My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BEGITU MENCINTAIMU (2)



Bagi Cladia, Ornado adalah segala-galanya baginya, satu-satunya laki-laki yang akan selalu dicintainya dengan sepenuh hati untuk seumur hidupnya.


Dan untuk laki-laki itu, Cladia rela melakukan apapun dan menyerahkan apapun yang ada pada dirinya, termasuk melawan dengan keras traumanya demi cintanya kepada Ornado.


“Kenapa denganmu amore mio? Sedang melamunkan sesuatu?” Ornado yang bisa merasakan bahwa Cladia tidak membalas ciumannya, dan sedikit terpaku langsung berbisik pelan dengan hidungnya sibuk menjelajahi wajah Cladia untuk memberikan ciuman-ciuman kecil dengan sikap gemas.


Ornado tahu, kepolosan istrinya membuat wanita itu bahkan belum bisa membalas ciumannya dengan baik. Tapi tidak adanya respon dari Cladia membuat Ornado sadar Cladia sedang sedikit melamun.


“Eh, tidak Al... aku hanya sedang memiikirkan betapa beruntungnya aku memilikimu.” Cladia berkata sambil memandang wajah tampan suaminya.


Kata-kata Cladia sukses membuat Ornado tertawa terkekeh dan dengan gerakan cepat meraih salah satu tangan Cladia yang ada di pangkuannya dan menciumi punggung telapak tangan istrinya dengan bibir yang terus menunjukkan senyumnya.


“Apa kamu tahu amore mio? Kata-katamu barusan bisa membuatku gelap mata dan rela melakukan apapun untukmu termasuk terjun ke jurang tanpa berpikir panjang, asal itu merupakan perintah darimu….”


“Al, jangan mengatakan hal yang mengerikan seperti itu padaku.” Cladia berkata dengan wajah yang menunjukkan wajah tidak sukanya, membuat Ornado mencubit ujung hidungnya dengan gemas.


“Itu hanya sekedar perumpamaan saja amore mio. Supaya kamu tahu bahwa aku rela melakukan apapun untukmu, karena begitu besarnya rasa cintaku padamu. Tentu saja, aku yakin kamu tidak akan pernah meminta padaku hal seperti itu. Bee belum lagi lahir, dan kamu masih memiliki janji untuk memberikan tiga anak kepadaku. Masih ada dua adik Bee yang harus kita buat berdua dan kamu lahirkan untukku.” Ornado berkata sambil tertawa kecil.


“Lagipula, siapa yang rela meninggalkan istri sesempurna kamu dalam waktu yang singkat? Jika Tuhan menghendaki, aku ingin kita hidup berdua dalam waktu yang lama untuk terus saling mencintai. Supaya kita bisa terus untuk saling berbagi cinta, perhatian, termasuk berbagi kehangatan, sentuhan, dan gairah dalam penyatuan kita.” Kata-kata Ornado membuat wajah Cladia tersipu malu, karena tahu pasti apa yang sedang dimaksudkan oleh Ornado di akhir kalimatnya.


Kamu selalu berhasil membuat hatiku melambung tinggi karena selalu menganggapku sebagai wanita sempurna di tengah ketidak sempurnaanku.


Cladia berkata dalam hati. Kata-kata pujian untuknya dari Ornado barusan hampir saja membuatnya menitikkan airmata haru.


Apalagi Ornado mengatakan hal itu sambil tangan kanannya menelusup masuk ke dalam pakaian Cladia dan mengelus lembut kulit punggung istrinya itu, yang langsung membuat tubuh Cladia sedikit tersentak, bukan karena menegang akibat ketakutan, tapi karena merasakan aliran darahnya yang tiba-tiba memompa deras ke dalam tubuhnya, membuatnya merasa sedikit gerah dan jantung yang ikut berpacu cepat, akibat sensasi seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya akibat sentuhan Ornado pada tubuhnya.


“Aku begitu mencintaimu amore mio. Dan aku tidak akan bisa hidup tanpamu.” Ornado berkata sambil dengan enggan menjauhkan kembali tangannya dari punggung Cladia, karena sesuatu di bawah sana mulai memberontak, sedangkan Ornado ingin membiarkan Cladia banyak beristirahat hari ini untuk memulihkan tubuhnya.


Belum lagi Ornado tahu hanya tinggal 20 menit lagi sebelum rombongan Alvero tiba di resort ini.


Jika ingin bercinta dengan Cladia sekarang, rasanya waktu 20 menit baginya tidak akan cukup, karena Ornado selalu memulai hal itu dengan pelan dan lembut agar Cladia bisa ikut menikmatinya tanpa teringat sedikitpun tentang trauma yang pernah dialaminya.


