My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
IKUTLAH BERSAMAKU



"Ikut denganku sekarang!" Tanpa perduli dengan Elenora yang terlihat begitu kaget dengan kehadirannya, James menarik paksa tangan kiri Elenora dan membawanya menjauhi pintu apartemennya, bahkan membiarkan tas koper dan barang-barang bawaan Elenora tergeletak begitu saja di depan pintu kamar apartemennya.


"Ta.... tapi James.... aku...."


"Apa kamu sudah gila? Apa kamu tahu tempat seperti apa yang akan kamu tempati ini?" James berteriak tanpa perduli dengan Elenora yang berusaha melepaskan cekalan tangan James sambil menoleh ke belakang, ke arah semua barang-barang miliknya yang ada di depan pintu masuk apartemennya.


Bahkan untuk mencegah Elenora melepaskan diri darinya, James sengaja mempererat cekalan tangannya pada Elenora, membuat gadis itu akhirnya menyerah dan mengikuti langkah-langkah James di belakangnya.


Dengan tangan kirinya James melakukan panggilan telepon melalui handphonenya.


"Fred, segera ambil barang-barang Elenora sekarang juga! Aku akan memberikan lokasinya. Di apartemen X, depan kamar apartemen dengan nomer xxx. Apapun yang terjadi, jangan sampai ada satupun dari barang itu yang hilang! Dan antar semua barang itu ke kamar hotel tempat aku tinggal malam ini juga!" James langsung memberikan perintah kepada Fred tanpa memberikan kesempatan Fred untuk mengeluarkan kata-katanya untuk menyampaikan pendapatnya.


Bahkan tanpa menunggu tanggapan dari Fred, James langsung menutup panggilan teleponnya dan langsung mengirimkan lokasi tempat mereka berada.


Perintah tegas James terhadap Fred membuat Elenora menghentikan langkahnya untuk mengikuti James karena tidak menyangka dengan tindakan sekaligus perintah James pada Fred tentang barang-barang miliknya yang masih tergeletak begitu saja di depan pintu kamarnya.


Ap… apa maksud kata-kata James barusan, kenapa dia memberi perintah kepada pak Fred untuk membawa barang-barangku ke kamar hotelnya? Apa yang sedang direncanakannya saat ini?


Elenora berkata dalam hati dengan sikap terlihat khawatir.


Tindakan Elenora yang berusaha menentangnya dengan menghentikan langkahnya, membuat James menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


"James, tolong hentikan…." Elenora berkata lirih dengan tatapan mata memohon ke arah James yang tetap mencekal tangannya dengan erat, seolah takut jika dia melepaskan tangan itu sekarang, gadis itu akan berlari dari hadapannya, menghilang, dan tidak akan bisa dilihatnya lagi untuk waktu yang lama.


Membayangkan itu, gejolak yang ada di dada James semakin menggila dengan jantung yang berdetak dengan kencang dan nafas yang sedikit memburu karena menahan emosinya.


Suatu hal yang hanya Elenora yang bisa membuat James seperti itu, membuat James begitu sulit mengendalikan emosinya.


Elenora, satu-satunya perempuan yang bisa membuat hati James jungkir balik karena berbagai emosi yang dirasakannya saat bersama gadis itu.


Entah itu perasaan marah, senang, sedih, bahagia, khawatir, tenang, takut, dan juga nyaman.


Semuanya bisa dirasakannya silih berganti atau bersamaan, dan hanya Elenora yang bisa membuat James merasakan hal seperti itu.


Perkataan Elenora membuat James menelan ludahnya kembali dan menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredakan gejolak emosi dalam hatinya.


"Tapi kenapa tempat seperti ini yang kamu pilih? Apa kamu sengaja mencari masalah? Keamanan daerah ini sungguh bermasalah. Dan kamu yang seorang gadis muda dan lajang berencana tinggal di sini sendirian? Kamu benar-benar nekat jika berani melakukan hal itu!” James langsung mengomeli Elenora yang hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.


