
Aku baru tahu kalau ternyata sangat menyenangkan sekali bisa menggoda gadis culun ini. Sepertinya ke depannya aku akan sering menggodanya agar dia bisa menunjukkan wajah cantiknya karena semburat merah yang memenuhi wajahnya. Pantas saja Ornado suka sekali menggoda Cladia tanpa mengenal waktu dan tempat.
James berkata dalam hati sambil mengamati Elenora yang semakin mendekat ke arahnya dengan sikap canggung, membuat James menahan senyum gelinya, sekaligus senyum puas di bibirnya, karena mendapatkan kesempatan melihat wajah Elenora yang justru terlihat cantik karena memerah.
Begitu Elenora berada tepat di depannya, James sedikit tersentak sambil menarik dalam-dalam nafasnya, karena bau harum dari tubuh dan rambut Elenora yang menerpa indra penciumannya, membuat dadanya bergejolak hebat.
Sial… bagaimana aku bisa lupa kalau wangi tubuh gadis ini bisa membuatku menggila dan lupa diri. Haist, semoga dia melakukan apa yang aku minta dengan cepat, karena aku tidak mungkin menarik kembali perintahku padanya.
James berkata dalam hati sambil menahan nafasnya, karena bau harum tubuh Elenora, dan juga wajah Elenora yang begitu dekat dengannya, sehingga dia bisa mengingat dengan jelas kecantikan wajah gadis culun itu tanpa kacamata tebalnya, dan mulusnya kulit wajah Elenroa saat dia menyentuhnya kemarin, membuat dada James berdetak dengan begitu hebatnya.
Aduh, bagaimana ini? Posisi ini… terlalu dekat. Bagaimana bisa James memberiku perintah yang tidak masuk akal seperti ini? Apa dia tidak tahu kalau ini bisa membuatku terkena serangan jantung?
Elenora berkata dalam hati sambil berusaha secepat mungkin menyelesaikan perintah James, tapi justru karena gugup, akhirnya membuat Elenora mengalami kesulitan untuk memasang kancing lengan pakaian James.
Beberapa kali Elenora menahan nafasnya karena jari-jari tangannya yang tidak mau bekerja sama dengan otaknya, untuk segera menyelesaikan tugas dari James, padahal dia ingin segera menjauh dari James, atau dadanya terus berdetak dengan tidak beraturan seperti sekarang ini.
Setelah beberapa lama, baru Elenora bisa menarik nafas lega ketika kedua lengan panjang kemeja yang dikenakan James berhasil di kancingkannya dengan baik, meskipun membuat tangannya sedikit basah akibat rasa gugupnya.
“Su… sudah James….” Dengan suara pelan, dan bergerak cepat menjauhi James, Elenora berkata tanpa berani menatap wajah James.
“Terimakasih. Kenapa keningmu berkeringat di ruang ber AC seperti ini? Aku hanya meminta tolong padamu untuk mengancingkan lengan bajuku, bukan mengancingkan kancing pakaian di dadaku. Karena untuk yang satu itu, belum waktunya.” Tiba-tiba saja James begitu ingin menggoda Elenora kembali, sehingga mengucapkan kata-kata yang sukses membuat Elenora kembali salah tingkah.
“Mungkin, aku gugup karena meeting yang akan segera dimulai.” Elenora langsung menanggapi perkataan James untuk menutupi agar dia tidak melakukan kesalahan karena kegugupannya saat ini.
"O, ya? Kalau begitu, tolong ambilkan jam tanganku di atas nakas itu." James berkata sambil berpura-pua merapikan kemeja yang dikenakannya, sedang matanya mengarah pada jam tangannya yang tadi sempat dia lepas dan geletakkan di atas nakas.
Dengan cepat, Elenora segera mengambil jam tangan itu, dan mengarahkannya kepada James yang terlihat tidak perduli pada usaha kerasnya untuk menenangkan diri, justru menatap wajah Elenora dalam-dalam, dengan rencana baru di kepalanya.
"Tolong pasangkan am itu di pergelangan tanganku." Perintah James kali ini kembali membuat Elenora tersentak kaget, bahkan hampir tersedak oleh ludahnya sendiri.
