
"Uhuk... uhuk..." Karena tersedak apel yang secara fisik cukup padat, membuat Erich terbatuk-batuk sambil memegang lehernya, berharap bisa mengeluarkan apel yang tersangkut di tenggorokannya.
"Eh... kamu baik-baik saja Erich?" Ernest langsung menepuk-nepuk punggung Erich begitu melihat saudara kembar siamnya itu tersedak apel yang dimakannya.
"Minumlah..." Begitu Erich sudah terlihat tenang, Ernest menyodorkan botol berisi air mineral kepada Erich yang langsung menraih dan mengeuknya, karena tenggorokannya yang terasa perih akibat apel yang tersangkut di tenggorakannya tadi.
"Kamu ini, jangan menggoda Erich. Kamu tahu kalau orang yang dingin sepertinya, belum tentu tahu seluk beluk tentang bagaimana agar cepat mendapatkan anak. Bahkan aku tidak yakin dia sudah memberikan ciuman pertamanya pada calon istrinya itu." Nyonya Rose menegur Ernest sambil menepuk lengan Ernest, membuat Ernest tersenyum geli karena kata-kata nyonya Rose justru membuat mata Erich melotot dengan wajahnya yang merah padam, tanpa berani mengatakan iya atau menyangkalnya.
Sebuah ekspresi dari Erich yang boleh dibilang selalu berwajah datar dan hampir tidak pernah menunjukkan emosinya, apalagi jika itu urusannya dengan masalah percintaan.
Sedang Elenora memilih untuk diam, menjadi pendengar terbaik karena jika Erich tidak mengerti masalah seperti itu, apalagi dia yang belum penah menjalin hubungan asmara dengan siapapun.
Darimana... nyonya Rose tahu bahwa aku bahkan belum pernah mencium Cleosa? Dan tidak mengerti apapun tentang hubungan suami istri setelah menikah? Haist...
Erich berkata dalam hati sambil mengalihkan wajahnya yang benar-benar terlihat merah karena malu sekaligus salah tingkah.
"Tenang, jika kamu kesulitan melakukannya, kamu bisa berkonsultasi padaku. Bahkan yang mulia pun pernah meminta nasehatku untuk masalah itu. Dan kamu lihat hasilnya kan. Sebentar lagi aku akan menimang putra mahkota berikutnya." Nyonya Rose berkata dengan nada bangga, membuat Ernest tertawa tergelak, karena ingat bagaimana nyonya Rose memang pernah sengaja membuat permaisuri Gracetian mabuk untuk mencairkan hubungan antara Alvero dan Deanda setelah menikah.
"Wah... nyonya Rose memang hebat, meskipun tidak menikah sepertinya Nyonya Rose sungguh mengerti banyak tentang hal itu. Erich, kamu memang harus banyak belajar dari nyonya Rose. Kamu tahu yang mulia yang biasa bersikap dingin pada wanita pun mencari ilmu tentang itu dari nyonya Rose." Ernest berkata dengan tawa masih terdengar dari bibirnya.
"Daripada sibuk mengajariku apa yuang harus aku lakukan terhadap pernikahanku, lebih baik kamu segera mencari gadis yang siap kamu nikahi agar tidak menjadi lajang abadi di masa depan." Setelah diam cukup lama, akhirnya Erich mengeluarkan kata-kata yang berhasil membuat Ernest langsung menghentikan tawanya dengan wajah salah tingkah.
Kali ini nyonya Rose ikut menahan senyum gelinya, mendengar kata-kata Erich kepada Ernest yang sudah seperti skakmat pada permainan catur.
Diantara para pengawal kerajaan, Ernest dan Erich yang merupakan pengawal pribadi Alvero memang dikenal sebagai dua laki-laki tampan dengan masa depan cerah karena besarnya gaji dan semua fasilitas mewah yang mereka dapatkan sebagai pengawal pribadi raja Gracetian.
Juga status knight kedua pria tampan itu merupakan status yang dianggap membanggakan bagi rakyat Gracetian.
Meskipun pada abad pertengahan status knight dianggap sebagai kelas bangsawan rendah, di masa sekarang itu menjadi gelar bangsawan yang cukup membanggakan karena knight adalah gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh pemimpin monarki atau pemimpin politik lain kepada mereka yang telah berjasa terhadap monarki atau negara, biasanya dalam bidang ketentaraan.
