
"Kenapa dengan penthouse ini Laurel?" Niela yang melihat wajah Laurel yang tiba-tiba berubah langsung bertanya dengan sikap terlihat penasaran.
"Ehmmmm, penthouse ini sepertinya.... Ah, tidak… lupakan saja perkataanku, mungkin aku yang salah." Laurel berkata dengan sikap ragu-ragu.
"Kenapa ya? Apa ada yang aneh dengan penthouse ini? Aku lihat penthouse ini sungguh indah dan mewah, tidak ada yang aneh." Niela bertanya sambil mengamati sekelilingnya, membuat James mengikuti apa yang dilakukan oleh Niela.
"Benar, penthouse ini sepertinya baik-baik saja. Tidak terlihat angker, suram atau aneh. Apa sejak hamil kamu jadi memiliki indra keenam?" James berkata sambil menahan senyum gelinya, dengan wajahnya yang terlihat jelas sedang menyindir Laurel yang langsung tersenyum geli, melihat bagaimana James berusaha membalasnya karena tadi sempat menggodanya tentang Elenora.
(Indra keenam sering kali dianggap sebagai indra yang istimewa, karena tidak semua orang memilikinya dan terkadang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Manusia umumnya memiliki lima indra dengan fungsinya masing-masing, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Namun, beberapa orang memiliki kemampuan, seperti membaca pikiran orang lain, mengetahui peristiwa atau suatu hal yang tidak diketahui orang lain, merasakan ada sesuatu yang tidak benar, atau melihat masa depan. Kemampuan tersebut sering disebut sebagai indra keenam.
Menurut KBBI, indra keenam dapat diartikan sebagai alat untuk merasakan sesuatu secara naluri atau intuisi. Dalam psikologi, indra keenam juga dikenal sebagai extrasensory perception (ESP) atau indra tambahan, yaitu kemampuan menerima informasi yang tidak diperoleh melalui kelima indra fisik, melainkan dengan pikiran.
Indra keenam selama ini hampir selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis. Namun, pada kenyataannya, indra keenam mampu dijelaskan dengan logika dan bukti ilmiah).
"Atau sekarang kamu jadi memiliki kemampuan indigo?" James kembali menggoda Laurel yang langsung memasang wajah serius begitu mendengar olok-olok dari James lagi.
(Indigo merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa dan bahkan yang bersifat supranatural, serta memiliki pemikiran nalar di luar pemikiran manusia pada umumnya.
Konsep ini merupakan ilmu semu yang didasarkan pada gagasan Zaman Baru pada tahun 1970-an. Konsep ini mulai terkenal setelah diterbitkannya beberapa buku pada akhir tahun 1990-an dan dirilisnya beberapa film satu dasawarsa kemudian. Interpretasi mengenai indigo ada bermacam-macam: dari yang meyakini bahwa mereka adalah tahap evolusi manusia selanjutnya (yang bahkan mempunyai kemampuan paranormal seperti telepati) hingga yang menyebut orang indigo sebagai orang yang lebih empatik dan kreatif.
Meskipun tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan indigo atau sifat mereka, fenomena ini menarik perhatian Konsep anak indigo pertama kali dikemukakan oleh cenayang Nancy Ann Tappe pada tahun 1970-an. Pada tahun 1982, Tappe menerbitkan buku Understanding Your Life Through Color (Memahami Hidup Anda Melalui Warna) yang menjelaskan bahwa semenjak pertengahan tahun 1960-an, ia mulai menyadari bahwa ada banyak anak yang lahir dengan aura "indigo" (dalam publikasi lain Tappe juga mengatakan bahwa warna indigo atau nila berasal dari "warna kehidupan" anak yang ia dapatkan melalui sinestesia). Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh buku yang berjudul The Indigo Children: The New Kids Have Arrived (Anak Indigo: Anak-anak Baru Telah Tiba) pada tahun 1998. Buku ini ditulis oleh Lee Carroll dan Jan Tober).
"Eh, jangan dipikirkan, mungkin itu hanya perasaanku saja." Laurel berkata sambil kembali tersenyum dan mempercepat langkah kakinya untuk menghindari pertanyaan penasaran selanjutnya dari Niela dan James.