“Aku sudah terlanjur membayar uang sewa untuk apartemen itu. Tidak mungkin aku membuang uang sia-sia dan mencari apartemen lain. Aku akan mencari apartemen lain sambil menunggu masa sewa apartemenku yang ini berakhir.” Elenora menjawab pertanyaan James sambil mengalihkan wajahnya agar James tidak melihat bagaimana gugupnya dia saat ini.


Apalagi alasan yang sebenarnya memang apartemen itu sengaja dipilih oleh Elenora karena harganya yang murah dan dekat dengan area perkantoran Bumi Asia tempatnya bekerja.


Pada akhirnya James menarik nafas panjang untuk menahan dirinya agar tidak lagi berteriak kepada Elenora karena rasa khawatirnya.


“Kamu tidak boleh tinggal di tempat berbahaya seperti ini. Ikut saja denganku malam ini. Besok akan aku aturkan tempat yang lebih baik untukmu.”


“Lepaskan tanganku James, aku tidak ingin ikut bersamamu. Aku harus kembali ke atas….” Tanpa menjawab pertanyaan James, Elenora justru meminta James untuk melepaskan tangannya, membuat James justru mendengus karena rasa kesal kembali bercokol di hatinya.


Dasar Ele! Bagaimana bisa dia merasa semuanya baik-baik saja, sedangkan keputusannya untuk tinggal di tempat seperti ini bisa membuatku terkena serangan jantung.


James menggerutu dalam hati dengan matanya menatap dengan tajam ke arah Elenora.


“Ikut aku dengan baik-baik, atau aku akan memaksamu ikut dengan cara menggendongmu. Apa kamu ingin aku melakukan hal seperti itu kepadamu di depan umum?” James bertanya sambil kembali menarik pergelangan tangan Elenora dan berjalan ke arah lift, membawanya masuk ke dalam lift dengan tetap memegang erat tangan Elenora, tanpa mengendorkan pegangannya barang sedetikpun sejak dia memegang pergelangan tangan itu.


Pertanyaan James membuat Elenora terdiam, dan akhirnya bersikap pasrah, membiarkan suasana antara dia dan James menjadi canggung, dengan suara gesekan logam yang terasa nyeri di dada dan telinga akibat kondisi lift yang tidak terawat, menemani suasana canggung diantara mereka berdua.


Begitu pintu lift yang mengeluarkan suara nyaring karena gesekan antara pintu dan bodi lift terbuka, dengan cepat James menarik kembali tangan Elenora ke arah luar gedung apartemen, dimana tampak beberapa sepeda motor dan mobil yang terkesan butut berjajar di sana, dengan posisi tidak beraturan.


Mobil James yang merupakan salah satu jenis mobil mewah dengan harga yang fantastis, membuatnya terlihat begitu mencolok diantara mobil-mobil lainnya yang terparkir di sana.


Bahkan beberapa orang yang melewati mobil James, sengaja menghentikan langkahnya, dan menatap, juga mengamati dengan kagum, mobil James yang sedang terparkir itu.


Termasuk salah satu petugas keamanan tempat itu, yang tampak asal-asalan dalam hal kerapian seragam yang dikenakannya dan juga wajahnya yang terlihat kotor karena jambang, kumis dan rambut yang tidak rapi dan tidak terawat, tampak berjalan mengelilingi mobil James sambil menatapnya dengan wajah terkagum-kagum, dan bibir berkali-kali mendesiskan kata-kata “wahhh.”


“Permisi Pak.” Suara sapaan dari James membuat petugas keamanan yang ala kadarnya itu langsung menoleh dengan wajah sedikit malu karena ketahuan sudah mengagumi dan bersikap norak akibat mobil bagus yang baru pertama kalinya dia lihat seumur hidupnya secara nyata, yang biasanya mungkin hanya bisa dia lihat di layar televisi atau di internet.