My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RENCANA JAMES



“Hah….” James menghela nafas panjang begitu meetingnya selesai dengan sukses.


Elenora ikut tersenyum tipis melihat wajah puas dari James karena hasil meeting hari ini.


Sekilas James melirik jam di pergelangan tangannya.


Eh, ternyata meeting pagi ini berjalan lancar, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan semuanya. Berarti aku masih memiliki banyak waktu untuk bermain di pantai hari ini. Dan itu pasti akan sangat menyenangkan. Apa Ad dan kedua sahabatnya itu sudah melaksanakan rencana mereka untuk istrinya ya?


James berkata dalam hati sambil memandang ke arah Elenora yang tampak sibuk membereskan berkas-berkas untuk keperluan meeting tadi.


Sepertinya sekarang Elenora mulai bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya sebagai seorang sekretaris. Semoga dia juga mulai bisa menikmati pekerjaannya, jika tidak, Ornado pasti akan membuat masalah denganku dengan memindahkan Elenora begitu gadis ini meminta bantuan kepada Ad.


James kembali berkata dalam hati.


Mau tidak mau, James harus mulai mengakui bahwa dia memang tidak ingin Elenora bekerja jauh darinya.


“Ele….” Panggilan pelan dari James yang tidak menyebutkan nama lengkapnya seperti biasanya membuat Elenora langsung menoleh ke arah James, dengan sedikit mengernyitkan dahinya, karena merasa heran dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir James.


“Kenapa dengan wajahmu Ele?”


Kali ini, Elenora benar-benar mengernyitkan dahinya dengan wajah heran, karena James kembali memanggilnya dengan sebutan Ele.


“Ah… tidak… hanya saja….” Elenora menghentikan bicaranya.


Lebih baik aku tidak melanjutkan bicaraku daripada salah bicara dan menyinggung perasaan James.


Elenora berkata dalam hati dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kata-katanya, yang sebenarnya ingin bertanya kenapa James memanggilanya dengan sebutan Ele, sesuatu yang baru pertama kali dilakukan James.


“Apa ada yang salah kalau aku memanggilmu Ele? Kalau orang lain bisa memanggilmu Elen, kenapa aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan Ele yang menurutku terdengar simpel dan mudah diingat?” Seolah bisa membaca pikiran Elenora, James segera mengucapkan kata-kata yang membuat Elenora terdiam.


“Apa kamu keberatan aku memanggilmu Ele?” Dengan cepat Elenora langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari James.


“Tidak, tentu saja… tidak. Terserah kamu mau memanggilku apa.” Dengan gugup akhirnya Elenora langsung memberikan penjelasan kepada James yang langsung tersenyum penuh kemenangan.


Hah, aku pikir kamu akan mengatakan kalau hanya Dodi yang boleh memanggilmu dengan nama yang berbeda. Ist… si Dodi ini…. Apa aku aku harus memberikan perintah kepada Audrey agar dia memindahkan kantor Dodi agar tidak lagi berada satu ruangan dengan Elenora ya? Rasanya aku ingin sebelum aku dan Elenora kembali ke kantor, Dodi sudah tersingkir dari ruangan itu.


James mengomel dalam hati sambil melirik ke arah Elenora yang masih sibuk membereskan barang-barang di atas meja di depannya.


Atau… aku memindahkan Elenora agar bekerja satu kantor denganku? Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Aku akan segera mempertimbangkan mana yang lebih baik diantara dua pilihan itu.


“Baguslah kalau begitu. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Ele. Dan aku harap, tidak ada seorangpun yang kamu ijinkan untuk memanggilmu Ele selain aku. Terserah orang lain memanggilmu apa, yang pasti panggilan Ele hanya boleh aku yang melakukannya.” James berkata sambil bangkit dari duduknya.


“Aku mau berganti pakaian, sepuluh menit lagi kita berangkat menyusul mereka ke pantai. Kalau ada yang butuh untuk kamu lakukan. Lakukan dengan cepat. Aku akan menunggumu di lobi resort sepuluh menit lagi.” James mengucapkan perintahnya sebelum melangkah pergi masuk kembali ke kamarnya dan mendekati lemari pakaiannya untuk mengganti pakaian resminya dengan pakaian yang lebih santai untuk dia pergi ke pantai.


