
“Kamu memang wanita yang selalu baik hati, tapi jangan sampai kebaikanmu membuat orang yang berbuat salah semakin tidak tahu diri, dan justru bertindak semakin jahat karena memanfaatkan sisi tidak tegamu. Adakalanya, kamu memang harus mengambil sikap tegas agar orang berubah. Jika bukan kita sebagai orang dekatnya yang memberinya pelajaran, jika itu orang lain yang melakukannya, bisa jadi dia tidak akan bisa bangkit dari kejatuhannya. Aku saja sebagai suamimu, belum tentu bisa memberinya hukuman ringan karena perbuatannya yang begitu jahat padamu.” Perkataan James yang menunjukkan bahwa dia tahu bahwa Elenora sedang mengkhawatirkan kakaknya Serafina, membuat Elenora menghela nafasnya, dengan sikap bingung.
“Jika boleh jujur, bagaimanapun dia adalah kakak kandungku. Meski dia sudah berbuat jahat, aku tidak mau membalasnya dengan kejahatan. Kalau tidak, apa bedanya aku dan dia? Kalau aku membalas sesuatu yagn jahat dengan kejahatan juga?” Jawaban Elenora terhadap kata-katanya, membuat James langsung mencium sekilas dan dengan cepat kening Elenora.
Hal itu membuat rasa panas langsung terasa di wajah Elenora, apalagi baru kemarin dia merasakan bagaimana manis dan indahnya ciuman dari James padanya, dan membuat angannya melambung tinggi, karena rasa bahagia yang membuncah, memenuhi dadanya.
Bayangan demi bayangan tentang James yang kemarin tiba-tiba hadir di tengah pesta dan langsung menariknya ke kamar, mencium bibirnya, dan setelah omelan panjang orangtua mereka berakhir dengan malam panjang yang mereka lalui bersama dengan penuh gairah dan cinta, membuat wajah Elenora terasa semakin panas.
“Kamu memang yang terbaik ti amore.” James berkata sambil mencium sekilas bibir Elenora yang semakin memerah wajahnya, karena belum pulih dari rasa kaget dan jantung yang berdebar akibat ciuman James di keningnya yang baginya sungguh di luar dugaan.
Dan baru saja, James sudah kembali mencuri ciuman darinya, dan kali ini ciuman di bibirnya, yang jelas saja membuat dadanya semakin berdebar dengan begitu hebatnya, bahkan membuat telapak tangannya terasa dingin.
“Ist… sikapmu menggemaskan sekali ti amore. Membuatku ingin menambahkan kissmark di tubuhmu. Dan kali ini aku ingin membuatnya di bagian tubuhmu yang bisa terlihat langsung oleh orang lain, termasuk Serafina. Agar semua orang tahu bahwa kamu adalah milikku, dan sudah menjadi milikku sepenuhnya.” James berkata dengan senyum menyeringai, apalagi dilihatnya Elenora yang langsung memegang kerah pakaiannya dan menekannya ke arah lehernya, begitu mendengar rencana James padanya.
Tindakan Elenora langsung membuat James tertawa tergelak sambil mengacak rambut di kepala Elenora dengan gemas.
“Ti amo ti amore….” James berbisik pelan tepat di telinga Elenora, sengaja membiarkan Elenora merasakan hangat hembusan nafasnya, yang tanpa sadar membuat Elenora menelan ludahnya dengan sikap gugup dan salah tingkah.
“Kamu sungguh ingin membuatku langsung menggendongmu dan membawamu ke kamar. Dan untuk yang berikutnya, aku ingin melakukannya di kamarku, di mansion keluargaku, yang akan menjadi kamarmu juga mulai sekarang.” James kembali membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Elenora berdiri, dengan detakan jantungnya yang semakin menggila.
Begitu Elenora menoleh ke dalam rumah, diikuti oleh James, tampak papa dan mama Elenora berjalan ke arah ruang tamu.
Melihat itu, Elenora segera bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumah, disusul oleh James yang tampak melangkah dengan santai, berbeda dengan Elenora yang terlihat bergegas dengan wajah terlihat tegang.
“Pa….” Elenora berkata lirih kepada papanya yang langsung menghentikan langkah kakinya begitu melihat Elenora dan James datang mendekat ke arah mereka.
“Maafkan tindakan jahat Serafina kepadamu Elenora. Papa sudah salah, karena tidak peka, sehingga membiarkan anak papa melakukan tindakan sekotor itu padamu.” Papa Elenora berkata sambil memeluk Elenora, merasakan kesedihan yang begitu dalam, karena sebagai orangtua sudah membiarkan Elenora menderita sekian lama karena perbuatan Serafina.
“Pa, jangan begitu. Papa tidak bersalah.” Elenora berkata pelan sambil membalas pelukan papanya dengan demikian eratnya.
“Sejak dulu kamu memang anak papa yang begitu baik dan selalu menerima nasib. Kamu bahkan tidak pernah menentang kami orangtuamu. Papa begitu bangga memiliki anak sepertimu Elenora.” Dengan mata berkaca-kaca, papa Elenora berkata pelan sambil menepuk-nepuk punggung Elenora sebelum akhirnya melepaskan pelukannya, dan langsung menatap lurus ke arah James.
“Maafkan aku James. Aku harus meminta maaf padamu juga karena membiarkan calon istrimu mengalami hal seburuk itu tanpa aku tahu sebelumnya. Apalagi pelakunya ternyata adalah anakku yang lain.” Papa Elenora berkata dengan nada terdengar begitu dipenuhi dengan penyesalan.
“Hal itu sudah terlanjur terjadi. Yang penting sekarang adalah bagaimana Serafina merenungkan kesalahannya dan mau berubah. Melihat bagaimana dia yang mencoba berkelit meskipun sudah ada bukti yang jelas, sepertinya dia perlu menjalani hukuman yang akan membuat dia jera, dan mau mengubah sifat buruknya itu.” Perkataan James membuat papa Elenora menghela nafas panjang.
“Aku tahu kamu sengaja membiarkan kami yang memberinya hukuman. Terimakasih karena tetap mempercayaiku untuk tetap memutuskan perihal Serafina, meskipun aku sudah melakukan kesalahan selama bertahun-tahun. Dan aku sebagai orangtua Serafina, tapi juga orangtua istrimu, berharap keputusan kami tentang Serafina ini dapat kamu terima dengan lapang dada….” Papa Elenora menghentikan kata-katanya sejenak sambil melirik ke arah mama Elenora yang sedari tadi memilih diam, dan matanya terlihat sembab karena sudah banyak menangis.