Aduh... apalagi ini? Kenapa sepertinya hari ini James sengaja membuatku seperti ini? Apa dia sengaja melakukan hal ini padaku untuk menyiksaku? Apa dia tidak tahu kalau tindakannya bisa membuatku mati muda karena detakan jantungku yang menggila?
Elenora mengeluh dalam hati, mencoba menebak sebenarnya apa yang diinginkan oleh James darinya? Kenapa dari tadi sepertinya James mengerjainya? Memberikan perintah yang menurutnya sedikit aneh.
"Tapi James...." Elenora berkata pelan.
Apa sebegitu tidak sukanya James padaku? Sampai tidak mau mendengarkan apa kataku? Tapi, sejak kemarin sikap James tidak menunjukkan tanda dia marah atau kesal seperti biasanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada James? Akh... entahlah, lebih baik aku ikuti saja maunya sebelum dia kembali marah-marah padaku seperti biasanya.
Sambil berkata dalam hati, pada akhirnya, Elenora menggerakkan tangannya untuk memasangkan jam tangan James ke pergelangan tangannya, sesuai dengan permintaaan James.
James bisa merasakan bagaimana jari-jari lentik Elenora yang sedang memasangkan jam tangannya terasa basah dan terlihat sedikit bergetar, menunjukkan bahwa saat ini Elenora benar-benar gugup.
"Elenora, apa pagi tadi sarapanmu kurang? Kenapa kamu terlihat tidak sehat?" James bertanya sambil matanya tetap menatap ke arah jari-jari tangan Elenroa yang bergetar.
"Eh, tidak, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja." Jawaban Elenora membuat James tersenyum kecil, rasanya sungguh menyenangkan bagi James melihat kegugupan Elenora saat ini.
Jika beberapa waktu lalu sebelumnya, dulu.... James sempat kesal karena hanya di depannya Elenora bersikap segugup itu.
Tapi mulai hari ini, James sungguh senang hanya dia yang bisa menikmati wajah Elenora yang gugup dan salah tingkah, yang baginya ternyata terlihat cantik dan menggemaskan.
“O, ya. Kalau begitu segera persiapkan dirimu, meeting akan segera dimulai.” James berkata sambil melangkahkan kakinya kembali ke teras kamarnya.
Namun, begitu melihat Elenora tidak menyusulnya, James langsung menoleh ke arah Elenora yang ternyata sedang berjalan mendekati tempat tidurnya, berniat untuk mengambil pakaian James yang tadi terkena pelembab bibirnya, bermaksud untuk mencucinya agar bisa menebus rasa bersalahnya kepada James.
Eh, apa yang mau dilakukan oleh Elenora pada pakaianku itu? Jangan bilang dia berniat mengambil dan mencuci untuk menghilangkan kenangan berharga dari pakaianku itu! Tidak bisa! Itu tidak boleh terjadi!
James langsung berteriak dalam hati dengan sikap panik. Karena sejak awal, james sudah bertekad untuk tidak akan membiarkan noda berbentuk bibir itu menghilang dari pakaiannya itu.
Bahkan James sudah memikirkan bahwa dia akan membawa pakaian itu di kamar hotelnya yang selama di Indonesia sudah dijadikannya tempat tinggal dan menyimpannya dengan baik di lemari pakaiannya.
Sejak awal, James memang sudah berencana untuk selamanya dia tidak akan pernah akan membiarkan orang lain menyentuh, apalagi mencuci pakaiannya itu.
“Elenora! Apa yang akan kamu lakukan?” Melihat Elenora mengambil pakaiannya yang tergeletak di atas tempat tidurnya, tanpa sadar James berkata dengan suara cukup keras kepada Elenora, sambil bergerak cepat dengan setengah berlari ke arah Elenora yang sudah memegang pakaian James dengan kedua tangannya.
Suara teriakan dari James membuat Elenora tersentak kaget, dan justru membuatnya semakin erat memegang pakaian James yang ada di tangannya.
“Apa yang mau kamu lakukan dengan pakaianku?” James bertanya sambil meraih pakaiannya, berusaha merebutnya dari Elenora yang ternyata memegangnya dengan cukup erat, sehingga James tidak berhasil mengambilnya dari tangan Elenora.