My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SEMAKIN MENCINTAIMU



"Tenang saja amore mio, luka sekecil ini, tidak ada artinya bagiku. Dia tidak akan mendapatkan kesempatan memukulku jika aku tidak membiarkan dia melakukan itu padaku. Sebenarnya, aku sengaja membiarkan Dario merasa di atas angin untuk beberapa saat, agar saat terjatuh, itu menjadi hal yang menyakitkan baginya, dan menjadi pelajaran berharga buatnya. Meskipun sepertinya... dia masih tidak bisa menerima kenyataan...." Ornado berkata sambil menghela nafasnya, teringat kembali bagaimana Dario yang masih saja memandangnya dengan tatapan amarah dan kebencian, dan juga melihat bagaimana Dario menatap Cladia masih dengan penuh harap di detik-detik terakhir mereka berpisah tadi.


"Harusnya aku yang meminta maaf padamu amore mio, karena terlalu ceroboh, sehingga membuat Dario berhasil mengambilmu dari sisiku. Aku benar-benar teledor tadi. Bagaimana kondisi Bee, amore mio? Setelah ini kita mampir ke rumah sakit, agar dokter bisa memeriksa keadaan Bee dan kamu juga." Dengan cepat Cladia langsung menggelengkan kepalanya, menolak keinginan suaminya.


Selain dia merasa baik-baik saja, bau rumah sakit yang khas dan sarat dengan bau obat seringkali membuatnya mual, dan juga... mengingatkannya pada bau obat bius yang tadi sempat diberikan anak buah Dario padanya, sebelum menculiknya.


"Seperti yang bisa kamu lihat, aku dan Bee baik-baik saja. Bee adalah seorang keturunan Xanderson, dia juga hebat dan kuat seperti papanya." Cladia berkata sambil mengelus lembut wajah tampan Ornado dengan mata birunya yang sedang menatapnya dengan mesra dan penuh cinta.


Aku beruntung sekali bisa memilikimu Al.


Cladia berkata dalam hati dengan mata berkaca-kaca, dadanya dipenuhi dengan rasa haru sekaligus bahagia secara bersamaan.


"Kenapa denganmu amore mio? Jangan menangis, kecuali tangisan bahagia." Setelah menyelesaikan kata-katanya, Ornado mencium mata Cladia yang terpejam.


"Al.... Sei il mio angelo.  Solo con te riesco ad essere felice. Il mio cuore batte solo per te." (Al.... Kamu adalah malaikatku. Hanya denganmu aku bisa bahagia. Hatiku hanya berdetak untukmu).


Cladia berbisik pelan sambil menyandarkan kepalanya ke dada bidang Ornado, dan juga melingkarkan tangannya ke pinggang Ornado yang langsung tersenyum bahagia sambil mengecupi puncak kepala Cladia dengan penuh rasa sayang, tanpa bisa menghentikan senyuman bahagia yang terus tersungging di bibirnya.


"Sono tua, te amo amore mio." (Aku milikmu, aku mencintaimu cintaku).


Bisikan lembut dari Ornado membuat airmata Cladia kali ini tidak bisa lagi dia tahan lagi, meskipun dia berusaha menyembunyikannya dari Ornado, dengan menundukkan wajahnya yang menempel pada dada bidang Ornado.


Tetapi, pada akhirnya, airmata Cladia yang mengalir di pipinya disadari juga oleh Ornado.


Merasakan sesuatu yang basah dan terasa hangat mengenai pakaian di bagian dadanya, Ornado hanya tersenyum sambil mengelus-elus lembut punggung Cladia, karena dia tahu, tangisan Cladia saat ini, menunjukkan rasa cinta dan bahagianya kepadanya, bukan tangisan karena kesedihan atau rasa takut.


"Cladia! Apa kamu baik-baik saja?" Laurel, karena rasa khawatirnya, tanpa menyadari kondisi dirinya yang sedang mengandung, dengan langkah-langkah lebar langsung berjalan mendekati Cladia yang baru saja turun dari mobil bersama Ornado, dan langsung memeluk erat tubuh Cladia.


"Eh...." Bahkan Dave tidak bisa menghalangi Laurel untuk langsung mendekat ke arah Cladia dengan sikap terburu-buru.


Dave menghela nafasnya, memutuskan untuk membiarkan Laurel segera menemui Cladia sejenak, karena sejak Dave mengatakan bahwa Cladia diculik oleh Dario, Laurel sudah seperti setrika yang terlihat mondar-mandir tidak tenang, bahkan sempat tidak mau menyentuh makan siangnya karena tidak memiliki nafsu makan sama sekali.


Untung saja Dave berhasil merayu Laurel agar tetap tenang dan mengisi perutnya, karena saat ini ada nyawa dalam perutnya yang juga butuh asupan gizi, dan juga merayu Laurel agar dapat mengendalikan emosinya.


Laurel begitu mengkhawatirkan Cladia, karena selain traumanya terhadap pria yang belum sepenuhnya pulih, Laurel yang beberapa waktu lalu juga sempat mengalami peristiwa penculikan oleh Devan dan Dicky, dokter cantik itu tahu bagaimana rasanya takut karena peristiwa mengerikan seperti itu.


Dan Laurel tidak bisa membayangkan, seorang Cladia yang sosoknya merupakan wanita pendiam dan lemah lembut, dengan sisi lain yang memiliki traumanya terhadap pria, harus menghadapi peristiwa penculikan seperti itu.


Apalagi kondisi Cladia yang sedang hamil dan kesehatannya tidak cukup baik sejak pada masa kehamilannya ini, membuat Laurel bertambah khawatir.


Bahkan membuat mata Laurel berkaca-kaca, merasa terharu sekaligus bahagia melihat Cladia yang sepertinya baik-baik saja.


"Aku benar-benar khawatir padamu." Laurel berkata sambil memperat pelukannya ke tubuh Cladia yang langsung membalas pelukan dari Laurel, yang sudah seperti kakak kandung baginya.


Untuk beberapa saat baik Dave dan Ornado sengaja membiarkan istri mereka saling berpelukan dan meluapkan emosi mereka, bahkan mereka terlihat sedikit sesenggukan karena sama-sama tidak bisa menahan tangisan karena merasa lega dan bahagianya.


Sampai akhirnya mereka saling melepaskan pelukannya, Ornado langsung mendekat ke arah Laurel.


"Lalu bagaimana denganku Laurel? Apa kamu tidak mengkhawatirkan aku? Bagaimanapun aku adalah kakakmu kan sekarang? Apa kamu tidak melihat Dario sudah memukul wajahku?" Dengan senyum menyeringai, dan jari telunjuk tangannya memamerkan sudut bibirnya yang terluka, Ornado berkata untuk menggoda Laurel yang wajah dan matanya terlihat memerah karena baru saja menangis terharu dan bahagia karena Cladia yang baik-baik saja setelah peristiwa penculikan yang dialaminya.