Aneh, penthouse ini terasa benar-benar aneh. Apa mungkin ini hanya pemikiranku saja ya? Aku merasa penataan, interior, bahkan suasana penthouse ini mirip sekali dengan rumah Ad. Apa selera Dario memang sama dengan Ornado? Sejak kapan? Rasanya sungguh aneh. Setahuku kepribadian, juga selera dan karakter Ornado yang lebih banyak mendominasi dan tipikal anak tunggal yang cenderung keras kepala, berbeda jauh dengan Dario yang ramah dan terlihat jauh lebih santai.
Laurel berkata dalam hati sambil mengamati penthouse milik Dario itu dengan lebih teliti.
Dekorasi penthouse ini didominasi dengan bentuk bunga mawar, dan juga cat warna biru dan emas yang merupakan warna yang merupakan favorit Cladia. Seingatku, ketika kecil dulu Dario begitu menyukai warna merah. Apa seleranya sudah mulai bergeser dan berubah? Kenapa Dario menjadikan penthousenya seperti rumah Ornado dan Cladia?
Semoga saja semua pemikiran anehku tentang penthouse ini hanya sekedar angan-anganku saja. Bagaimanapun aku tidak mengharapkan ke depannya ada masalah diantara Ornado dan Dario. Jika itu terjadi, kasihan sekali Cladia yang bahkan belum pulih sepenuhnya terhadap trauma masa lalunya. Akh... aku benar-benar pusing sendiri. Bagaimana bisa aku selalu berpikir dan curiga bahwa Dario memiliki ambisi tersembunyi terhadap Ornado maupun Cladia.
Laurel sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran dalam otaknya yang baginya terasa aneh, namun tidak bisa diabaikannya begitu saja.
"Ayo kita lihat tempat yang lain. Mumpung kita mendapatkan kesempatan hari ini. Belum tentu ke depannya kita bisa sebebas ini untuk menikmati penthouse ini." Laurel berkata untuk mengalihkan pikiran anehnya tentang Dario.
Beberapa saat Laurel berusaha menikmati suasana pesta itu agar pikirannya tidak lagi emmikirkan tentang keanehan Dario, sampai tiba-tiba matanya fokus menatap ke arah sosok seorang gadis dengan tampilan beda dengan tamu yang lain, sedang berjalan bergegas ke arah balkon sendirian.
Rambut panjang yang dikepang satu, kacamata tebal, juga gaun sederhana yang dikenakannya. Tidak seperti pakaian kedodoran yang biasa dia kenakan, tapi tetap saja pakaian yang dikenakannya tidak bisa menunjukkan bahwa sebenarnya tubuhnya sungguh mempesona, tinggi semampai dengan lekuk-lekuk tubuh sempurna.
Gaun yang dikenakan oleh Elenora benar-benar gaun yang terlihat begitu sederhana, dan membuatnya seperti gadis yang baru pertama kali menghadiri pesta sewewah ini, sehingga salah kostum.
"James, apa itu dia?" Laurel segera berbisik pelan ke arah James yang sedang berbicara dengan Niela di sampingnya.
Begitu mendengar pertanyaan Laurel, kepala James langsung menoleh dengan mata menatap ke arah Elenora yang berjalan ke arah balkon sambil memegang handphone di telinganya.
Tanpa menjawab pertanyaan Laurel, James langsung mengangguk dan berjalan ke arah balkon menyusul Elenora, disusul oleh Laurel dan Niela.
"Lavoro qui." (Aku bekerja di sini) Terdengar suara Elenora sedang berbicaa melalui handphonenya dengan seseorang.
"Grazie per il sui aiuto. Arrivederci." (Terimakasih atas bantuanmu. Sampai jumpa) Setelah tediam beberapa saat karena mendengarkan perkataan teman bicaranya di seberang sana, Elenora kembali mengeluarkan kata-katanya.
Begitu selesai mengucapkan salam perpisahan dengan lawan bicaranya, Elenora langsung menutup panggilan teleponnya dengan senyum senang di wajahnya, dan membalikkan tubuhnya.
Cih... siapa yang barusan menelponnya, kenapa wajahnya terlihat begitu senang sekali? Terlihat begitu bahagia. Seperti seorang gadis yang baru saja menerima telepon dari kekasihnya. Rasanya dia belum pernah terlihat dengan senyum sesenang itu di depanku.
James berkata dalam hati sambil sedikit mengalihkan pandangan matanya ke tempat lain, melihat ke arah kerlap kerlip lampu yang terlihat dari jauh, membuat pemandangan dari arah balkon penthouse Dario terlihat indah, memanjakan mata sekaligus cukup menenangkan pikiran.