Gelar yang memberikan kesempatan bagi rakyak biasa untuk menjadi seorang bangsawan bukan karena terikat sebuah pernikahan dengan bangsawan lain. Suatu gelar bangsawan yang bisa didapat dari hasil kerja keras seseorang yang biasanya tergabung dalam tim militer atau ketentaraan kerajaan.
Ernest sejak dulu dikenal ramah dan begitu mudah bergaul, disukai oleh banyak orang karena sifatnya yang selalu perhatian dan ringan tangan terhadap orang lain.
“Ist… lebih baik kita hentikan pembicaraan tentang jodohku yang mungkin memang belum dilahirkan di dunia ini.” Akhirnya Ernest berkata sambil tertawa kecil, tidak ingin pembicaraan tentang jodoh itu membuat Elenora yang belum terlalu mengenal mereka menjadi tidak nyaman, karena tidak bisa ikut bergabung dalam pembicaraan mereka antara Ernest, Erich dan nyonya Rose.
“Aih, kalian para orang muda, memang di usia kalian ini sudah sepatutnya menikmati masa muda kalian dengan orang yang kalian cintai. Semoga jodohmu segera lahir di dunia ini Ernest.” Nyonya Rose berkata sambil tertawa dan menepuk lengan Ernest.
“Terimakasih untuk doanya nyonya Rose.” Dengan santai dan senyum di wajahnya, Ernest langsung menanggapi candaan dari nyonya Rose padanya.
“Ah, sudahlah, Nona Elenora, sebaiknya kita tinggalkan kedua laki-laki ini. Kita nikmati waktu kita sambil mendengarkan musik dari dekat.” Nyonya Rose berkata sambil berjalan ke arah dimana grup band yang diundang ke tempat itu sedang menyanyikan lagu-lagu romantis yang cukup memanjakan telinga pendengarnya dengan alunan musik dan suara merdu mereka.
“Elenora….” Sebuah panggilan dari Alex, membuat Elenora menoleh ke arahnya, dan berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak terlihat emosional di depan Alex, karena kehadiran Alex membuatnya kembali teringat tentang pembicaraan orang-orang dalam tim keamanan yang sempat dia dengar tadi.
“Eh, ya, kenapa Alex?” Elenora langsung bertanya sambil mengernyitkan dahinya, karena dilihatnya wajah Alex yang terlihat sangat serius.
"Ada berita buruk, sepertinya ada hacker lain yang berusaha memasuki sistem keamanan kita di kantor pusat Bumi Asia. Aku harus bertemu pak Ornado dan pak James sekarang juga. Aku harus menyusul mereka, tapi bisakah kamu membantuku mengawasi pergerakan hacker itu? Aku sudah berusaha melakukan blokir, tapi kita harus tetap mengawasi pergerakannya, dan juga...." Alex menghentikan kata-katanya sambil menggaruk tengkuknya.
"Kenapa Lex?"
"Anu... kalau kamu tidak keberatan, bisakah membantuku seperti kemarin menemukan lokasi tepatnya dimana hacker itu berada? Agar aku bisa segera mengerahkan anak buahku untuk menangkapnya?"
"Ooo, iya, tentu saja bisa. Aku akan membantumu menemukan lokasi orang itu...."
"Dan satu lagi Elenora...." Alex berkata dengan sikap ragu, membuat Elenora memandangnya dengan sikap heran.
"Kalau ada waktu... tolong ajari aku teknik pemblokiran dan cara menemukan lokasi seseorang dengan caramu...." Dengan sikap sedikit tidak percaya diri, Alex meminta kepada Elenora untuk mengarinya.
Alex sadar bahwa di Grup Xanderson yang berpusat di Italia, dia mungkin bukan yang terbaik dalam bidang IT. Akan tetapi di perusahaan Bumi Asia, selama ini, dialah yang paling menguasai bidang IT diantara yang lain.
Sehingga untuk mengakui bahwa Elenora memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi darinya, bukanlah hal yang menyenangkan yang harus dia hadapi, tapi dia tidak mau menjadi orang dengan hati kerdil yang tidak mau mengakui kelebihan orang lain dan belajar dari orang yang lebih hebat darinya itu, meskipun itu adalah seorang wanita.