My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SUASANA AKRAB (2)



"Negara ini memang memiliki keindahan alam yang sungguh menakjubkan. Meskipun sayang baru kali ini kita sempat berkunjung ke tempat ini. Paling tidak sekarang kita masih memiliki kesempatan untuk menikmati keindahannya." Vincent berkata kepada Alexis yang langsung mengganggukkan kepalanya.


"Ornado sepertinya memang pandai memilih tempat wisata yang terbaik dari negara ini." Larena langsung menambahkan perkataan suaminya yang sedang melingkarkan lengannya di bahunya, sambil matanya memandang ke depan, ke arah lautan yang terhampar luas di depan mereka.


Sejak mereka kembali bersama dan memutuskan untuk menerima permintaan Alvero agar mereka berdua kembali masuk ke istana, Vincent tidak pernah membiarkan Larena menjauh dari pandangan matanya, seolah takut jika tiba-tiba saja Larena menghilang kembali dari hidupnya seperti yang sudah terjadi belasan tahun yang lalu.


Vincent juga ingin kebersamaannya dengan Larena dipenuhi dengan semua kenangan manis sampai tutup usia mereka.


Ingin membayar waktu-waktu yang sudah hilang karena hal mengerikan yang sudah dilakukan oleh keluarga Edarian, terutama Eliana.


"Bagaimana denganmu Alaya? Apa kamu menyukai tempat ini?" Alaya yang awalnya sedang sibuk memandangi layar handphonenya langsung mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Vincent yang bertanya padanya.


"Emmmm, lumayan… lumayan suka...." Jawaban Alaya menunjukkan bahwa dia menjawab pertanyaan Vincent dengan sekenanya.


"Ist, kamu sedang fokus terhadap apa Alaya? Kenapa jawabanmu terasa menggantung begitu?" Alvero yang duduknya tidak terlalu jauh dari posisi Alaya langsung ikut masuk dalam perbincangan mereka, apalagi Ornado dan Cladia sedang tidak ada di tempatnya karena sedang mengambil suguhan kue di meja sajian.


"Ah, tidak Kak. Aku sedang membalas pesan dari teman-temanku dari luar negeri yang masih saja heboh dan tidak percaya dengan status baruku sebagai putri Gracetian. Mereka masih saja memenuhi media sosialku dengan banyak perbincangan tentang hal itu." Alaya berkata sambil meringis karena pertanyaan Alvero dengan nada menyelidiknya.


Jujur saja, Alvero menjadi sedikit bersikap over protektif kepada adik kandungnya Alaya, sejak adanya peristiwa kedatangan laki-laki tidak dikenal di kantor perusahaan Adalvino yang ingin bertemu dengan Alaya, yang sempat memaksa masuk untuk itu, bahkan hampoir saja terjadi baku hantam antara pihak keamanan perusahaan yang sedang bertugas dengan laki-laki asing itu.


Dan setelah ditelisik lebih lanjut oleh Ernest, ternyata laki-laki itu memang merupakan penggemar berat dari Alaya sejak gadis itu masih duduk di bangku sekolah tingkat SMA.


Sudah beberapa kali Alaya menolak pernyataan cintanya, tapi laki-laki itu tidak bosan-bosannya terus  berusaha untuk menemui Alaya dan meminta Alaya menerima pernyataan cintanya.


Bahkan setelah mendengar kabar tentang Alaya yang ternyata merupakan putri dari Gracetian, membuatnya tanpa ragu justru menyusul Alaya sampai ke Gracetian, dan berrusaha keras untuk menemui Alaya dengan datang langsung ke kantor Adalvino, setelah dia mengumpulkan info bahwa Alaya juga bekerja di sana.


Karena laki-laki itu tahu kalau dia langsung mencari Alaya ke istana, pasti dengan mudahnya para pengawal istana akan mengusirnya.


Maka dari itu dia sengaja mengunjungi perkantoran Adalvino untuk bertemu dengan gadis pujaannya itu.


“Aduh, biarkan saja mereka, jangan ambil perduli, jangan sampai kamu dikelilingi orang-orang aneh seperti laki-laki tidak tahu diri waktu itu.” Alvero berkata dengan mata hazelnya menatap Alaya dengan serius.


