
"Sudah, waktu terus berjalan. Ini sudah semakin sore. Bukannya malam ini kita semua mau merayakan ulang tahunmu dengan bahagia. Masalah lain kita bahas nanti. Sekarang biarkan Elenora berdandan, bagaimanapun dia sekarang adalah menantuku. Dia harus tampil cantik di acara ulang tahun mamanya." Carina segera mengajak mama Elenora untuk pergi meninggalkan kamar Elenora, memberi kesempatan pada tim MUA terbaik yang sengaja dia sewa untuk mendandani menantu yang disayanginya itu.
Sejak mengenal keluarga Elenora dan melihat Elenora yang masih kecil, Carina memang sangat menyukai Elenora.
Saat itu Carina berharap dia bisa memiliki anak perempuan seperti Elenora, tapi karena itu tidak mungkin dia dpatkan setelah dokter memberinya vonis bahwa kandungannya sudah tidak normal dan tidak memungkinkan untuk dia hamil lagi, satu-satunya hal yang bis dia lakukan adalah berharap kelak salah satu anaknya bisa menikah dengan gadis itu.
“Elenora baru datang dari jauh, kita juga sudah membuatnya tidak nyaman dengan berita sakitmu, dan sekarang dia harus menerima omelanmu. Kasihan dia. Apalagi kita sedang bersiap untuk merayakan pesta ulang tahunmu. Ayolah, jangan memarahinya terus. Ini hari bahagiamu.” Carina berkata sambil melirik ke arah Elenora yang terdiam dengan sedikit tertunduk dengan penuh simpati.
Haist! James ini benar-benar sudah hilang akal. Bagaimana bisa dia memperlakukan Elenora seperti itu? Kenapa anakku yang biasanya begitu cerdas itu bisa jadi sebodoh itu?
Carina mengomel dalam hati karena tidak tega saat ini, Elenora harus menjadi satu-satunya orang yang menjadi korban omelan orangtuanya akibat perbuatan James.
"Baik… baik. Aku akan bersiap juga sekarang. Elenora... mama memaafkanmu, tapi bukan berarti mama bisa semudah itu memaafkan suamimu sebelum dia memberikan penjelasan pada kami tentang tindakan tidak masuk akalnya. jangan coba-coba menghubungi dia. Jangan mencoba untuk membuatnya datang ke rumah ini karena kamu yang memintanya! Dan kamu yang menyuruhnya meminta maaf! Mama ingin dengan kesadarannya sendiri dia datang menyusulmu ke tempat ini. Mama juga ingin dia mengatakan maaf lewat bibirnya sendiri, tanpa disuruh apalagi dipaksa oleh siapapun." Mama Elenora kembali mengomel, yang membuat Elenroa mau tidak mau mendongakkan kepalanya untuk mendengarkan omelan itu.
"Iya, omeli saja James sampai dia tidak berkutik. Sekarang kamu sebagai bintang malam ini, yang berulang tahun, harus segera bersiap-siap juga." Carina mengatakan itu sambil menarik lengan mama Elenora.
Ajakan Carina akhirnya membuat mama Elenora mengikuti langkah-langkahnya untuk pergi meninggalkan Elenora dengan para wanita yang akan membantunya merias diri.
Sebelum benar-benar menjauh, Carina menoleh ke arah Elenora dan mengedipkan sebelah matanya pada Elenora, seolah memberikan kode bahwa dia akan tetap selalu mendukung Elenora.
Melihat itu, Elenora yang masih menatap ke arah kedua wanita itu, sedikit menarik nafas lega begitu melihat Carina berhasil mengajak mamanya keluar dari kamarnya, dan menghentikan omelannya.
Benar-benar celaka, apa yang harus aku lalukan sekarang? Aku tidak mungkin bisa menghubungi James dan memberinya peringatan dengan meminjam handphone orang lain. Kenapa handphoneku harus hilang di saat-saat genting seperti ini?
Elenora berkata dalam hati sambil menoleh ke arah wanita yang tadi tiba-tiba menerobos masuk ke kamarnya dan menyapanya dengan sikap ramah.
"Mari Nona, silahkan..."
