
“Tuan James sudah pergi sejak pagi-pagi tadi Nona. Dan itu… ada surat yang dititipkan oleh tuan James untuk Nona. Tadi tuan James berpesan pada saya untuk menunjukkan surat itu pada Nona.” Matilda menunjukkan sebuah amplop yang tergeletak di samping piring makan kosong yang disiapkan Matilda untuk Elenora.
Surat? Di jaman se modern seperti sekarang ini, seorang James dengan pikiran majunya masih menggunakan surat sebagai alat komunikasi?
Elenora berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya, namun juga merasa begitu penasaran dengan apa yang dituliskan James untuknya.
Setelah Matilda memastikan Elenora membuka surat itu, sesuai dengan peritnah James, Matilda baru berani untuk pergi meninggalkan Elenora sendirian di meja makan, memberikan waktu pribadi untuknya.
Begitu membuka lembaran kertas terlipat, yang di dalamnya tertera tulisan tangan James, membuat Elenora langsung menahan nafasnya, dengan dadanya yang mulai bergetar.
Sejak dulu, Elenora tahu bahwa tulisan tangan James memang sangat bagus, sekaligus sangat rapi.
Bahkan terlihat seperti sebuah cetakan, bukan tulisan tangan dengan menggunakan tinta pena. Dan itu sungguh terlihat begitu indah bagi Elenora.
Ele, pagi ini aku harus pergi dengan terburu-buru, karena keberangkatanku di kota B tidak bisa lagi aku tunda lagi. Semalam Ad memberitahuku masalah di sana semakin memanas. Untuk semua berkas-berkas yang harus aku periksa dan tandatangani, kirimkan langsung ke surelku pagi ini, termasuk berkas yang aku tugaskan pada Dea. Sampaikan padanya, agar dia mengirimkan langsung ke surelku, tidak perlu mencetaknya dan meletakkan di meja kerjaku seperti perintahku kemarin.
Pagi ini aku juga tidak bisa menemanimu makan pagi, tapi jangan sampai kamu melewatkan itu. Awas saja kalau sepulang aku dari kota B, berat tubuhmu semakin berkurang. Dan aku akan memastikan bahwa itu benar-benar tidak terjadi saat aku pulang nanti. Minta saja kepada Matilda dan Lucy apapun yang kamu inginkan selama aku tidak ada.
Elenora langsung tersenyum dengan wajah sedikit memerah membaca tulisan James tentang berat tubuhnya.
Dan tulisan yang menunjukkan perhatian James padanya itu membuat Elenora tanpa sadar memegang dadanya, sebelum dia melanjutkan kembali untuk membaca tulisan tangan James.
Ada rasa bahagia yang saat ini menyeruak dari dalam hati Elenora, dan juga rasa haru karena perhatian yang ditunjukkan James padanya, meskipun dari kata-katanya tidak ada kesan romantis sama sekali dari James.
Tidak ada kata-kata lembut, atau pernyataan cinta, tapi entah kenapa bagi Elenora, tindakan James dengan menuliskan surat dengan tangannya sendiri membuat itu menjadi begitu istimewa bagi Elenora.
O, ya, untuk mobil, aku tahu kamu pasti tidak akan mau jika menggunakan mobilku untuk berangkat ke kantor. Lihat di ujung meja makan, ada kotak kecil, aku sudah meletakkan kunci mobil untukmu di sana. Pastikan kamu menggunakan mobil itu untuk keperluanmu, meskipun aku tidak mengharapkan kamu pergi ke tempat lain selain kantor saat aku tidak ada di sana. Aku tidak mau ada info tentang kamu yang mengendarai kendaraan umum.
Fred akan membantu mengatur semua kebutuhanmu. Hubungi aku kalau kamu membutuhkan bantuan yang Fred mungkin tidak bisa membantumu.
Jangan sekali-kali mematikan handphonemu, agar kamu tidak hilang di negara asing yang belum kamu kenal ini, saat kamu tersesat.