“Tapi papa juga tidak suka jika ada laki-laki aneh lain yang berada di sekitarmu. Sepertinya lebih baik kamu cepat menetapka pria yang kamu sukai untuk menjalin hubungan serius dengannya. Lebih baik lagi kalau kamu segera menikah, jadi papa bisa lega melihat kedua anak papa sudah bertemu dengan belahan jiwa mereka.” Vincent segera menambahkan nasehat sari Alvero, karena dia cukup mengkhawatirkan anak gadisnya yang dulunya tinggal diluar istana.


Karena lamanya Alaya tinggal diluar istana, bahkan diluar negeri, membuat sikap dan gaya hidup Alaya sedikit berbeda dengan para putri Gracetian yang lain.


Selama tinggal bersamanya di luar negeri, Larena memang tidak banyak mengajarkan tentang bagaimana cara hidup sebagai seorang keturunan bangsawan atau seorang putri, disebabkan pada awalnya, Larena juga tidak memiliki keinginan untuk kembali ke Gracetian, dan ingin melupakan masa lalunya di Gracetian.


Melihat sikap, pandangan serta gaya hidup Alaya, sehingga membuat Vincent ingin agar Alaya segera menikah dengan orang yang bisa mengajarkannya tentang bagaimana tata cara hidup sebagai seorang putri Gracetian.


“Papa, aku ini masih sangat… bahkan amat sangat muda, masih ingin menikmati masa kebebasanku. Karena begitu menikah, kalau suamiku seorang pangeran, apalagi seorang duke, pasti nasibku akan lebih banyak terkurung di istana dan perusahaan, dengan jadwal yang begitu padat. Dan tidak bisa bebas pergi kemana-mana.” Alaya berkata sambil bergidik ngeri.


“Aku belum siap untuk itu. Pasti menyenangkan bisa menghabiskan masa mudaku dengan bebas seperti sekarang ini. Benarkan Kak Alvero?” Alaya berkata sambil tersenyum manis yang langsung dibalas oleh sebuah senyuman dari Alvero.


“Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh papa. Kamu harus segera menemukan laki-laki impianmu atau aku harus turun tangan dan menemukannya untukmu.” Kata-kata Alvero yang diucapkannya dengan sebuah senyuman manis, bagi Alaya tampak terdengar begitu menakutkan, membuatnya melotot dengna sukses.


“Kak Deanda, sepertinya kamu harus membantuku kali ini. Katakan pada Kak Alvero bahwa dia tidak bisa memaksaku menikah, apalagi aku masih begitu muda. Kalau Kak Deanda menjadi aku, pasti Kakak akan berpikiran begitu juga kan?” Deanda hanya bisa meringis mendengar perkataan Alaya, karena dia sendiri menikah dengan usia yang cukup muda dengan Alvero, dan usianya terpaut tidak jauh dari Alaya.


“Ah, Alaya, sepertinya kamu bertanya pada orang yang salah. Usia kita tidak jauh berbeda, tapi kamu lihat kan, statusku sekarang adalah seorang istri dari kakakmu.” Perkataan Deanda membuat Alaya menarik nafas panjang, membuat Alvero semakin ingin menggoda adik kesayangannya itu.


“Jangan khawatir Alaya, sebagai kakakmu, aku pasti akan memilih pria terbaik yang ada di Gracetian. Untuk seorang putri Gracetian sepertimu, yang pantas untuk menjadi suamimu haruslah yang sepadan dengan status dan kedudukanmu. Pria itu minimal haruslah seorang pangeran atau seorang duke. Kamu  tahu itu.” Perkataan Alvero membuat Alaya memberengut dengan wajah sebal, dan itu justru membuat Alvero semakin membumbui kata-katanya.


Alvero memang menyebutkan pangeran dan duke, karena Alaya sebagai putri Gracetian, memiliki status tinggi, sehingga hanya memungkinkan seorang pangeran yang statusnya setara dengannya untuk menikahinya, atau seorang duke yang statusnya di atas para pangeran, tepat di bawah kedudukan seorang putra mahkota.


“Dan di Gracetian, hanya ada tiga alternatif pria terbaik untuk menjadi suamimu. Pangeran John, Pangeran Javer, dan Duke Evan. Kamu tinggal pilih satu diantara mereka.” Mata Alaya membulat sempurna mendengar perkataan Alvero tentang para pria tampan yang disebutkan oleh Alvero, namun tidak ada satupun yang pernah terbersit di pikirannya untuk dekat dengan mereka.