Perintah tegas dari James sudah cukup bagi Elenora untuk membuat gadis itu dengan bergegas membersihkan dan merapikan kembali semua kebutuhan meeting tadi, dan dia sendiri kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan juga sepatu kerjanya.


# # # # # # # # #


Melihat senyuman Cladia setelah matanya berkeliling dan melihat bagaimana yang lain tanpa ragu juga sedang memamerkan kemesraan mereka, membuat Ornado tersenyum geli.


“Benar kan apa kataku? Jangan perdulikan orang lain saat ini. Kita hanya perlu fokus pada urusan kita berdua. Aku ingin kita berdua menikmati liburan tanpa perduli yang lain. Anggap saja hanya ada kita berdua di sini.” Kali ini setelah menyelesaikan kata-katanya, tanpa ragu Ornado mencium bibir Cladia yang sedikit tersentak, membuatnya hampir bergerak menjauhi Ornado.


Namun ciuman lembut dan penuh cinta yang diberikan Ornado padanya, juga sentuhan lembut Ornado pada perutnya dan tangannya yang lain menahan kepalanya agar tidak lagi bisa menjauhkan diri, membuat Cladia menghentikan tindakannya untuk menghindari Ornado, dan dengan pasrah menerima perlakuan mesra dari suaminya itu.


“Ti amo amore mio.” Setelah lama menikmati bibir Cladia yang manis, dan juga menunjukkan rasa cintanya yang begitu besar pada Cladia melalui ciumannya itu, Ornado kembali menyatakan rasa cintanya dengan bibirnya yasng masih menempel di bibir Cladia.


Dan tanpa mereka ketahui, Alaya yang awalnya sedang sibuk dengan pemandangan sekitarnya, dan fokus pada dirinya sendiri, tiba-tiba saja langsung tersenyum melihat kemesraan yang sedang dipamerkan oleh Ornado terhadap Cladia.


Mereka sungguh romantis, bahagianya menjadi kak Cladia yang selalu dimanjakan dan dipuja seperti itu oleh kak Ornado. Aku pikir di dunia ini yang selalu bersikap gila dan selalu menempel pada wanitanya hanya kak Alvero, tapi ternyata, kak Dave sama saja. Kak Ornado? Dia yang paling parah. Apa di masa depan aku bisa mendapatkan pria seperti mereka ya? Mereka para pria hebat, namun begitu mencintai dan memuja istrinya, seolah hidup mereka akan hancur, langit akan runtuh, jika wanitanya menjauh dari hidupnya.


Alaya berkata dalam hati sambil mengarahkan kameranya ke arah Ornado dan Cadia.


Alaya mengatur sebentar lensa kameranya, sebelum akhirnya membidikkan kameranya ke arah Ornado dan Cladia, mengambil gambar mereka berdua, dimana Ornado yang awalnya sedang memeluk Cladia dari arah belakang kemudian mencium bibir istrinya dengan mesra, setelah sedikit menggeser tubuhnya ke samping.


Dan foto itu terlihat selain meninggalkan kesan romantis tapi juga begitu indah karena latar belakang pulau nusa penida yang terlihat sungguh indah.


“Kira-kira mereka berdua akan marah tidak ya kalau tahu aku diam-diam sudah mengambil foto mereka tanpa ijin?” Alaya bergumam pelan sambil melihat-lihat hasil jepretan kameranya, yang berhasil mengabadikan momen romantis, dimana Ornado yang sedang mencium mesra bibir Cladia dengan latar belakang pantai yang terlihat begitu indah.


Sepertinya tidak sopan kalau aku mengambil foto orang lain tanpa seijin yang bersangkutan. Lebih baik aku segera menghapus foto-foto ini.


Alaya bergumam dalam hati sambil ibu jarinya bersikap untuk menghapus foto-foto Ornado yang sedang mencium bibir Cladia tadi.


Ah, tapi ini adalah foto yang begitu cantik, yang mungkin tidak bisa aku dapatkan lagi di masa depan.. Maaf ya kak Ornado dan kak Cladia, foto ini terlalu sayang untuk dibuang, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.


Alaya berkata dalam hati sambil menghentikan tangannya yang hampir saja menekan tanda delete (hapus).


Namun pada akhirnya, Alaya memutuskan untuk tetap menyimpan foto-foto yang baginya terlihat sangat cantik itu.