
Dan beberapa kali, meskipun dengan gerakan pelan, Dario memukul-mukul jendela mobilnya dengan tangannya yang sedang terkepal, dengan wajah terlihat begitu frustasi.
Rasanya saat ini Dario ingin sekali memukul keras-keras jendela kaca mobilnya, dan jika mungkin membuatnya hancur, tidak perduli apakah pecahan kaca itu nantinya akan bisa melukai tangannya.
Saat ini yang benar-benar ingin dilakukan oleh Dario adalah melampiaskan kekesalan hatinya, melihat wanita yang sejak kecil begitu didambakannya menjadi milik orang lain.
Dan orang itu adalah orang yang dianggap sudah merebut segalanya yang dia miliki.
Celakanya, sosok Cladia yang terlihat semakin cantik sejak belasan tahun Dario tidak pernah bertemu langsung dengannya, membuat perasaan ingin memiliki Cladia dalam diri Dario semakin menggila dan menekan pikiran warasnya.
Dante, sopir sekaligus asisten pribadi Dario, yang juga seringkali menangani kebutuhan pribadi Dario hanya bisa melirik ke arah kaca spion tanpa berani mengeluarkan suara apapun, apalagi memberikan pendapatnya.
Yang Dante tahu, majikannya yang sebenarnya bisa mendapatkan wanita tipe apapun dengan ketampanan dan kekayaannya, memang begitu tergila-gila dengan sosok istri Ornado itu.
Di depan foto Cladia yang tidak pernah absen dikunjunginya setiap hari īitu, bahkan Dario tanpa perduli bisa menangis, tertawa, bersedih ataupun bahagia, seolah foto itu bukan sekedar foto, tapi merupakan sosok asli Cladia.
Bahkan seperti orang gila, seringkali Dario mengajak foto Cladia mengobrol tanpa henti, meski hanya dia sendiri yang terus menerus mengeluarkan kata-kata tanpa ada sahutan atau tanggapan, karena memang yang diajaknya bicara hanyalah sebuah foto.
“Tuan….” Melihat pada akhirnya semua mobil sudah berjalan meninggalkan tempat parkir mall itu, akhirnya Dante memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.
“Apa kita ikut pergi juga sekarang? Atau Tuan masih ingin berada di sini?” Pertanyaan Dante membuat Dario menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku akan ikut makan malam bersama mereka semua. Jarang sekali aku memiliki kesempatan untuk melihat sosok calon istriku itu dari dekat. Tentu saja aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan berharga seperti ini.” Dario berkata sambil menjauhkan tangannya dari dekat jendela.
Lalu dengan gerakan sedikit kasar, Dario menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi penumpang, sambil menengadahkan kepalanya ke atas, memandangi bagian atas mobil yang ditumpanginya, membayangkan lukisan wajah cantik Cladia terukir di sana dan tersenyum manis padanya.
Cladia… aku benar-benar akan gila jika tidak bisa memilikimu. Aku akan lakukan apapun, untuk membawamu berada di sisiku selamanya. Aku akan pastikan tidak ada seorangpun yang akan bisa menghalangiku. Dan jika ada, dengan senang hati aku akan menghancurkan mereka semua, bahkan jika itu termasuk Jeremy, apalagi Ornado…. Dengan senang hati aku akan membuatnya merangkak di bawah kakiku dan memohon ampun padaku atas semua yang dilakukannya padaku.
Dario berkata dalam hati, sambil memejamkan matanya, dengan salah satu lengannya menutupi kedua matanya yang sedang terpejam erat.
Ornado! Aku bukan Dario yang dulu. Dario yang hanya bisa menatapmu dengan cara menyedihkan karena tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan yang bisa membuatku mendongakkan kepala di hadapanmu. Cih! Mulai sekarang aku akan membalikkan keadaan, dan merebut semua yang menjadi milikmu. Terutama Cladia Sanjaya.
Bersamaan dengan Dario berkata dalam hatinya, terdengar suara nada panggilan telepon dari arah handphone yang tergeletak di sampingnya.
“Hallo, senang mendengar suaramu hari ini Constanzo. Berita baik apa yang bisa kamu laporkan padaku hari ini?” Dario berkata sambil membuka matanya, meskipun dia tetap dalam posisi bersandar dengan kepalanya menengadah, melihat ke atas.