Rasanya tidak lucu sama sekali jika mereka belum selesai sedang rombongan Alvero sudah tiba di resort itu, meskipun Ornado tahu tidak akan ada seorangpun yang akan berani menerobos masuk kamarnya untuk memaksanya keluar dari kamar.


Cladia langsung menahan nafasnya, untuk meredakan kembali gejolak dalam dadanya ketika Ornado menghentikan gerakan tangannya yang tadinya ada di balik pakaian yang dikenakannya.


“Kita lanjutakan jika kondisimu sudah membaik, dan kita memiliki waktu lebih lama dari sekarang. Karena setiap bersamamu, aku tidak bisa menjamin akan bisa menahan diri untuk tidak menghabiskan waktu yang lama.” Ornado mengakhiri kata-katanya dengan meninggalkan kecupan di leher Cladia yang menutup matanya sebentar untuk menikmati rasa cinta yang begitu besar dari Ornado yang selalu ditunjukkannya dengan tindakan, bukan sekedar kata-kata.


“Apa kamu menyesali itu Al?” Ornado langsung tertawa mendengar pertanyaan Cladia yang wajahnya telihat serius, merasa begitu penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan Ornado padanya.


“Menyesal? Tidak akan pernah ada kata menyesal bagiku jika itu tentang kamu. Di duniaku kamu adalah hal yang paling utama bagiku.” Ornado berkata sambil meletakkan kepalanya di dada Cladia, sambil kedua tangannya bergerak mengelus-elus tubuh istrinya, menikmati kehangatan suhu tubuh Cladia yang hampir setiap saat membuatnya selalu merindukan keberadaan wanitanya itu.


“Ah, sayang sekali sudah hampir waktunya untuk menyambut kedatangan tamu kita.” Perkataan Ornado diucapkannya dengan sikap enggan karena harus segera mengakhiri kemesraan mereka untuk sementara waktu.


Seolah baru tersadar dari mimpinya, Cladia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya.


“Aduh Al, kenapa kamu baru mengingatkanku sekarang? Pasti tidurku terlalu lama tadi. Seharusnya kamu membangunkanku tadi.” Cladia berkata sambil berdiri dari duduknya, dibantu oleh Ornado.


“Ist… mana tega aku membangunkan tidurmu yang terlihat begitu nyenyak. Memang kenapa kamu terburu-buru seperti itu? Masih ada waktu kok.” Sambil bangkit berdiri, Ornado berkata sambil mengikuti langkah Cladia yang masuk kembali ke dalam kamar.


“Aku kan harus berganti pakaian Al. Mana pantas aku mengenakan pakaian yang terlihat kusut karena aku buat tidur tadi?” Ornado langsung tersenyum mendengar keluah kesah Cladia.


“Oke kalau begitu. Untuk menebus kesalahanku karena tidak membangunkanmu, bagaimana kalau aku membantumu untuk berganti pakaian amore mio?” Ornado berkata dengan senyum dan tatapan mata birunya yang menggoda, membuat mata Cladia langsung terbeliak.


“Tidak, terimakasih Al. Yang ada justru nantinya kita berdua tidak jadi menyambut kedatangan sahabatmu itu…”


“Apa itu artinya, sebenarnya kamu juga begitu menginginkannya? Kamu juga sulit mengendalikan dirimu untuk tidak melakukan hal itu?” Wajah Cladia langsung memerah mendengar pertanyaan dari Ornado yang diucapkannya sambil berjalan terus kea rah Cladia hingga posisi tubuh Cladia terpojok karena menabrak dinding yang ada di belakangnya.


“Ah, Nyonya Xanderson, kamu sungguh benar-benar menggemaskan dan selalu membuatku sulit untuk menahan diri.” Ornado langsung mengakhiri tindakannya menggoda Cladia karena tahu dia tidak akan bisa berhenti lagi jika dia terus menggoda istrinya seperti itu.


“Ayo, segera ganti pakaianmu dan kita mengajak James untuk segera bersiap menyambut kedatangan Alvero dan keluarganya.” Ornado berkata sambil memegang kedua bahu Cladia, dan mendorongnya lembut ke arah lemari pakaian, dimana pakaian yang diperlukan oleh Cladia selama liburan, sudah tertata rapi di sana.


# # # # # # #


Elenora baru mengerjakan sebagian kecil dalam memeriksa berkas itu ketika seseorang terdengar sedang mengetuk pintu kamar James.


Ah, siapa yang datang?


James berkata dalam hati, sambil mengalihkan lirikan matanya dengan enggan dari sosok Elenora yang sepanjang hari ini sudah membuat hatinya bergejolak sedemikian rupa, seperti ombak di pantai yang kadang pasang kadang suru, kadang bergelombang tinggi, kadang pendek.


Dengan cepat, James bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar hotelnya untuk melihat siapa yang datang.