
“Eh, Elenora, maaf ya, tapi jangan tersinggung jika aku tanyakan hal ini. Kacamatamu terlihat begitu tebal, apa masalah yang terjadi pada matamu? Astigmatisme atau rabun jauhkah?” Pertanyaan Laurel tanpa sadar langsung membuat wajah Elenora terlihat sedikit memucat secara tiba-tiba.
(Rabun jauh atau miopia adalah kondisi ketika mata tampak samar melihat benda jarak jauh. Rabun jauh umumnya disebabkan oleh faktor genetik. Untuk mengatasi rabun jauh, diperlukan penggunaan kacamata, lensa kontak, atau operasi laser mata (LASIK). Masalah astigmatisme terjadi pada lengkungan lensa atau kornea. Kondisi ini dapat mengakibatkan pandangan menjadi terdistorsi atau kabur. Astigmatisme umumnya muncul saat lahir, tetapi bisa juga disebabkan oleh cedera yang dialami oleh mata di kemudian hari atau sebagai komplikasi dari operasi mata. Astigmatisme merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan oleh cacat oleh lensa atau kornea yang tidak mulus, sehingga mengakibatkan cahaya yang masuk ke mata jadi tidak fokus saat diteruskan ke retina. Oleh sebab itu, pandangan yang dihasilkan mata menjadi buram).
“Jangan khawatir Elenora. Laurel dan suaminya Dave adalah dokter hebat. Katakan saja padanya apa yang terjadi pada matamu.” Niela langsung berkata untuk membuat Elenora agar tidak merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Laurel.
“Tidak sehebat itulah, Niela terlalu memuji. Apa kamu tidak ingin lepas dari kacamata Elenora?” Laurel berkata sambil membayangkan bagaimana cantiknya tampilan Elenora tanpa kacamata anehnya itu.
“Ti… tidak perlu. Sejak kecil, memang aku sudah memakai kacamata kok. Dan aku tidak berniat untuk melepaskannya.” Elenora mencoba menghindar dari apa yang ditawarkan oleh Laurel dengan gugup sambil tangan kanannya membetulkan letak kacamatanya.
Aneh, kenapa Elenora sepertinya berusaha begitu keras menutupi kecantikannya? Apa ada sesuatu yang salah padanya? Kenapa tidak mau berterus terang padaku tentang matanya? Toh aku hanya sekedar menanyakan apa yang terjadi dengan matanya? Kenapa dia harus menggunakan kacamata? Bukan sedang menanyakan sebuah penyakit nyang memalukan dan harus disembunyikan.
Laurel berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar, hatinya merasa semakin dipenuhi oleh rasa penasaran tentang sosok Elenora.
Apa kira-kira Cladia tahu tentang itu ya? Dari cara Elenora menyebutkan nama Cladia, sepertinya Elenora merasa dekat dan nyaman berada di dekat Cladia.
Laurel kembali berkata dalam hati sambil mencoba mencari cara agar dia bisa tahu sebenarnya gadis seperti apa Elenora sehingga menyembunyikan kecantikannya dan terlihat tidak percaya diri di depan orang lain.
“Silahkan nona-nona.” Laurel baru saja berencana meneruskan kata-katanya kepada Elenora, namun suara James yang menyapa mereka sambil menyodorkan satu piring besar penuh berisi berbagai kue yang disuguhkan di pesta, membuat Laurel, Niela maupun Elenora terbeliak kaget.
“Aduh James, kamu pikir kami ini orang-orang kelaparan yang sudah berhari-hari tidak makan? Kamu sengaja ya? Biar tamu yang lain menganggap kami rakus?” Laurel langsung mengomel.
Sedang James bukannya merasa bersalah, tapi justru langsung tertawa mendengar omelan Laurel.
Karena James memang sengaja ingin mengerjai Laurel yang sedari tadi sudah membuatnya mati kutu.
James sengaja membawa piring berisi kue sesuai permintaan Laurel. Tapi bukan hanya sekedar piring untuk makan, namun piring saji yang besar dan masih penuh kue, sengaja dia bawa.
