My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
CEMBURUNYA JAMES



Selain itu, Audrey juga teringat bagaimana James pernah memerintahkan kepada para pegawai untuk tidak naik ke atas, tapi ternyata setelah mereka naik, sudah ada Elenora di kantornya, yang artinya, sepanjang pagi itu, sebelum semua pegawai berada di temapt kerjanya masing-masing, di sana hanya ada James dan Elenora.


Meskipun saat itu Elenora tidak terlihat sedang berduaan dengan James, tapi keberadaan mereka yang hanya berdua sedangkan yang lain di lantai dasar dan tidak bisa naik ke sana, membuat Audrey yakin bahwa beberapa waktu sebelumnya, James dan Elenora pasti sedang berduaan, dan entah apa yang dilakukan mereka, akan tetapi dalam bayangan Audrey, itu pasti sesuatu yang romantis dan mendebarkan.


Ist... kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak tentang Elenora dan pak James? Sepertinya pikiranku jadi ngelantur gara-gara terlalu terlalu banyak membaca novel romantis semalam.


Audrey mengomeli dirinya sendiri dalam hati.


Tapi.... Sepertinya sejak ada Elenora, ada beberapa perintah atau tindakan pak James yang terasa sedikit aneh. Aku tidak tahu tujuan pak James, yang pasti, sepertinya pak James melakukan itu demi Elenora. Aku yakin 100, ah tidak, 1000 persen, pak James itu pasti menyukai Elenora.


Audrey berkata dalam hati sambil memandang ke arah Elenora, menanti tanggapan Elenora terhadap kata-katanya barusan.


"Mungkin itu hanya pikiranmu saja Audrey. Pak James baik kepada semua karyawan di sini, dan semua orang tahu itu." Elenora berkata sambil menata kembali bekas tempat bekal dan peralatan makan bekas makan siangnya bersama Audrey, berencana meletakkannya kembali ke dalam tas bekal, menghindari tatapan Audrey yang menyelidik, karena beberapa waktu ini, setiap mendengar nama James, detak jantung Elenora selalu berpacu dengan cepat.


"Memang sih pak James tidak bisa dibilang baik padamu, justru seringnya memarahimu. Hanya akhir-akhir ini pak James terlihat berubah dan terlihat lebih ramah padamu. Tapi tetap saja, matanya itu lho... tidak pernah lepas mengawasimu, apalagi saat ada Dodi di kantor ini. Seolah Dodi itu musuh besarnya, saingan cintanya." Dengan terus terang Audrey mengucapkan analisanya, membuat Elenora semakin merasa tidak nyaman, dan juga semakin bingung harus menjawab apa.


"Elen! Audrey, oleh-oleh untuk kalian." Tiba-tiba saja Dodi muncul di hadapan kedua gadis itu sambil membawa dua gelas plastik besar berisi es teh di tangannya.


"Wah.... terimakasih Dodi. Kamu memang mengerti isi hati teman-temanmu." Audrey berkata sambil meraih kedua gelas itu.


Satu gelas berisi es the itu langsung Audrey sedot dengan bersemangat, sedang yang lain langsung disodorkannya ke arah Elenora.


"Terimakasih." Dengan perlahan Elenora mengucapkan terimakasihnya kepada Dodi yang langsung tersenyum lebar, sehingga tidak mengetahui bahwa Elenora sungguh menarik nafas lega karena kehadiran Dodi bisa membuatnya terlepas dari keinginan Audrey untuk menyelidiki hubungannya dengan James.


Elenora yang sadar bahwa dia adalah orang yang tidak pandai berbohong dan berpura-pura tidak bisa memikirkan bagaimana dia harus berkelit jika Audrey terus menerus mengorek informasi tentang dirinya dan James.


Apalagi tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk kembali terdengar dari handphone Elenora, dan memunculkan sedikit, sebagian dari pesan itu, pesan yang lagi-lagi berasal dari James.


Kenapa kamu tidak membalas satupun pesanku? Apa kamu baik-baik saja Ele? Apa....


Elenora hanya bisa membaca sebagian pesan dari James yang tampak di layar handphonenya yang masih terkunci.


Dan mata Audrey yang cukup awas dan tajam bisa melihat bagaimana mata Elenora yang terus melirik ke arah handphonenya, menunjukkan bahwa sebenarnya dia begitu ingin segera membaca pesan itu, namun berusaha menahannya karena ada dia dan Dodi.


Hal itu membuat Audrey mengulum senyumnya dan mengalihkan pandangan matanya ke arah Dodi.


"Ayo, kembali ke meja kerja kita. Jam istirahat sudah berakhir. Dan ada banyak tugas dari pak James untuk kita hari ini." Audrey berkata sambil kedua tangannya mendorong punggung Dodi, agar laki-laki itu menjauhi meja Elenora.


“Eh, sebentar, aku belum sempat berbicara apapun dengan Elenora.” Dodi berkata sambil kepalanya menoleh ke belakang, namun dengan sigap tangan Audrey bergerak dan mendorong kepala Dodi agar wajahnya kembali menatap ke depan, dan tidak berusaha untuk mengobrol dengan Elenora.


Dan bukan hanya itu saja, tapi Audrey sengaja menyebutkan nama pak James dengan nada suara penuh penekanan, membuat Elenora tanpa terasa kembali menyungingkan senyum begitu Audrey menyebutkan nama James, dengan matanya memandang ke arah handphonenya kembali, meski handphonenya masih dalam kondisi terbalik.


# # # # # # #


Dengan sikap seperti cacing kepanasan, James berjalan ke sana kemari sambil melihat ke arah handphone yang terus dipegangnya dengan erat.


Sesekali James terlihat menatap tajam ke arah layar handphonenya, menunggu jika sewaktu-waktu, pesan dari Elenora masuk.


"Haist... kenapa Elenora lama sekali membalas pesan-pesanku? Apa dia sakit? Atau dia belum membaca pesan-pesan dariku karena sedang sibuk bersama seseorang? Tapi tidak mungkin, pesan-pesan itu sudah menunjukkan tanda bahwa Elenora sudah membacanya." James mengomel pelan, berkata-kata pada dirinya sendiri.


"Hah... kenapa dengannya? Apa dia sedang menghabiskan waktu bersama dengan orang lain? Wanita? Pria? Siapa yang sedang bersamanya sekarang?" James kembali berkata-kata sendiri dengan dadanya yang saat ini berdetak kencang dengan rasa tidak nyaman, karena mulai membayangkan Elenora sedang bersama dengan pria lain.


Dan bukan sekedar rasa tidak nyaman, tapi kepalanya juga terasa pusing dengan tarikan nafanya yang terasa berat, membuat James beberapa kali mengepalkan tangannya dengan erat.


Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa jengkel, marah dan juga kesal hanya dengan membayangkan bahwa Ele sedang bersama laki-laki lain? Apa… aku cemburu? Tapi apa salahnya aku cemburu? Bukankah Ele adalah istriku? Milikku? Ele? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Kenapa kamu mengabaikan aku? Apa kamu ingin membalas semua yang pernah aku lakukan padamu dulu? Kumohon jangan lakukan itu padaku.


James bertanya-tanya dalam hati kepada dirinya sendiri tanpa bisa menjawabnya.


Sebuah notifikasi pesan baru yang masuk secara tiba-tiba, hampir saja membuat James melompat kegirangan, apalagi ketika dia melihatnya, pesan itu benar-benar dari Elenora.