Untuk beberapa saat kemudian, Dario terdiam sambil mendengarkan orang yang dipanggilnya Constanzo itu mengatakan hal lain padanya.
Sesekali terlihat Dario tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan oleh Constanzo cukup membuatnya merasa puas dan senang.
“O, begitukah? Kalau begitu terus hubungi mereka satu-persatu, agar kita mendapatkan kekuatan penuh untuk menghancurkan Ornado secepatnya.” Dario berkata dengan tangan kirinya yang tidak memegang handphone terliaht meninju-ninju kecil kursi di sampingnya.
“Kali ini aku akan menyerang Ornado dari segala arah, agar dia tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan dirinya ataupun meminta bantuan kepada siapapun.” Dario kembali menjawab perkataan orang yang di seberang sana.
Dante yang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dario tersenyum tipis sambil melirik ke arah spion, ikut merasa senang karena melihat Dario yang sepertinya puas dengan pembicaraan yang sedang dilakukannya bersama Constanzo.
Constanzo, merupakan salah satu orang yang juga menjadi orang kepercayaan Dario, yang dia tempatkan di Italia.
Constanzo merupakan orang yang menjadi informan dan banyak membantu Dario dalam mencari informasi detail tentang siapa sebenarnya Ornado, seberapa kuat pengaruhnya sebagai seorang pengusaha berbakat, sedekat apa hubungannya dengan para petinggi di pemerintahan, juga apakah dia memiliki hubungan dengan dunia mafia, dan seberapa besar pengaruhnya di sana.
Dario mencoba menggali info sebanyak mungkin tentang Ornado, termasuk dengan siapa saja dia menjalin hubungan, siapa teman-teman dekatnya, dan bagaimana dia bisa mencari kesempatan untuk melawan Ornado melalui hubungannya dengan teman-temannya.
Karena jika ingin menghancurkan lawan, Dario tahu dia harus mengetahui kelemahan lawan, tapi di sisi lain juga harus mengetahui kekuatan lawan agar tidak membuatnya bertindak sembrono, yang hanya akan berakhir dengan kegagalan.
“Terus awasi pergerakan bisnis Ornado di Italia, juga segera aturkan agar kita bisa memanfaatkan tuan Shaw untuk menyerang orang-orang terdekat Ornado. Tuan Shaw akan menjadi pion terbaik selain gerombolan para mafia itu.” Dario berkata dengan wajah terlihat begitu puas dengan laporan Constanzo hari ini.
Akhirnya, tujuanku semakin terlihat jelas dan terasa begitu dekat. Mmmmm, benar-benar tidak sabar menunggu waktu itu tiba.
Dario berkata dalam hati sambil membayangkan bagaimana sosok Cladia yang akan menjadi miliknya, jika Ornado berhasil dilumpuhkannya dengan telak.
Jika dengan cara halus tidak berhasil, terpaksa aku akan menyeretmu dengan semua kekuatan yang aku miliki. Cladia, tunggu saja sampai waktunya tiba, aku akan menghapuskan semua ingatanmu tentang Ornado, dan juga menghapuskannya dari kehidupanmu.
Dario kembali berkata dalam hati dengan wajah puas.
“Oke Constanzo, kerjamu benar-benar bagus kali ini. Jika dalam waktu dekat kamu berhasil membujuk mereka semua untuk menyeberang kepada kita, aku akan membuat bonusnya naik menjadi 5 kali lipat dari yang sudah pernah aku janjikan.” Perkataan Dario membuat orang yang sedang melakukan panggilan itu meringis dengan senyum terlihat menyeringai.
“Apapun untukmu Tuan. Karena bekerja denganmu selalu membuatku mendapatkan apa yang sudah Anda janjikan, bahkan lebih besar dari yang sudah disepakati di awal.” Constanzo membalas perkataan Dario dengan senyum menyeringainya masih terlihat jelas di bibirnya.
“Baiklah, sampai di sini dulu pembicaraan kita, karena aku harus menghadiri acara penting malam ini.” Dario berkata sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, setelah itu matanya mencoba memandang mobil-mobil yang ada di depannya, yang merupakan kendaraan yang ditumpangi oleh keluarga Alvero dan yang lain juga.