"Eh." Belum sempat Elenora mengatakan apapun, wanita itu langsung menggamit lengan Elenora, dan mengajaknya berjalan mendekati meja rias yang ada di kamarnya.
"Wow.... amazing...!" Wanita yang sedang bersiap mendandani Elenora itu sedikit terpekik begitu melihat wajah asli Elenora tanpa kacamata dan rambutnya yang tergerai.
"Wah.... benar-benar cantik." Wanita itu kembali memuji Elenora sambil meraih kacamata milik Elenora, mengangkatnya ke atas kepalanya dan menatap langit-langit kamar dengan menggunakan kacamata itu.
"Aduh Nona, ternyata kacamata ini cuma buat bergaya saja. tapi sayangnya Nona tidak pantas memakai kacamata ini." Wanita itu berkata sambil meletakkan kacamata itu jauh dari jangkauan Elenora.
"Tapi...."
Dan begitulah peristiwa yang dialami Elenora sepanjang hari ini, yang sempat membuat Elenora hampir saja mengalami serangan jantung karena sandiwara yang sudah dibuat oleh keluarganya untuk membuatnya pulang ke Italia.
Namun, di sisi lain, kenyataan bahwa mamanya tidak benar-benar sakit membuat Elenora bisa bernafas lega.
# # # # # # #
Jam… James? Apa yang baru saja dikatakannya tadi? Apa aku bermimpi? Atau James sedang mabuk? Bagaimana bisa James tiba-tiba ada di tempat ini, dan mengucapkan kata-kata seindah itu untukku?
Elenora berkata dalam hati dengan tubuh yang terlihat begitu tegang dalam pelukan James.
Melihat tidak adanya respon dari Elenora, James segera menjauhkan tubuhnya dari Elenora, dengan kedua tangannya memegang erat bahu Elenora.
Ele?
James berkata dalam hati dengan matanya menatap dengan rasa tidak percaya sekaligus kekaguman dan rasa terpesona begitu melihat bagaimana cantiknya wajah Elenora hari ini.
Kecantikan sempurna dengan rambut indahnya yang tergerai, tanpa kacamat yang menjadi penghalang.
Istriku… benar-benar sangat cantik hari ini…
James bergumam dalam hati tanpa bisa menutupi rasa bangga, kagum, terpesona, dan cintanya pada Elenora melalui tatapan matanya.
Tadinya, karena pikirannya begitu tegang, bahkan James yang langsung memeluk tubuh Elenora tanpa memandang ke arah wajah istrinya itu, tidak menyadari bahwa gadis yang sedang dipeluknya itu sudah menjadi pusat perhatian semua tamu undangan karena penampilannya yang cantik bak bidadari sejak memasuki ruangan pesta, tidka terkecuali Gavino yang sejak awal kehadirannya terus berusaha untuk berada di dekat Elenora.
Sehingga begitu sekarang dia memiliki kesempatan untuk melihat dengan jelas wajah Elenora, James tampak diam mematung, menatap Elenora tanpa berkedip.
Bagaimana bisa, selama ini aku tidak menyadari bahwa kamu adalah gadis secantik malaikat yang sudah aku tolong malam itu. Dan kamu... ternyata begitu mencintaiku. Bodohnya aku Ele.... malaikat manisku....
James kembali berkata dalam hati, dan jika tidak ingat bahwa mereka sedang berada di tengah pesta, rasanya James ingin segera kembali memeluk tubuh Elenora dengan erat, tidak akan melepaskannya untuk waktu yang lama dan menghujani wajah cantik itu dengan banyak ciuman.
Sedangkan Elenora yang masih tidak percaya bahwa sosok laki-laki yang tadi sudah memeluknya dengan begitu hangat, dan menyatakan kata-kata cintanya adalah James, masih diam terpaku tanpa bergerak maupun mengeluarkan suara sedikitpun.
Tatapan mata Elenora yang terlihat menatap James dengan tatapan tidak percaya, membuat James dengan cepat meraih pergelangan tangan Elenora, dan menariknya menjauh dari keramaian, berjalan dengan langkah-langkah lebar menuju ke bagian dalam rumah keluarga Elenora.