
Meskipun Cladia tahu Ornado pasti akan menegurnya jika dia melakukan hal seperti itu, namun Cladia yang begitu menyukai desain-desain pakaian dari butik milik suaminya itu biasanya secara sembunyi-sembunyi dia akan membeli dengan uangnya sendiri jika dia membeli barang di sana sebagai hadiah untuk orang lain.
"Bukan karena itu Cla. Aku sudah cukup merepotkan dengan tinggal di rumah ini walaupun hanya untuk sementara waktu. Jangan mererpotkan dirimu dengan membelikan barang-barang seperti ini. Lagipula, di sini aku juga bekerja dan digaji. Aku bisa membelinya sendiri jika perlu atau menginginkannya." Elenora berkata dengan wajah terlihat tidak enak sambil melirik ke arah tas yang tadi dibawa oleh Cladia.
Elenora yakin, semua barang yang ada di dalam tas itu bukanlah barang-barang murahan yang mudah di dapat di pasaran.
Siapa yang tidak kenal dengan butik milik Ornado, cabang resmi dari butiknya yang ada di Italia. Butik yang bahkan kelasnya setara dengan Chanel atau Dior.
"Eh, kenapa bicara seperti itu? Aku justru senang sekarang di rumah aku punya teman mengobrol sepertimu. Rumah sebesar ini, membuatku kadang merasa kesepiaan, apalagi jika Ornado sedang lembur di kantor, meeting sampai malam dengan klien atau ada perjalanan dinas keluar kota atau bahkan keluar negeri. Tante Ema kadang juga pergi mengunjungi sanak saudaranya di kota lain. Sejak kamu di rumah ini, rasanya aku memiliki teman mengobrol yang menyenangkan." Perkataan Cladia yang usianya sebenarnya masih di bawah Elenora, meski hanya beberapa bulan itu, membuat Elenora tersenyum.
"Kalau kamu memang menganggapku sebagai teman, kamu harus menerimanya. Kalau tidak, aku tidak akan menganggapmu teman lagi. Jadi, kamu harus menerimanya ya?" Perkataan Cladia yang berisi ancaman, tapi diucapkan dengan senyum manisnya, membuat Elenora hanya bisa membalas senyuman wanita cantik itu sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi tolong... jangan sampai Ornado tahu kalau aku membelinya dengan uangku sendiri ya? Dia pasti akan kecewa kalau mendengar tentang itu. Padahal bisa membeli sesuatu dengan uangku sendiri merupakan kebanggaan tersendiri bagiku." Mata Cladia tampak terlihat berbinar cerah saat mengucapkan kata-katanya.
"Jangan khawatir Cla, aku pasti tidak akan mengatakan apapun pada Ornado. Lagipula, sebenarnya aku malu sudah membuatmu repot-repot memikirkan tentang pakaian yang harus aku siapkan untuk pergi besok." Elenora segera menanggapi perkataan Cladia.
Tidak seperti gadis lain, untuk menutupi penampilannya selama ini, tidak banyak pakaian yang dimiliki oleh Elenora meskipun sebenarnya dia mampu untuk membelinya.
Dari pengalaman yang pernah dia lalui, setiap kali dia memiliki pakaian yang bagus dan akan membuatnya tampil cantik jika mengenakannnya, jika Serafina mengetahui tentang pakaian itu, tidak segan-segan Serafina akan membuang atau bahkan merusak pakaian itu.
Dari situ Elenora mulai malas membeli pakaian yang bagus, karena dalam pemikirannya, tidak perlu waktu lama pakaian itu pasti akan menghilang ataupun rusak secara tiba-tiba.
"Ah, jangan dipikirkan. Sebenarnya aku membeli pakaian untukmu juga untuk kesenanganku sendiri. Setelah menikah dengan Ornado, biasanya dia tidak akan membiarkanku memilih pakaianku sendiri. Dia yang akan selalu memilihkan untukku, baik model maupun warnanya. Kalaupun aku ingin membeli pakaian untukku sendiri, rasanya belum waktunya. Karena pakaian yang disiapkan Al untukku, bahkan sebagian besar ada yang belum pernah aku coba atau pakai." Cladia berkata dengan senyum geli, karena dia sedang membayangkan penuhnya isi lemari pakaiannya di lemari yang ada di walk in closet kamarnya.