Beberapa mata tamu undangan yang melihat bahkan merasa heran kenapa James membawa roti sebanyak itu dari meja sajian. Kue yang seharusnya bisa disuguhkan untuk 15-20 orang.
"O, begitu ya? Setahuku ibu hamil kan harus banyak makan, karena pada ibu hamil ada dua orang yang harus dapat asupan gizi dalam satu tubuh." Tanpa rasa bersalah James langsung menjawab keluhan Laurel.
"Ist... dasar. Tapi sudahlah, tidak apa-apa. Ayo kita makan teman-teman. Nanti sisanya biar James yang menghabiskan. Siapa berbuat harus berani bertanggung jawab." Dengan santainya Laurel berkata sambil mengambil posisi duduk di kursi yang ada di balkon penthouse itu, dikuti oleh Niela dan Elenora.
Hah, benar-benar si Laurel ini. Inginnya mengerjainya, justru aku yang kena masalah karena dikerjainya balik.
James berkata dalam hati dan dengan sikap pasrah berjalan mendekat ke arah mereka, dan meletakkan piring besar berisi kue itu di atas meja yang ada di depan kursi tempat mereka duduk.
"James, duduklah di sini." Laurel yang awalnya duduk tepat di sebelah Elenora tiba-tiba berkata kepada James sambil bangkit dari duduknya.
"Eh, tidak perlu Laurel...." James yang sedikit terkejut dengan perkataan Laurel langsung menggerakkan kakinya ke samping untuk sedikit menjauh.
"Ayolah, kenapa sih kamu ini? Duduklah di sini." Laurel berkata sambil menarik lengan pakaian James dengan cepat, sehingga tubuhnya ikut bergerak mendekat ke arah Elenora yang duduk sedang duduk.
"Eh... maaf Elenora...." Laurel berkata dengan nada terlihat kaget, karena tanpa sengaja tangannya yang tadinya menarik lengan baju James bergerak ke arah wajah Elenora sehingga membuat kacamata Elenora terlepas dan jatuh ke arah kaki James.
Elenora yang menyadari kacamatanya terlepas dan jatuh langsung terlihat panik dan berusaha untuk mengambil kacamatanya dengan menundukkan tubuhnya.
Namun, gerakan Elenora kalah cepat dengan gerakan James yang sudah berlutut untuk mengambil kacamata Elenora dan menyodorkannya ke arah Elenora yang terlihat begitu gugup dan salah tingkah.
"Ini... untung saja tidak pecah, atau kamu akan kesulitan untuk melihat." James berkata sambil menunggu tangan Elenora mengambil kembali kacamata miliknya.
"Te... terimakasih..." Dengan gerakan ragu-ragu Elenora menerima kacamata yang disodorkan oleh James dan dengan gerakan buru-buru, Elenora langsung mengenakan kembali kacamatanya.
Sekilas, hanya sekilas, dan benar-benar singkat, James terlihat sedikit tersentak saat tanpa sengaja mengamati Elenora yang dengan sikap buru-buru mengenakan kacamatanya.
Eh, apa aku salah lihat? Tanpa kacamata... sepertinya wajah Elenora benar-benar berbeda. Sayangnya aku hanya melihatnya sekilas, sehingga tidak bisa yakin apa itu karena efek lampu atau apa yang membuatnya sangat berbeda tanpa kacamatanya.
James berkata dalam hati sambil termenung sebentar sebelum akhirnya dia bangkit dari posisinya yang berlutut dengan satu kakinya di depan Elenora yang sudah kembali mengenakan kacamatanya kembali.
"Ayo, duduklah di situ." Belum lagi pikiran James lepas dari bayangan sekilas ketika dia melihat wajah Elenora tanpa kacamata, Laurel sudah mendorong punggungnya ke depan.
Setelah itu dengan cepat Laurel membuat tubuh James berbalik, dan menekan kedua bahunya ke bawah, sehingga mau tidak mau, James pada akhirnya tidak bisa menghindar untuk duduk tepat di samping Elenora.
"Pasangan yang terlihat sangat serasi, benar kan Niela?" Begitu James sudah duduk tepat di samping Elenora, Laurel berkata sambil membuat gerakan seperti orang sedang membersihkan kedua telapak tangannya dan tersenyum senang.