Di kotak yang sama, di bagian bawah ada kartu kredit, dan juga kartu atm yang bisa kamu gunakan sewaktu-waktu, untuk membeli apapun yang kamu inginkan. Untuk pin nya, akan aku kirimkan langsung ke handphonemu.
Aku sengaja menuliskan surat karena tidak ingin kamu terganggu karena notifikasi pesan masuk ke handphonemu.
Sekarang nikmati makan pagimu sebelum berangkat ke kantor.
Sikap James kadang-kadang sungguh terlihat sangat lucu. Dia bisa menggunakan pesan atau email, tapi lebih memilih untuk menulis surat padaku. Apa dia benar-benar memiliki banyak waktu luang hingga bisa-bisanya dia berpikir untuk menulis surat seperti ini?
Elenora berkata dalam hati dengan matanya masih memandang lurus ke arah kertas yang masih terbuka di tangannya, tentu saja tanpa Elenora tahu bahwa James sengaja menuliskan itu setelah beberapa kali dia mondar-mandir di kamarnya sendiri dan juga di depan pintu kamar Elenora karena tidak bisa tidur setelah di tahu bahwa secepatnya dia harus pergi ke kota B setelah menerima telepon dari Ornado tentang perkembangan kondisi di pabrik penyamakan kulit yang harus segera ditindak lanjuti.
Untuk waktu yang lama kemarin malam James terus mondar-mandir di depan pintu kamar Elenora, bahkan beberapa kali tangannya sudah terulur, untuk mengetuk pintu kamar itu.
Rasanya James ingin sekali berpamitan langsung pada Elenora, karena jujur saja, James juga merasa tidak rela jika harus berpisah dari Elenora secepat ini, sedangkan dia begitu menikmati kebersamaannya bersama Elenora beberapa waktu ini.
Tapi setelah memikirkan bahwa Elenora mungkin sudah tertidur lelap setelah tadi sempat dilihatnya beberapa kali Elenora menguap sebelum masuk ke area apartemen, James memilih untuk kembali ke kamarnya, dan berpikir untuk menuliskan surat untuk Elenora.
Bagi orang lain, mungkin menuliskan surat seperti yang dilakukan James sungguh terlihat kuno, tapi bagi Elenora, itu terlihat sangat manis.
Dengan senyum terkulum di bibirnya, Elenora melipat dengan rapi kertas berisikan tulisan tangan James itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya, yang tergeletak di kursi yang ada di sampingnya.
Setelah itu, dengan raut wajah terlihat bahagia, Elenora mulai menikmati makan paginya hari ini.
# # # # # # #
Kehadiran Elenora ke kantor dengan mobil baru, meskipun bukan mobil mewah, tapi tergolong mobil dengan harga di atas rata-rata, membuat para pegawai sedikit heboh.
Apalagi sejak kemarin, cara berpakaian Elenora pun mengalami perubahan yang cukup drastis, dan menarik perhatian sekaligus pembicaraan bagi pegawai lain.
Beberapa dari mereka bahkan mulai berpikir dan berangan-angan tidak jelas tentang hal itu.
Sedang Audrey yang dari awal sudah bisa merasakan bahwa antara James dan Elenora memiliki hubungan khusus yang tidak biasa, meskipun dia tidak ikut berbicara, tapi dia merasa maklum kenapa Elenora bisa mendapatkan hal-hal baik itu dengan cara cepat dan tiba-tiba.
"Mobil baru ya?" Dodi yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung menyapa Elenora sambil tersenyum.
"Eh... iya." Dengan ragu Elenora menjawab pertanyaan Dodi.
"Wah... berapa lama itu persiapan menabungnya? Sepertinya aku harus mengikuti cara yang kamu pakai agar bisa secepatnya mendapatkan mobil seperti itu."
"Itu bukan mobilku kok. Bukan aku yang membelinya. Dengan gajiku sekarang dan aku juga baru bekerja, mana mungkin aku bisa membeli mobil seperti itu?" Dengan cepat Elenora menanggapi perkataan Dodi, berharap Dodi tidak melanjutkan pertanyaannya tentang mobil itu.