bahu dari matahari. Topi matahari menggabungkan berbagai bahan dan jenis, termasuk topi matahari Jerami, topi matahari serat ditekan, dan helm empulur).


Deanda yang mengenakan gaun sepanjang lututnya, tampak terlihat cantik sekaligus anggun, elegan dan begitu pantas menyandang status sebagai seorang wanita dari kalangan bangsawan.