Di lemari itu, ada ratusan pakaian untuk berbagai acara, yang sengaja disiapkan oleh Ornado khusus untuk Cladia.
Meskipun saat memasuki rumah itu Cladia membawa sebagian pakaiannya, namun Ornado bersikeras bahwa lemari berisi ratusan potong pakaian wanita itu adalah milik Cladia.
Sayangnya, belum sempat menggunakan tempat itu sebagai ruang latihan balet baginya, Cladia keburu hamil. Sehingga tidak memungkinkan baginya untuk sementara waktu berlatih balet seperti bisanya.
"Aku sudah memilih yang mungkin akan sangat pas untuk kamu kenakan. Semoga kamu menyukainya. Baik model maupun warna-warna yang sudah aku pilih." Cladia kembali berkata sambil menepuk-nepuk tas yang sudah ada di atas meja itu.
"Terimakasih Cla. Apapun pilihanmu pasti bagus, karena aku dengar dari Ornado, sebenarnya kamu juga begitu familiar dengan desain pakaian." Elenora segera menanggapi perkataan dari Cladia.
"Ah, Al terlalu membesar-besarkan masalah itu. Sejak kecil yang aku tahu tentang desain perhiasan, bukan pakaian." Elenora hanya bisa tersenyum kecil mendengar sanggahan Cladia yang terdengar merendah.
"Kata Ad, meskipun kamu lama berkutat di perusahaan keluargamu yagn bergerak di bidang perhiasan, tapi Ad juga bilang kamu sering mengikuti perkembangan dunia mode, dan matamu cukup jeli dalam melihat kualitas pakaian baik dari segi bahan maupun desain dan jahitan." Cladia langsung tertawa kecil mendengar itu.
"Aku tidak sehebat itu, aku tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh Al padamu, sampai kamu memujiku sedemikian rupa dan...."
"Aku mengatakan kenyataan tentang kamu amore mio, bukan sebuah bualan." Ornado yang sebelumnya datang dari arah lain, dari arah belakang Cladia, langsung memotong perkataan Cladia yang langsung menoleh dan tersenyum melihat kehadiran sosok suaminya yang menyusulnya ke kebun mawar sore ini.
Ornado terlihat segar dengan pakaian santainya, berupa celana pendek berbentuk cutoff, dan t shirt tanpa kerah dengan ukuran slim fit, yang terlihat begitu pas di tubuhnya, sehingga menunjukkan bentuk tubuhnya yang berotot dan atletis.
Penampilan Ornado sore ini, meskipun terlihat santai, tapi tidak bisa menyembunyikan kenyataan tengan tubuhnya yang terbentuk sempurna sebagai seorang pria, belum lagi ditunjang oleh wajah tampannya, dengan rambut hitam legam dan mata birunya, yang dari caranya menatap menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
Membuat siapapun yang melihat sosoknya akan rela menyediakan waktu meski hanya sedetik untuk menikmati kesempurnaan ciptaan Tuhan yang satu itu.
(Celana pendek dengan sebutan cutoff, merupakan istilah umum dimana celana panjang dipotong setengahnya. Konsep ini sudah ada sejak 1930an dimana celana pendek sudah dapat diterima dipakai di luar lapangan olahraga. Selama 1960an dan 1970an, pemotongan celana jeans menjadi sangat populer di kalangan anak muda. Cut-off dapat dibuat dari celana jeans yang dipotong sendiri maupun membeli yang sudah jadi).
"Karena kamu memang pantas untuk selalu dipuji sekaligus dipuja... terutama olehku. Amore mio." Ornado yang baru saja datang langsung berjalan mendekat dan memeluk erat tubuh Cladia dari arah belakang, membuat wajah Elenora ikut sedikit memerah melihat bagaimana mesranya Ornado memperlakukan Cladia.
Sudah hampir dua minggu Elenora tinggal di rumah Ornado dan Cladia, dan hampir setiap bertemu mereka Ornado selalu memamerkan sikap mesranya kepada Cladia.